
Di depan halaman gerbang istana, para tangkla menunggu kedatangan sang raja. Di atas kuda jin mereka melihat sosok Dom membawa Taga yang sedang pingsan. Dia tertatih menggiring dua kuda menembus alam jin. Sosok pria yang tidak pernah menginjakkan kaki di perut bumi, menyadari kejadian yang pernah dia alami. Dia meminta pada sang ratu, namun dari depan istana terlihat wajahnya berseri-seri memperbaiki jubah kebesaran sang raja. Tatapan tiada henti, penampilan sang ratu di kala itu terkesan apa adanya.
Melihat keduanya menatapnya, dia memberi hormat membungkuk lalu berjalan membawa Taga.
“Hormat hamba yang mulia, Taga memaksa ingin ke perut bumi. Tubuhnya lemas sekali”
“Yang mulia, ijinkan hamba memberikan kekuatan padanya.”
“Ratu ku, kekuatan mu baru saja terkuras habis. Bagaimana bisa engkau memberikan seluruh kekuatan mu?”
“Engkau benar baginda raja, tapi Taga akan semakin lemah, menyelamatkan nyawanya dengan mengubah dirinya menjadi jin atau membiarkannya menjadi manusia tanpa di perbolehkan memiliki kekuatan apapun.”
Ratu Winan melemparkan salh satu ular dari atas mahkotanya. Taga berteriak kesakitan, para tangkla melihat perubahan pada manusia itu. Dia di bawa Dom ke salah satu ruangan khusus para panglima. Persiapan menuju ke alam manusia, sang raja meminta ijin memberi hormat pada sang ratu.
“Ayah aku ikut!” teriak langit di atas elang raksasa.
Kibasan angin di hentikan oleh rakum dengan kendali elemen tanah. Tanpa raja sadari, Winan meletakkan batu hitam di dalam kantung jubahnya. Dia memeluk langit, melihat anaknya berwajah masam. Sadewa turun dari kuda jin lalu mengusap kepalanya.
“Engkau harus menjaga ibu selagi ayah sedang pergi bertugas. Kesepakatan ini berlaku tanpa batas waktu yang di tentukan”
“Baiklah ayah..”
Sadewa mengangkat pedang, dia bersama para tangkla menunggangi kuda memasuki lorong keluar dari perut bumi. Mengenang jasa Mahmeru. Upacara pelepasan prajurit jin meninggalkan jasad Mahmeru yang telah berubah menjadi gunung. Moksa Mahmeru menandakan batu bersinar di dalam kantung san raja, dia baru mengetahui ternyata Winan mempersiapkan segalanya sebelum keberangkatannya.
Upara pelepasan Mahmeru di pimpin raja di ikuti para tangkla. Ruti yang baru saja hadir mengawal raja Batara dan para prajuritnya, langsung memasuki kawasan upara. Pedang yang di angkat ke atas langit, harapan Mahmeru segera berpindah bereinkarnasi kembali.
......................
Para dayang jin membicarakan sang ratu dan raja yang mulai tampak dekat. Dayang tertua tersenyum lega, dia mulai meracik ramuan khusus untuk sang ratu. Ketenangan para perangkat istana tidak memungkiri kedatangan sang raja membawa sistem kepemerintahan baru. Mereka terlepas dari kekejaman sang ratu yang selalu menindas bahkan mempekerjakan secara paksa tanpa ada waktu jeda.
Sang ratu sudah berpesan, raja dari muka bumi akan datang ke negeri gurun. Persiapan matang, ketua dayang di bantu petugas lainnya membentang kain hijau, bunga-bunga segar yang di petik di bawah Ruti, hidangan khas negeri gurun dan pertunjukan tari-tarian di iringi musik tabu gendang menggema di udara.
Hari ini tidak hanya perkumpulan tamu yang di undang. Tamu yang tidak di undang turut hadir terlebih dahulu dengan iring-iringan kuda jin berdiri di depan gerbang istana. Ruti menyambut baik kedatangan raja api itu. Dia memerintahkan kepada para penjaga gerbang supaya segera membuka pintu. Merek duduk di depan halaman istana. Sang raja memasang wajah ketat, air muka merah seolah menahan amarah yang meluap ditahannya.
