Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 22


__ADS_3

Segala yang telah di miliki hasil dari rampasan tidak akan bertahan bahkan menjadi bumerang di hidupnya. Pada hari ini, tepat di masa periode kedua raja Diraga, kerajaan itu runtuh menyisakan puing-puing reruntuhan di atas tanah sarang laba. Dia tidak menyangka masa kejayaannya telah sirna. Zaman prasejarah menulis namanya sebagai musuh penghianat kerajaan Kartanegara.


Penegak kedua zaman masa kepemerintahan raja Yetno.


Bumi kerajaan makmur di bawah kepemimpinannya, meskipun setelah kemenangan memperbutkan kembali tanah pusaka dan jajahan. Sang raja tetap memegang teguh janjinya kepada pamannya Alas Dayan. Membagi dua tanah kekuasaan, sang raja tidak mau merasa tanah kekuasaannya berkurang bahkan dia menegakkan kebebasan pada para punggawa dan abdi dalem kerajaan Ronggo jagad leluasa keluar masuk istana dan terjun di dalam dunia kementrian.


Jadi para abdi dalem merasa sepenuhnya mengemban tugas di dua negara. Meski banyak para perdana menteri merasa para abdi dalem Ronggo jagad setiap hari selalu ikut campur bahkan di dalam urusan terdalam maupun rahasia negeri.


“Yang mulia, kali ini aku tidak setuju jika mereka mengetahui seluk beluk strategi peperangan dan jual beli hasil kekayaan bumi di negeri Karta negara. Mereka juga tidak berhak memerintahkan para peracik ramuan sihir” sanggah pangeran Angka.


“Raja, saya juga setuju dengan apa yang di katakan beliau. Sebuah negeri yang aman, makmur dan sejahtera harus memiliki sebuah rahasia sebagai penegak di samping mencegah lawan mengetahui kelemahan kita” ucap Sadewa.


Sang raja mengusap dagunya, dia berpikir ulang mengingat kebaikan Ronggo jagad kepadanya. Dia dan para pengikut setianya pernah mendapatkan perlindungan sampai pada bantuan mengambil kembali tanah Kartanegara. Sang raja berpikir ulang sekali lagi, dia tetap berusaha memutuskan yang terbaik untuk Kartanegara. Gulungan peta rahasia di simpan kembali oleh sang raja. Dia menyidik sendiri siapa-siapa yang berniat berkhianat pada negaranya.


“Aku menugaskan Sadewa dan pengawal mengusut perompak yang menyerang dataran tinggi. Para abdi dalem Ronggo Jagad ikut serta di dalamnya. Diantaranya adalah pengawal inti Akani dan gusti Tatana. Aku serahkan tanggung jawab ini sepenuhnya pada kalian.”


“Perintah ini akan kami laksanakan yang mulia” jawab mereka.


Membagi tugas berpencar di setiap perbatasan. Sang pendekar melihat gerakan gerombolana Manusia tengkorak beserta pasukannya mendirikan sebuah barak tenda di sebuah wilayah dekat benteng bagian Tenggara. Sadewa masih berpikir ulang mengapa nyi merah bisa hidup kembali. Tubuhnya sudah hancur lebur bersama tulang belulangnya.

__ADS_1


“Sihir apa yang membangkitkannya? aku yakin dia bukan manusia seutuhnya” gumam Sadewa.


Sadewa yang sedang berdiri di atas pohon di hampiri Alas pati. Dia melihat apa yang sedang di amati olehnya. Tangan Sadewa mengayun membentuk sebuah gumpalan air menghujani barak tenda si manusia tengkorak. Hujan es yang memadamkan api yang menyala mengelilingi salah satu tenda itu. Di dalam sana terdengar suara teriakan kesakitan Nyi merah.


Sadewa menggunakan sihir suwung laduni, Di dalam jiwa nyi merah telah di aliri sihir yang berasal dari imu hitam. Berpikir siapa yang bisa meracik sihir di samping Adika telah dia habisi, tubuhnya juga mungkin sudah patah dan hancur terjatuh dari ketinggian.


