Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 33


__ADS_3

“Maafkan aku Alas pati, aku telah merebut suami mu” gumam tau Winan.


Dia merasa sangat berdosa padanya, sang ratu tidak menyangka dirinya akan berurusan dengan manusia. Menuruti keinginan Alas pati tidak menutup keharusan dia membawa langit peonix ke istananya. Harum aroma darah manusia merambat di dunia bangsa jin. Para jin merah dan iblis tinggal di dunia lapisan ketiga itu mengikuti letak manusia itu.


“Darah bayi segar! Haaahh!”


Tepat di depan gerbang istana gurun pasir para iblis dan jin berkumpul menggelak dengusan. Air liur menetes membayangkan kenikmatan meneguk darah manusia. Bangsa jin tidak berani masuk karena istana itu di jaga ketat para Tangkla. Hanya iblis yang berani menelusup menjelma menjadi berbagai bentuk.


Salah satu Tangka yang terdekat adalah Ruti. Melihat jin itu meninggalkan ruangan langit, dia berubah menjadi Ruti mendekati langit peonix. Sinyal kekuatan pelindung merasakan ada hawa lain yang menyentuh kekuatannya. Ratu Winan melempar kekuatannya. Seketika sosok iblis merah kembali ke wujud asli. Para tentara khusus mengpung sosok iblis yang berani masuk ke dalam ruangan kebesaran sang ratu.


Iblis menggunakan berbagai cara menipu, memperdaya, menyilapkan pandangan sehingga para tentara tidak berhasil menangkapnya. Keributan di gurun pasir masih berlanjut, sang ratu menitipkan langit peonix ke Ruti. Kali ini dia meletakkan gumpalan tiga tetesan darah jin ke mulutnya.


“Maafkan kan aku raja gurun, aku terpaksa melakukan hal nekad ini sebelum mendapat persetujuan dari mu..”


Sang ratu menaikkan tiupan di langit jin. Badai gurun pasir menggulung pusara melahap siapapun di sekeliling. Sang ratu meluluh lantakkan negeri jin, pasir menghalangi pandangan. Kerusuhan si pembuat onar mengakibatkan jin maupun iblis yang tidak andil di dalamnya terkena dampaknya. Para istana di siram hujan pasir. Ruti mengutus tangkla pendamping mengabarkan hal ini kepada Sadewa, dia berharap sang raja bisa meredakan amarah nya.


Selesai keluar dari panglang alun-alun bambu hijau, utusan Ruti memberitahu sambil menundukkan kepala. Sadewa segera berlari masuk ke dalam perut bumi. Dia menggunakan kekuatan elemen tanah mengendalikan pasir. Permintaan maaf sang ratu terpaksa memberikan darahnya pada langit peonix. Dengan darah itu, langit bisa di jauhkan dari bangsa iblis maupun jin yang mengganggu.


Ternyata kedatangan Sadewa melebur amarahnya.

__ADS_1


Sebab akibat dampak yang timbul, bola mata langit peonix berubah menjadi merah darah. Berpikir membawa langit kembali ke dunia manusia, Sadewa berpikir ulang karena dia tidak setiap saat berada di samping anaknya. Selain itu, pesan terakhir Alas pati mengingkan langit di rawat oleh Winan. Sudah menembus inti bumi. Bayi kecil itu termasuk manusia setengah jin yang abadi.


“Raja, aku sedang berpikir langit memiliki umur yang sangat panjang. Dia memiliki garis tanda peonix si penguasa ruh di keabadian.”


“Aku belum bisa sependapat dengan mu ratu gurun. Aku hanya berharap engkau tidak melakukan hal lain untuk negeri gurun dan langit."


“Ya, aku akan berusaha mencobanya.."


Dom masih menjadi pengawal sang raja yang setia, dia kini di tugaskan keluar masuk di dalam perut bumi maupun menjaga kediaman Gupta. Sesekali penjaga pendamping lain ikut andil mengawasi gerakan musuh yang akan mengganggu kediamannya. Surya yang tumbuh remaja bekerja menjadi pengawal di kerajaan Kartanegara. Dia mendengar pembicaraan pangeran Wicak yang memberikan pengumuman di panglang alun-alun bambu.


Pria yang sedang di mabuk cinta, melupakan tanggung jawab. Merasa anak dan keluarganya adalah beban.