“Hormat Hamba yang mulia raja jin penguasa negeri api Selat Kalimun.”
“Kedatangan ku kesini bukan untuk berjalan-jalan di negeri gurun ini. Aku ingin menanyakan mengenai tangkla jin api.”
__ADS_1
“Ampun raja, hamba kan mengabarkan hal ini pada raja Gurun. Beliau bersama para tangkla pergi ke alam manusia.”
“Hahahah, urusan apa yang mendasari hingga raja harus menjadi keset manusia?”
“Apa maksud mu raja Argo? Apakah kedatangan mu kesini untuk menghina suami ku?”
“Ehemm, ratu gurun. Maafkan aku, ehem. Kecantikan mu tidak pernah luntur berkurang sedikitpun hingga berabad-abad. Apakah raja mu lebih tampan dari ku ? sehingga engkau menolak ku mentah-mentah. Oh ya, aku mendengar raja mu hanya seorang manusia.”
“Tutup mulut mu raja yang sombong. Apa mau mu datang kesini?”
“Ratu, jangan marah dulu. Pertanyaan ringan ku ini pasti sangat menyulitkan mu sehingga engkau tidak menyukainya. Aku ingin memberikan penawaran pada mu. Aku akan meminta mu pada manusia itu secara jantan. Besok aku akan hadir beradu kekuatan dengannya. Ahahah.”
Raja api itu pergi di ikuti para prajurit api. Dia menahan amarah tidak sabar meratakan negeri gurun dengan kobaran api. Kasus tangkla dan para penguasa api telah menjatuhkan harga dirinya.
“Memang benar firaun berhasil menundukkan seluruh negeri. Dia juga menguasai empat elemen yang diantaranya di wariskan kepada Winan. Kekuatannya sangat besar sehingga aku harus tunduk. Tapi, manusia itu pasti tidak memiliki kekuatan apa-apa.”
“Yang mulia, kita harus berhati-hati dengan anak kecil yang di dekat sang ratu. Dia memiliki aura api kuat” ucap Dedemit merah.
“Tangkla api tidak patut menyamakan kekuatannya. Apalagi membandingkan anak kecil ingusan itu. Hahh kau ini ada-ada saja.”
“Yang mulia, hamba baru saja menemukan tanda kehadiran raja negeri api” bisiknya mendekati kuda jin.
“Ada apa raja gurun?” tanya raja Batara di belakangnya.
“Tidak apa-apa yang mulia. Mari kita kembali meneruskan perjalanan.”
Melihat kepulangan sang raja yang begitu cepat, Winan berlari menyeret gaunnya yang panjang. Dia melingkarkan tangan di leher Sadewa. Pelukannya begitu lama, hingga Batara mendehem memalingkan wajah.
“Ratu ku, ada raja Kartanegara”
“Maaf raja, hamba_”
Winan menahan rasa malu, dia tetap menggandeng tangan Sadewa setelah mempersilahkan sang raja duduk di kursi yang telah dia sediakan. Beberapa prajurit pilihan yang di bawa terpaksa jika keluar dai dalam perut bumi berubah menjadi jin. Bagian dari bangsa gurun pasir. Sadewa menanyakan niat dan tujuan sang raja api. Winan tidak bisa menutupi apapun darinya, semua dia sampaikan. Raja itu pun mengepalkan tangan mempersiapkan diri esok melawan sang pemimpin api abadi.
“Ratu ku, kita harus bicara sebentar.”
Di dalam ruangan kebesaran raja menanyakan hal apa yang terjadi dengannya semalam. Pertanyaan yang membuat sang ratu kebingungan. Raja juga memberikan aba-aba agar Winan menjaga langit jika dia kalah melawan penguasa api.
__ADS_1
“Cuma itu saja yang engkau katakan? Apakah tidak ada rasa rindu mu pada ku? Apakah hanya Alas pati? Raja, aku bisa berubah menjadi dirinya jika engkau mau.”
......................
“Kecilkan suara mu Winan, aku tidak ingin mereka mendengar pertengkaran kita.”
Sang ratu memukul kuat sang raja. Sadewa menerima semua amarahnya itu. Dia menunggu sampai kapan pun Winan berhenti meluapkan semua amarahnya. Pukulan yang kuat, Sadewa menghela nafas panjang. Ruti menghadap, pandangannya menunduk melihat perkara itu.
