Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 44


__ADS_3

Pembicaraan para tangkla di sampaikan pada Sadewa. Semula sang raja tidak menyangka para tangkla yang baru saja di lantiknya ternyata sama pembangkangnya dengan tangkla penguasa api jin pertama. Tapi dia telah keliru, alih-alih menyatukan kekuatan negeri yang damai. Dia tidak menyangka para tangkla masih memperdebatkan anaknya.


“Hormat yang mulia, anggaplah engkau adalah seorang musafir di negeri jin. Kehadiran mu bersama langit yang tiba-tiba menduduki tahta seolah melangkahi sang ratu. Atau seumpama engkau membiarkan para pemimpin jin dari negeri lain menganggap sang ratu mandul, tidak bisa menghasilkan keturunan”


“Ucapan mu terlalu kasar Bara. Ingatlah siapa yang di hadapan mu”


“Maafkan hamba raja, mohon pertimbangkan lagi. Semua demi kebaikan ratu dan langit.”


Pada malam yang panjang ini, sang raja di sodorkan Bara sebotol arak. Dia terpaksa meminta sang raja untuk menabur sihir sehingga di hadapannya sang ratu Winan terlihat seperti Alas pati. Raja yang hampir hilang kesadaran itu di giring kedua patinya masuk ke dalam kamar kebesaran. Melihat sang ratu sudah menangkap tubuhnya.


Para pengawal meminta ijin meninggalkan kebesaran. Langit di gendong para tangkla di ajak bermain-main bersama si elang raksasa. Mereka tau resiko yang di di terima, menghadapi kemarahan sang ratu jika terjadi sesuatu pada anak yang sangat dia sayangi itu. Rencana Bara tampak berhasil, cahaya dari luar jendela meredup padam. Tanda lilin sudah di hembus oleh sang raja.


Pada malam itu raja melihat kehadiran Alas pati, istri yang sangat dia cintai. Dalam keadaan mabuk, sang raja tersenyum bahagia bisa bertemu dengannya. Dia membelai Alas pati lembut mencurahkan segala rasa cinta di dalam penat hari yang dia jalani.


Berkali-kali sang raja memanggil Alas pati, Di balik selimut sang ratu menepikan air matanya. Harapan besar sang raja dalam keadaan sadar bersamanya.


“Aku tau cinta mu hanya untuk istri pertama mu yang telah tiada. Duhai raja Sadewa yang sangat ku cinta” gumam sang ratu.


Langit merasakan udara dingin mulai membekukan tubuhnya. Kondisi badannya melemah, tangka angin menangkapnya yang terjatuh dari ketinggian di atas langit malam. Sementara sosok yang bertentangan pada tubuh Batara muncul mengganggunya. Era tempo dulu, kelahiran sang raja ketika terjadi gerhana matahari. Sadewa mengerang, bola mata melotot membanting apapun yang ada di hadapannya.


Ratu Winan mengusap wajah sang raja, perlahan Sadewa melirik ke kanan dan kiri. Dia melihat dirinya dan Winan, pandangan terdiam dan tertegun.


“Maafkan hamba yang mulia ratu. Hamba telah melakukan sesuatu di luar kendali hamba.”


Sadewa membungkuk tidak berani melihat Winan. Dia segera mengenakan pakaiannya. Sang raja samar mengingat tadi malam sosok bersamanya adalah Alas pati.

__ADS_1


“Wahai raja ku, apa yang sedang engkau ucapkan? Engkau raja gurun dan saya ratu gurun, apa yang harus engkau takut kan begitu?”


“Hamba tidak ingin raja firaun marah kepada saya yang mulia.”


“Raja yang kejam bersifat pembunuh itu telah tiada. Sebagian para pengikutnya ikut tewas. Dia mencoba menentang kehendak alam. Memang benar jin bisa melakukan moksa atau hidup kembali. Tapi, sang raja telah menganggap dirinya penguasa, pencipta seluruh makhluk di bumi.”


“Ratu.. aku” Sadewa menunduk menghentikan perkataannya.


......................


Kekacauan di tanah Kartanegara terbilang surut bertahan beberapa hari setelah sang raja berhasil menutup pintu ghaib. Tidak dengan sambungan kekacauan hari ini, Albet dan sekte hitam menyusun rencana yang memusingkan para pembesar kerjaan.