Bahkan kini sang istri yang memberikan nasehat padanya di anggap musuh saja. Nasehat Nuraya tidak mempan, sang pangeran sudah terlanjur menggebu tidak sabar ingin menikahi Linatana. Biarpun wanita itu bukan Lintani melainkan Lintana saudara kembarnya, tetap saja tidak menghalangi hasrat Wicak yang ngotot agar para pengikutnya membawa Lintana ke wilayahnya.


“Kau jangan ikut campur Nuraya, aku lebih tau mana yang terbaik untuk kesepuhan kita!” sikap kasar Wicak sedikit lagi tangannya mengayun menamparnya.


“Kakang mau kemana?”


Panggilan istrinya tidak di anggap, dia menunggangi kuda menuju ke ruangan kebesaran. Di atas singgahsana sang raja masih mempertanyakan masalah para pemberontak yang mengatasnamanakan pangeran angka. Perlahan Wicak mengutarakan niatnya ingin mempersunting Lintana. Menghadirkan tabib Sicin sebagai saudara Lintana akan menjadi orang terpercaya di mata sang raja.

__ADS_1


“Saya sangat mengakui semua hal yang paman Wicak lakukan demi Kartanegara, tidak pernah saya tutupi peran paman salah satu pasukan di hari almarhum ayahanda berdiri di atas tahta. Sedari itu, pemberontakan paman Angka yang di katakana para punggawa sangatlah tidak masuk akal”


“Maaf yang mulia, saya mendengar sikap pangeran Angka yang berubah-ubah. Dia juga pergi ke kediaman orang tuanya tanpa persetujuan yang mulia.”


“Apa? Kenapa paman Angka tidak meminta ijin pada ku? Ini tidak bisa di biarkan, siapapun yang menentang Kartanegara, harus di basmi! Paman, saya berikan kekuasaan penuh atas kebenaran ini. Jika memang terbukti maka paman tangkap pemberontak itu!” perintah sang raja.


Pria busuk itu dari hari ke hari mencuci pikiran sang raja. Dia menggunakan titah. Meminta ijin menjalankan tugas, mata Wicak mengisyaratkan kekuasaan dan kemenangan sebentar lagi akan berpihak padanya.


“Di samping para prajuit di perbatasan lain yang mau menjadi sekutu ku akan aku berikan kekuasaan dan bagi siapa saja yang bisa menangkap Linata maka dia akan di beri kenaikan jabatan sebagai pengawal istana kedua sekaligus tangan kanan sang raja."


Keinginan yang menggiurkan, Surya menemui tabib Sicin menanyakan dimana Lintana berada. Membawa pasukan menangkap Lintana, Sadewa menutupi wajahnya dengan kain agar menyembunyikan identitasnya. Dia menghajar prajurit sampai babak belur. Setelah semua prajurit di perintahkan Surya kembali ke istana, tubuhnya pukul dari arah belakang. Pria yang tidak dia kenali itu menghajarnya habis-habisan. Sadewa membuka penutup kain, Surya terkejut di depannya terlihat sorot mata sang paman yang menunjukkan rasa marah.


“Apakah seperti ini didikan ku pada mu? menjadi seorang penghianat, mengorbankan orang lain demi kesenangan pribadi?”


“Paman, aku tau perbuatan paman ini karena paman takut aku akan mengambil alih kedudukan paman. Sebagai Adipati perang tertinggi pemimpin Kartanegara.“


Jawaban Surya menambah amarah di hatinya. Dia meninju wajahnya, pukulan dan hantaman. Sadewa tidak pernah melakukan kekerasan pada Surya meskipun dia sangat nakal. Tapi kali ini nampaknya perbuatan keponakannya di luar batas mencoreng namanya.


“Sorot mata mu itu sama seperti dahulu melawan ku. Memberikan ku racun. Kau bukan keponakan ku Surya yang aku kenal!”

__ADS_1


“Paman! Aku sudah besar dan berhak menentukan hidup ku”


“Baik, kalau kau tidak mendengar nasehat ku lagi maka mulai hari ini kau bukan lah keponakan ku! Sekarang mari kita bicara sebagai seorang pria dewasa. Kau sudah mempermalukan ku dan menggadai kan nama sebagai alas keinginan mu. Kau pilih mau tetap menjadi keponakan ku atau musuh ku..”


__ADS_2