“Ada apa Ruti?”
“Menghadap yang mulia, kami sudah menyiapkan ruangan untuk Raja dan para punggawa.”
“Terimakasih Ruti..”
Raja Batara masih tampak sibuk menikmati hiburan. Dia di tarik salah satu dayang ikut berdansa. Para prajurit pribumi di panggil satu persatu masuk ke dalam ruangan yang telah di siapkan. Mereka berteriak kesakitan.
Senja menurunkan sang mentari, batas cahaya yang terik di manfaatkan sisa cahaya di tarik masuk ke dalam botol kosong. Keributan pada malam-malam lalu di redam di ganti gangguan lain dari para penyihir yang meniupkan teluh ke sang raja. Menembus lorong waktu, raja yang tidak ada di tempat. Ketua sekte hitam yang memanggil iblis melotot kehilangan bayangannya.
“Kemana perginya raja itu?” gumamnya.
Mengganti teluh menyebarkan wabah penyakit ke negeri Kartanegara, pada malam itu kekacauan suara jeritan menambah ketakutan malam. Menggerlegar salah satu raksasa menghancurkan tembok istana. Raksasa. Sekte hitam memanggil raksasa dari balik bukit siluman. Kekuatan sihir itu di bantu oleh manusia bermata satu. Kemunculan Lintana membunuh para prajurit. Kerusuhan di malam itu tidak terlepas dari manusia kerdil sekte hitam. Ruti mendapat laporan dari salah sati prajurit jin yang sengaja di tempatkan di dalam inti benteng istana.
Sincin melihat kemunculan Lintana, dia meletakkan tas berisi bahan ramuan. Berdiri menghalangi anak kecil itu membuat keonaran. Sicin di serang hingga dirinya terluka. Pergelangan tangan dan kaki hampir patah jika Ruti tidak segera tiba membantu. Penyerangan di negera gurun juga tampak membingungkan Winan dan Sadewa. Sebagai pati penjaga alam dunia, Sadewa juga memiliki tugas mengemban penjagaan Kartanegara. Mendengar kerusuhan di dua negara itu Winan meminta Sadewa mengikuti raja Batara.
Di depan sana para tangkla dan prajurit pertahanan jin melawan serangan dari raja api. Hujan meteor, sihir api menyerang di udara. Sadewa berat meninggalkan kerajaannya yang di ambang bahaya. Dia mengangkat pedang senjata pamungkas peonix. Langit yang sementara waktu di ungsikan di sebuah petilasan dekat persemedian Winan mendengar kericuhan dari kawanan hewan bersayap yang terbang.
“Tuan mau kemana pati memerintahkan kami agar menjaga tuan sampai pati sendiri yang menjemput” ucap penjaga istana.
“Tapi aku mau membantu ayahanda dan ibunda. Jangan halangi aku!”
Langit memanggil Elang, dia menaiki badannya meminta agar membawanya ke istana.
Gendan menyaksikan kematian ayahnya. Dia memendam pembalasan dendam, sampai pada hari ini gunung Mahameru menjadi bukti kekejaman para iblis. Mau di musnahkan dengan cara apapun, iblis tetap bertahta di muka bumi. Mengganggu makhluk di muka bumi melakukan berbagai tipu dayanya. Nyatanya kekuatan hitam maupun putih tidak bisa membunuh iblis. Mereka bagai parasit yang selalu tubuh mengganggu kehidupan lain dan menyesatkannya.
Dia menerobos medan perang menggunakan seluruh kekuatannya membunuh musuh yang akan menghabisi Kartangera. Ada iblis yang terpisah membantai alam jin negeri gurun dan manusia.
Sayap elang raksasa di sambar si jago merah. Para sekutu melihat tubuh kecil langit utuh tidak terkena kobaran api sedikitpun. Pemimpin penguasa api mengulang serangannya. Pemimpin raja jin Selat Kalimun mengeluarkan api biru menggumpal ke tubuh Langit. Kobaran cahaya senjata pedang peonix mengeluarkan arwah burung keabadian. Di dalam tebasan melawan Argo kedua sinar lagi bertentangan. Langit terbang memanggil para kawannan burung jin agar memberikan kekuatan api pada elang.
__ADS_1