Raja sedang melakukan meditasi, Panglima di depan pintu istana berjaga, dia terbang turun dari tembok raksasa. Para rakyat membawa jasad-jasad lalu meletakkannya di depan istana.


“Panglima tolong kami. Tiba-tiba saja wabah penyakit menular ini terasa seperti membakar rahang menjalar masuk ke dalam perut. Argghh!”


Tabib Sicin di bantu tabib istana lainnya mendirikan tenda-tenda serta posko pengobatan. Dom dan Taga yang berjaga bergantian di kediaman gupta maupun istana selagi sang raja berada di negeri jin terlihat sibuk mengangkat rakyat yang sakit. Taga berbeda dengan Dom, sosok Dom yang sudah berubah menjadi jin dan keluar masuk di perut bumi itu membingungkan dirinya.


Dia tidak melihat bayangan Dom, pada malam bulan purnama darah ini Dom memperlihatkan ekornya yang panjang. Terdapat gigi taring yang menjuntai dia tutupi dengan jubahnya.


“Bagaimana rasanya beralih jadi bangsa jin? Mana yang lebih baik, manusia atau jin?” tanya Taga.


“Wahai panglima, aku tidak tau mana yang baik atau yang terbaik diantara keduanya. Tapi setidaknya engkau bertanya peran mana yang lebih bahagia kedudukannya. Pastilah aku menjawab manusia” jawab Taga menahan air liur yang menetes haus akan darah.


“Coba engkau sampaikan detail pada ku. Bukan kah manusia itu bersifat lemah. Kini daya tahan mu lebih kuat dari pada aku di medan tempur”

__ADS_1


“Taga, lihatlah rupa jin dan manusia. Sebaik atau sejahat apapun bangsa jin tidak bisa memungkiri taring atau wujud aneh yang dia miliki.”


“Dom, setidaknya ajak aku ke negeri jin tempat sang Adipati bertahta.”


“Kalau aku jadi kau, aku berjaga jarak mengurus negeri jin. Disana kerusuhan lebih dominan terjadi, sihir-sihir ganas hingga rasa dahaga meneguk darah segar. Pergilah Taga, sebentar lagi bulan purnama akan berada di titik tertinggi. Aku belum bisa mengendalikan hawa meminum darah.”


Dari atas langit tanpa dia duga muncul burung elang raksasa terbang membawa langit. Tangan kecilnya yang kuat itu menarik tubuh Taga. Mereka terbang setinggi-tingginya. Langit membawa Taga masuk ke dalam perut bumi. Lapisan kerak bumi hawa panas seakan membakar tubuhnya. Taga memeluk elang, dia tidak sengaja menarik salah satu bulunya.


“Paman jangan tarik bulu elang ku atau kita akan terjatuh! Arghh!”


Benda berbentuk ular yang melingkar langit berubah wujud menjadi ular raksasa. Ratu ular di dalam mustika hijau itu menangkap ketiganya dengan ekornya yang besar.


“Terimakasih bibi ular hijau, aku pikir engkau akan menghabisi elang kesayangan ku” ucap langit mengusap kepala ular raksasa.


“Aku hanya menjalan kan tugas ku pangeran kecil. Elang mu itu masih merasakan luka dalam, engkau tidak boleh membawa terbang untuk sementara waktu.”


Ular itu berubah wujud kembali melingkar di lengan kiri langit. Anak yang baru saja mengalami demam tinggi itu cepat sekali sembuh. Dia meminta tolong pada para tangkla agar membantu mengobati elangnya. Tapi kelihatannya para tangkla sibuk membawa beberapa bungkusan besar yang mereka masukkan ke dalam peti emas.


“Paman Bara dan lainnya mau kemana? Kok langit nggak di ajak sih! Eh sini paman biar langit saja yang angkat”


“Kami semua mau melihat paman Mahmeru. Oh ya, tgas langit bukan untuk membantu pekerjaan orang dewasa. Anak seusia langit seharusnya masa asik bermain. Nanti kalau kamu sudah tubuh dewasa maka paman akan menurunkan semua ilmu yang paman miliki pada mu.”


“Apakah paman Mahmeru tinggal di alam manusia?” tanya langit yang masih penasaran.


Bara hanya menggeleng kepala sembari tersenyum melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2