
Masih lagi berlanjut rantai kematian. Negeri jin di kuasi iblis yang siap datang dati perut bumi, segitiga Bermuda maupun alam lain. Pembangkitan iblis di negeri jin tidak terlepas dari mantra hitam pemanggilan mantra sihir hitam.
Mega mendung di langit jin. Pertikaian yang tidak pernah damai, saling merebutkan kekuasaan. Adapun negeri jin yang enggan melayang kan perang berujung di serang panah api abadi.
“Maafkan hamba yang tidak bisa menjaga ayahanda dan negeri ini dengan baik” gumam Banyuwangi di depan lautan yang di jadi kan peristirahatan.
Bendungan pecah isak tangis di bawah guyuran air hujan. Winan berdiri beberapa meter darinya. Ada dua pengawal berdiri di belakangnya dan satu dayang yang memayungi. Sadewa menggendong langit, kehadirannya di lihat para prajurit jin air. Mereka memberi hormat hingga kaki mereka bergetar. Penguasa yang paling di takuti dari segala zaman. Bangsa jin negeri gurun, walau kepergian Fir’aun telah lama tetap saja para jin bertekuk lutut padanya.
Tidak bisa di pungkiri isi perjanjian salah satu tangkla air. Banyuwangi tidak akan berpaling pergi dari negeri yang telah menyelamatkannya.
Era ratusan tahun mengguncang istana air.
Musuh utama negeri jin air adalah negara api, mereka tidak henti menjajah memadamkan sinar rembulan. Berusaha mencuri roh yin dan yang, sekte api berhasil mencuri salah satu roh sumber kehidupan menggelapkan seluruh alam jin.
Penyelamatan negeri mengemban dua roh penyeimbang bumi. Fir’aun mengambil kembali menyelamatkan negeri air. Masa kejayaan Argo tidak bisa di anggap remeh.
Kali ini Argo memenangkan kehendaknya. Membunuh, merampas sampai menjajah. Kekejaman negara api menjadi kekhawatiran negeri jin lainnya. Winan keluar dari batas payung, sang raja mengeluarkan kekuatan membekukan hujan di sekitar Banyuwangi. Sementara niat sang ratu kini adalah meyakinkannya agar segera di lantik sebagai pewaris pemimpin negeri.
Sedih, duka, warna hidup. Rotasi bumi terus berputar pada porosnya, kepergian tidak akan menghentikan waktu. Alam lapisan yang membentang, nyawa yang masih di genggam maupun pergi menghilang memperlihatkan segala yang ada di bumi manapun tidak lah abadi.
Banyuwangi mendengar nasehat dari sang ratu, pelantikan tahta itu di komando oleh pemimpin gurun. Para penguasa air, anggota kebesaran, pengawal laksa, penjaga Tatan dan perwira memberi hormat pada pemimpin negeri yang baru.
Ratu Banyuwangi, para dayang menyemai kelopak serbuk sari. Di atas kursi kebesaran bekas sang ayahanda. Bekas kursi kebesaran, tangan Banyuwangi bergetar membayangkan raja air yang sangat menyayanginya itu.
“Ayah sudah tiada, aku harus bisa melindungi diri sendiri dan membentengi negeri” gumamnya.
Ratu Winan memberikan simbol kenegaraannya, dia juga menyematkan cincin ular ke salah satu jemari Banyuwangi.
__ADS_1
“Terimakasih wahai yang mulia ratu yang agung”
Pemandangan langka di negeri air
Banyuwangi berasal dari negeri manusia, dia menjelma menjadi jin air di kala pada saat kelahirannya di landa banjir bandang. Bayi yang selamat itu mengapung di atas sebuah daerah bagai lautan mayat. Sosok di dalamnya itu tidak lain adalah raja jin Argo yang menyelamatkannya. Di dalam darah sang bayi tersimpan darah jin yang dilahirkan manusia.
Penyematan ratu jin air telah pergi di ganti sosok wanita yang sangat sang raja cinta.
Pertukaran nyawa menyelamatkan anaknya, Udum tidak sabar bertemu si ibu yang melahir Banyuwangi di alam sana.
“Ayah! Ayah!” panggilnya.
