
Menduduki posisi tahta yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Seza berdiri tepat di singgahsana, mahkota peri serbuk bunga terpasang di atas kepala. Seluruh jin peri yang tinggal di negeri peri cahaya menunduk hormat padanya. Di situ Seza tidak pernah melupakan pihak-pihak yang pernah berjasa di dalam hidupnya. Salah satunya adalah ketua peri pura yang benar-benar bisa menyembuhkannya.
Batara ikut menyaksikan pengangkatan ratunya itu. Kini kerajaan Kartanegara dan peri bersatu membangun benteng terkuat. Dia mengangkat peri bersayap coklat Melya menjadi panglima perang utama. Sosok peri yang pernah menyelamatkannya dari pengejaran iblis peri Mekar di dalam gua mendapatkan anugrah hadiah atas kebaikan yang dia berikan.
Perlahan lapisan sihir hitam di netralisir ulang dengan air hujan serbuk bunga putik. Kerajaan negeri peri baru menapak awal dari pertempuran hebat. Para peri yang terkena ilmu hitam belum semua di tangkap. Banyak yang masih berkeliaran di dalam negeri itu.
“Wahai para peri ku, dengan berdirinya aku disini belum tentu aku bisa tenang duduk hanya memerintah di bawah para perangkat peri yang menjalankan tugasnya. Aku justru ingin kita semua bergotong-royong agar menyelesaikan kekacauan di negeri ini. Aku mohon kalian tidak kenal lelah dan tetap berjuang membangun negeri yang aman dan makmur”
Pidato sang menyampaikan keinginannya itu di sambut baik oleh seluruh peri. Setiap malam kini negeri peri tidak lagi gelap gulita. Kepakan sayap peri juga lebih terang mendapatkan serbuk bunga cahaya dari setiap kelopak bunga yang tumbuh.
Di sebuah hutan terpencil yang jauh dari pengawasan para peri, sebuah perkumpulan peri kegelapan bersembunyi menunggu kedatangan ketua sekte hitam.Terowingan panjang dari dalam akar hitam yang sudah terkena sihir itu menjadi jalan para pemberontak musuh. Sayap peri hitam kehausan tidak sabar menikmati darah yang biasanya dia dapat dari ratu iblis peri Mekar. Mereka mengendap-endap menangkap sosok peri yang berpatroli masuk ke dalam sarang.
“Arggh! Lepaskan aku!”
Melihat mangsa yang sudah masuk ke dalam perangkap. Mereka berebutan melahap daging dan darahnya. Sisa sayapnya di lebur ke dalam air yang mendidih. Arwah peri yang melayang terbang ke atas langit. Seza merasakan ada sesuatu yang tidak beres di arah bagian hutan. Di depan Altar peri, Seza dan Batara memikirkan nasib dua kerajaan itu. Mereka harus melepaskan salah satunya. Dua alam yang berbeda di dalam wujudnya yang setengah jin dan manusia. Batara mengalami dilemma besar jika harus meninggalkan perut bumi.
“Wahai raja ku, aku akan akan tetap setia disini. Engkau tidak perlu khawatir, kerajaan ini selamanya milik kita berdua” ucap sang ratu Seza.
“Maafkan hamba yang mulia. Hamba mendengar pergerakan musuh di wilayah hutan terlarang.”
__ADS_1
“Aku sudah merasakannya panglima. Aku akan segera menyusul kalian.”
“Baik yang mulia.”
“Biar aku saja yang menghadapi mereka. Ratu, engkau baru saja sembuh.”
“Tidak raja, aku adalah ratu pemimpin peri. Aku tidak mungkin berpaku tangan melihat semua kekacauan ini.”
Sayap peri raksasa itu mengepak di udara, Batara mengikuti menaiki kuda jin. Beberapa para peri hitam menyerang menggunakan sihir dari iblis mata satu. Sihir hitam yang besar sebagian sirna. Sosok iblis peri mekar berpikir bisa menguasai negeri peri kembali. Dia menggunakan bala bantuan menyerang negeri itu.