Dia mengeluarkan semua benda-benda yang berhubungan dengan benda berharga hasil rampasan. Menggunakan elemen tanah, harta yang di curi para perompak anggota si manusia tengkorak di kembalikan Sadewa ke asalnya. Manusia tengkorak dan nyi merah keluar dari tenda, wajah marah melihat Sadewa dalang kekacauan di baraknya.


“Beraninya kau Sadewa! Rasakan jurus ku! Hiaa!”


Si manusia tengkorak menggunakan kekuatan ganasnya, dia menyerang Sadewa di sisi lain tenaga dalam Sadewa terkuras setelahbanyak menggunakan ilmu sihirnya. Nyi merah, mendapat kekuatan ilmu sihir hitam dari pertapaan iblis dia menghalangi Alas pati menyerang sosok pendekar penjaga perbukitan pancer di belakang ada Ki Dermo dari balik gua membantu menjaga pondasi Alas pati dari serangan ilmu sihir iblis. Begitu pula kilauan cahaya tusuk konde dari penjaga suci gua penyihir yang menyinari akar pohon cahaya memberikan kekuatan benteng pertahanan diri padanya.


Kini di amelawan nyi merah, Sadewa menghalangi segala serangan senjata manusia tengkorak. Pedang senjata peonix terakhir menebas menumbangkan pepohonan. Manusia tengkorak menggunakan seluruh kekuatan tenaga dalamnya dia memecahkan senjatanya sendiri agar bisa menarik senjata Sadewa.


“Ahahah! Akhirnya aku bisa mendapatkan senjata ini!”


Manusia tengkorak mengayunkan angin membelah udara memanaskan sihir hitam. Sadewa menarik tangan Alas pati pergi. Senjatanya telah di rebut, Sadewa memutar badan menuju ke tempat sekutu si manusia tengkorak.


“Alas pati, engkau jangan ikut dengan ku. Aku akan merebut senjata ku, mengeluarkan jurus empat elemen secara sekaligus akan menyerap kekuatan di sekitarnya.”

__ADS_1


“Kanda engkau harus berjanji akan selamat dari si manusia tengkorak ganas itu. AKu akan menunggu disini sampai engkau kembali” kata Alas pati.


Sadewa mengeluarkan memecah seluruh kekuatannya mengeluarkan empat elemen bumi. Kekuatan alam menjadi tidak stabil sehingga bumi terguncang sangat keras. Orang-orang di sekitarnya berhamburan. Diantara emoat elemen itu yang paling terasa adalah elemen tanah.


“Ternyata kau masih berani melawan ku! Rasakan kekuatan senjata mu sendiri, hiya!”


Manusia tengkorak mengeluarkan sihir pedang yang ada di dalamnya, arwah burung peonix. Kekuatan terbesar memercikkan api membara melebur menghilangkan ilmu sihir lenggo geni. Sadewa mencoba menggunakan ilmu gerakan bela diri yang pernah di ajarkan Sahwana.


Kekuatan senjata pamungkas peonix lebih besar mengalahkan semua ilmu yang di keluarkan sang pendekar. Sadewa hampir tertelan padai pasirnya sendiri. Pedang menggumpal kekuatan sihir bungkusan hitam. Kepalanya akan tertebas, ada tangan yang menarik kaki Sadewa ke dalam tanah. Manusia tengkorak tidak melihat Sadewa dimanapun.


“Bagaimana keadaannya?”


“Pria itu masih belum sadar yang mulia ratu” ucap tangkla abdi abdi dalem.


“Ruti, berikan dia ramuan penyembuh. Luka dalamnya bisa menghentikan detak jantungnya.”


Tabib istana gurun memberikan ramuan sihir, dia meneteskan ke dalam bibirnya. Menggunakan kekuatan sihir, sang tabib gurun menyalurkan kekuatan ilmu gurun pasir menyembuhkan penyakitnya. Sadewa terbatuk, dia merasakan tubuhnya sangat panas. Dia membuka mata, Sadewa meliha seorang pria memakai baju putih mirip seperti tabib peracik ilmu sihir di sampingnya. Seorang wanita yang memakai baju emas ada mahkota ular di kepalanya.


“Siapa kau? aku dimana?”

__ADS_1


“Tuan jangan banyak bergerak, obat di dalam tubuh mu belum menyebar ke sel darah” kata salah satu wanita yang memakai celemek besar di pinggangnya.


__ADS_2