Peran kehadirannya tidak bisa terlepas dari ingatan. Kerajaan yang kembali di bangun tidak terlepas dari bantuan-demi bantuan sang ratu. Para perangkat istana, pengikut ratu gurun melihat peran sang ratu semakin dermawan. Kerjasama, persatuan membantu negeri tetangga menimbulkan serikat dagang dan kesejahteraan seluruh rakyat.
“Ratu ku, engkau sekarang pasti terkenal sebagai ratu yang dermawan” canda sang raja.
“Jangan engkau terlalu berlebihan mencemburui ku. Bagaimana lagi jika sang pencipta mengambil aku terlebih dahulu dari mu? sebagai tanda rasa sayang dan keyakinan segala yang ada di bumi tiada abadi.”
“Sungguh raja, ucapan mu itu mengganggu pikiran ku.”
Di dalam barak perang, halaman istana dan setiap pelatihan militer. Langit selalu memantau aktivitas kegiatan berbagai ilmu yang di keluarkan oleh para prajurit maupun penguasa. Di atas langit terbang mengudara bersama elang raksasa kesayangannya, kali ini rute perjalanan menuju daerah pasar rakyat.
Para rakyat yang melihat elang raksasa yang mengudara berpikir hewan kesayangan putra raja itu makan daging yang melebihi beberapa kilo daging setiap harinya.
“Tuan besar!”
“Putra mahkota!”
__ADS_1
Sorak ramai teriakan para rakyat.
Brukk_ Dubragghh__
Para penguasa berkumpul di ruangan militer. Mereka was-was mendengar kabar rakyat menyuarakan kata sang putra mahkota.
“Negeri jin boleh di huni manusia pilihan. Bukan berarti bisa berkuasa menggantikan kedudukan asli penghuni alam sebenarnya!” bentak penguasa api.
“Engkau tidak seharusnya disini, aku saja menjadi incaran amarah tangkla air. Apakah engkau dan Argo belum puas mencari gara-gara. Hah?”
“Engkau pun sama Bara, tangkla api yang menduduki kedudukan jin penguasa api asli” ucap sang juru bicara.
“Kita jangan memperkeruh suasana ini, semua keputusan berasal dari sang ratu. Kita juga tidak bisa menentang keputusannya. Apalagi engkau selayang trokat, almarhum raja fir’aun telah memberikan mu tanggung jawab yang besar menjadi pengikut setia sang ratu.”
Tangkla tanah yang menjadi penengah itu di lempar pandangan mata sinis. Tidak ada yang dapat memecahkan masalahnya.
Mengilas balik pesta rakyat
Para penduduk negeri jin mengenal Langit dari penampakan dirinya yang terbang mengitari seluruh langit jin. Penerimaan anak manusia yang belum diketahui jin asal usulnya itu berpikir bahwa langit adalah titisan dari Fir’aun. Kabar lain menyebutkan langit berhasil melumpuhkan serangan pemimpin api jin Argo. Hal itu menguatkan bahwa langit memiliki ilmu yang sangat sakti seperti rajanya terdahulu.
Di atas latar raksana istana bagian puncak. Winan menarik salah satu lentera yang terbang , dia berharap agar sang raja mencintainya melebihi cintanya pada Alas pati.
Elang raksasa mengepakkan sayap menuju negara jin bagian Barat. Di depan benteng perbatasan, hujan api menyerbu elang yang membawa Langit. Dari dalam tubuh langit mengeluarkan api biru. Dalam beberapa detik para prajurit terbakar api kematian. Melihat negeri itu tidak menyukainya, dia mengarahkan elang berbalik arah meninggalkan negeri api.
“Terus panah dan lemparkan rudal sihir hitam ke anak manusia sialan itu!” bentak dedemit merah.
Raja selat kalimun mengerang, dia mengepalkan tangan. Menggunakan kekuatan merubah diri menjadi bola api terbang mencari langit yang masih di sekitar negeri api. Pukulan menghantam mengenai kaki Garuda. Mereka terjatuh di tangkap sang raja Argo dengan kurungan rantai besi. Sedikit saja kulit maupun sayap kedua, maka rantai yang sangat panas itu membakar menghanguskannya.
__ADS_1