Peri langsa dan ketua pura peri cahaya keluar menyatukan kekuatan membanting seluruh hal sihir hitam. Tidak terkecuali Banyuwangi yang baru saja tiba ikut terluka akibat kekuatan besar penyatuan para peri cahaya dan peri pura tersebut. Peri rokam mengeluarkan cahaya kilauan seluruh keseimbangan kekuatan peri membungkus negeri dengan sinar teriknya.
Setelah kemilau cahaya yang menarik pandangan memudar. Negeri itu menghilang dari pandangan. “Kemana perginya ratu Seza dan negeri nya?” tanya Batara.
Dia menggunakan kekuatannya mencari jejak ratunya yang pergi. “Raja, aku akan selalu ada di hati mu meski engkau tidak bisa melihat dimana aku berada. Seperti ini adalah hal terbaik agar negeri peri cahaya tetap suci di dalam perut bumi. Setitik tinta hitam sihir kegelapan tidak bisa menyentuhnya.”
Suara ratu Seza menghilang menerbangkan serbuk bunga cahaya. Batara menekuk lutut, dia tidak menyangka akan berpisah dengan permaisurinya.
“Maafkan aku raja Batara. Siapapun peri yang tinggal di pura suci akan kembali menjadi bidadari ratunya peri terindah. Negeri itu akan terbawa hingga sepanjang zaman tidak bisa di ganggu lagi oleh iblis” ucap ketua peri pohon cahaya.
__ADS_1
Batara kelua dari perut bumi. Kerajaan dan rakyatnya telah menunggunya. Di dalam benak, siapa lagi yang dia miliki? Anaknya menghilang di alam yang tidak tau dimana dia berada sedangkan istrinya pergi meninggalkannya. Rencana pergi ke perut bumi untuk mengadakan penobatan di istana gurun pasir dia urungkan.
Di dalam sinar putih yang terbungkus indah itu terlintas di bayangan Seza kebersamaan dengan sang raja. Sepenuh hatinya belum bisa melepaskan urusan kehidupannya yang lain. Ketua pura cahaya melihat raut wajah sedihnya itu.
“Ratu harus bisa melupakan raja dan penduduk negeri Kartanegara. Sebagai ratu tertinggi pemimpin peri cahaya putih, tugas ratu tidak akan bisa terlaksana jika masih terbebani dengan urusan kehidupan yang lain.”
“Tapi ketua pura, anak ku yang lahir dari kelopak bunga sari menghilang bahkan aku juga tidak merasa sedang mengandung. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan mereka?”
“Ananda peri kecil pasti baik-baik saja. Suatu saat setelah berhasil menjalankan tugas maka ratu akan mendapatkan semua jawabannya.”
Istana gurun pasir geger mendengar kabar pelenyapan negeri peri.
Tidak seperti di pikirkan sang ratu Winan, Dia yang terkejut bergerak mencari tongkat Firaun mencari dimana negeri itu berada. Kekhawatirannya jika sang raja Sadewa sebagai panglima perang akan ikut mencari di alam antah berantah, Winan mengumpulkan kekuatannya mengutus siluman ular hijau raksasa mencari peri Seza.
“Hentikan ratu ku, perintahkan sanca hijau kembali” ucap Sadewa yang baru saja tiba.
Winan mengikuti perkataannya, dia menyimpan tongkat Fir’aun ke dalam dasar bumi. Seolah benda yang tidak semestinya hadir itu menjadi panggilan batin Winan menggunakannya. Sosok jin yang tidak lagi memuja kecantikan itu terlihat sedikit pucat dan keriput. Jin siluman abadi yang di kabarkan sepanjang jaman hanya bertumpu pada Fir’aun.
“Raja, aku tidak mau bernasib sama dengan Seza. Cepat raja, jangan terlalu lama jauh dari sisi ku! Hiks!”
__ADS_1
Winan memeluk erat Sadewa karena sangat takut berpisah.