
Tempat peristirahatan terakhir, Sadewa menabur bunga di makam Dewi Bahati. Baru saja dia kehilangan adik kandungnya Yuri, kini dia kehilangan Bahati. Sosok wanita yang pertama kali mengetuk pintu hatinya. Berpikir di hadapannya adalah Lintani, dia membawanya bersama Surya pulang ke diaman Gupta. Terkejut melihat wanita yang sama saat membuka pintu.
“Kenapa Lintani ada dua?” gumam Sadewa.
Mbok Rongya ikut terkejut, dia yakin wanita yang seharian dengannya itu adalah Lintani. Berpikir wanita lain yang mirip dengan Lintani itu adalah makhluk jadi-jadian atau jelmaan dari ilmu sihir maka si mbok menabur ramuan sihir milik Sadewa.
“Tidak berefek apapun. Siapa kau sebenarnya?” tanya si mbok.
“Yang mana Lintani? Kau siapa?” tanya Sadewa kebingungan.
Wanita itu mengatakan jika mereka adalah saudara kembar. Terpisah ketika berjuang membantu Sahwana, Lintana terlepas dari kematian setelah di beri tetesan ramuan sihir ajaib dari pria itu.
“Pak tua itu adalah pria yang hebat berjiwa pendekat sejati, mengapa tidak? Dia rela mengorbankan diri demi negaranya meski mendapat pengkhianatan dari pengawal raja yang ingin menguasai pedang dan ilmu sihirnya. Dia mengorbankan diri tidak kembali ke tanah air karena tidak mau memperkeruh suasana dan membuat penjajah berkuasa” ucap Lintani.
“Paman Sahwana, aku belum sempat membalas budi semua kebaikan mu pada ku!” batin Sadewa.
Kedua saudara yang sempat terpisah itu berpelukan saling mengeluarkan isi hati hingga menangis tersedu-sedu. Kesalahan terbesar Lintani menyebrang ke negara asing demi merubah nasib, dia malah mendapatkan takdir buruk bertemu Adika yang meniupkan sihir hitam menghancurkan hidupnya.
“Lusa aku ingin bertemu dengan kak Bahati, dia adalah wanita yang sangat baik. Aku banyak belajar tentang kehidupan darinya. Tampaknya ramuan yang di tinggalkan Yuri sangat berkhasiat di tubuh ku” ucap Lintani.
Sadewa berpikir bahwa Lintani akan berakhir seperti Bahati, dia meracik ramuan dan mencampurkan imu Lenggo geni ke dalam serbuk racikannya malah membuat tubuh Lintani tampak semakin menghitam. Pagi ini mereka mengurungkan niat pergi ke kediaman Bahati. Dia menepuk pelan pipinya sendiri yang semakin tirus.
__ADS_1
“Ada apa dengan ku?” gumam Lintani.
“Lintani, kulit mu hari ini terlihat hangus dan kering. Akan ke pasar mencari obat untuk mu”
“Tidak Lintana, aku hanya ingin tertidur. Rasa kantuk ini tidak bisa aku tahankan.”
Lintana menyentuh tubuh saudaranya yang dingin dan kasar. Sadewa memberi minum ramuan sihir yang dia ramu semalaman, tapi ramuan itu seolah tidak berarti di tubuhnya.
“Lintani jangan tinggalkan aku!” tangis saudara kembarnya.
Dia meminta Sadewa agar menjaga saudaranya itu seperti dia menjaga saudaranya sendiri. Mbok Rongya menyaksikan Sadewa banyak memikul beban berat akibat kejahatan Adika.
“Aku akan mengabulkan pesan terakhir mu Lintani” ucap Sadewa menutup matanya.
“Aku tidak bisa menahan mu dan mengatakan tidak mau menepati janji pada Lintani. Apapun keputusan mu aku akan menerimanya” kata Sadewa.
Keputusan Lintana sudah bulat akan kembali ke tanah airnya. Dia meraih pedang dan mengemasi kembali barang-barangnya. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang pia tua yang berpakaian compang camping. Dia memberikannya beberapa keping uang, tapi saat seorang pria memanggilnya dengan sebutan Adika. Darah Lintana mendidih membayangkan penderitaan saudara kembarnya akibat ulah pria itu.
“Jadi kau yang bernama Adika? Rasakan pembalasan ku! Hiya!”
Serangan berubi-tubi di layangkan, dia menumpahkan amarah hingga pedang di tangannya terangkat menusuk tubuhnya. Lintana mendorong tubuh Adika masuk ke jurang. Dia sangat puas telah membalaskan dendam. Setelah itu dia menunggu laju kapal yang akan meninggalkan dermaga.
__ADS_1
“Siang terik ini cuaca mendung sangat indah karena melihat wajah cantik dari wanita yang berdiri sendiri tepi pantai” ucap salah satu pria asing.
“Ayo sekalian kita jual saja dia ke negeri seberang! Ahaha”
Lima pria menyerbu Lintana, mereka menggunakan jurus silat terlihat senjata mereka terselubung sihir mengakibatkan dia terhempas masuk ke dalam air. Sadewa menggunakan elemen air mengangkat tubuhnya, wanita itu di angkat ke tepi pantai.
“Kau mau cari mati? Kami adalah para ninja dari negeri naga!”
Pertarungan sihir dalam suara pedang memercikkan nyala api. Sadewa menggunakan ke empat jurus elemen membanting sampai terpaksa membunuh kelima ninja yang ternyata adalah mata-mata negeri naga.
Dia kehilangan Lintana, tanpa dia ketahui seorang pria membawanya ke salah satu gua di dalam hutan. Sadewa menggunakan kekuatan mencari jejak wanita itu, dia berteriak memanggil nama Lintana. Mendengar suara orang yang sedang bertarung, Sadewa bersembunyi di atas pohon mendengar suara dua pria di dalam pertengkaran mereka.
“Wanita itu aku duluan yang mendapatkannya!”
“Aku yang akan menjualnya ke istana sarang laba!”
Sadewa perlahan mengikuti pria lainnya menuju ke sebuah gua, Dia menemukan Lintana pingsan, gerakan menghajar pria bertubuh gemuk yang akan menyentuh tubuh wanita itu. Pukulan, hantaman sampai dua pria lainnya menyerang.
Kekalahan ketiga pria itu di adukan ke senopati kerajaan Sarang laba. Manusia tengkorak mengerang meminta ijin pada raja Diraga agar pergi menyerbu kediaman Gupta.
“Aku akan menggunakan segenap kekuatan ku untuk membuka lapisan sihir pelindung kediaman Gupta dan menghabisi semua keluarganya termasuk Sadewa”
__ADS_1
“Simpan amarah mu wahai manusia tengkorak, kami masih membutuhkan tenaga mu untuk membentengi Sarang laba” kata sangat raja.