
Kepergian pemimpin yang paling berjasa memperjuangkan menegakkan negara yang pernah runtuh.
Melihat sang pangeran sudah memiliki keberanian untuk mengatakan sebenarnya. Sang raja menyanggah menahan dia untuk berbicara. Raja tiba-tiba menyatakan pertemuan penting kepada para punggawa. Sang pangeran kedua pun membungkuk berpamitan pergi.
Penyampaian pendapat kepada sang raja bahwa telah terjadi pertumpahan darah di wilayah perbatasan. Kabar seorang pendekar yang menggunakan ilmu sihir hitam membunuh tanpa menyentuh orangnya. Sang raja mengutus perangkat istana menyelidiki kasus hingga mendirikan tenda di setiap perbatasan.
Di tengah gelapnya malam, suara kesakitan para prajurit merasakan ada sesuatu yang mencekik mereka. Semua pasukan habis di bunuh meninggalkan hewan-hewan kecil memenuhi mulut mereka.
“Sungguh pembunuh keji ini harus segera di adili. Kita harus berpencar membagi tugas agar segera menangkap pelakunya. Titik utama adalah perbatasan inti Kartanegara” ucap panglima perang.
“Aku tidak yakin jika membagi dua tugas, menentukan titik temu adalah keputusan yang tepat. Sebelumnya kalian harus mengimbangi senjata lawan. Dia menggunakan ilmu sihir, para prajurit harus di bekali kantong sihir hitam ataupun putih sebelum tewas sia-sia” ucap Sadewa.
“Baiklah kalau begitu kita dirikan tenda di depan perbatasan kerajaan agar melakukan persiapan yang matang” ucap penjaga inti.
Nyi merah dan manusia tengkorak menggunakan perjanjian dengan sekte hitam. Mereka melakukan sekutu agar bisa menyerang Kartanegara. Tepat di ujung wilayah bagian Tenggara, Sadewa menggunakan ilmu sihir Lenggo geni untuk mengimbangi kekuatan sihir ganas itu. Imu sihir yang menguras tenaga dalam itu di bantu oleh sahabat lama Sahwana. Penyatuan sihir membuat Manusia tengkorak tumbang.
Sadewa mulai kekurangan tenaga dalam di serang nyi merah . Wanita setengah jin itu menggunakan ilmunya membentuk sihir hitam menuju tubuh Sadewa. Bola api hitam itu di lenyapkan oleh Ruti yang keluar dari dalam tanah.
“Kalian bangsa jin, tidak berhak ikut campur masalah manusia! Arggh!” teriak nyi merah menyerang.
Satu persatu tangkla abdi dalem gurun pasir keluar menyemburkan bisa ular menghanguskan tubuh nya. Nyi merah yang menghindar sementara manusia tengkorak habis terbakar menjadi abu.
“Ahahah! “ tawa Ruti.
__ADS_1
Sebelum masuk kembali ke perut bumi, tangkla abdi dalem gurun pasir memberi hormat pada Sadewa. Mereka seolah siap melindungi keselamatan sang raja. Para senopati melongo melihat makhluk jin yang wujudnya hampir mirip dengan manusia berpihak pada Kartanegara.
“Apakah mereka pasukan jin seperti yang di ceritakan di dalam legenda?” kata Taga.
“Kekuatannya melebihi kekuatan para pendekar empuni Kartanegara” ucap pangeran Angka.
Nyi merah melarikan diri sejauh-jauhnya. Dia mengalami luka dalam. Dia berjanji akan membalaskan dendam atas kematian manusia tengkorak. Mendengar Sadewa di serang sosok manusia yang berubah menjadi jin. Sang ratu gurun memerintahkan para tangkla menangkap nyi merah.
Musuh yang selalu mengharapkan kematiannya itu kini menyembah memohon pertolongan di depan kediaman Gupta. Alas pati melihat dari balik jendela. Terlihat Nyi merah berlutut di depan kediaman sambil membenturkan dahi. Sadewa enggan menerima kehadirannya, dia menarik tangan Alas pati agar tetap terlelap di sisinya.
“Kakanda kasihanilah dia, Nyi merah sedang mengandung seperti ku. Manusia tengkorak telah terbunuh pasukan jin gurun pasir. Dia pasti minta pertolongan kita”
“Alas pati, wanita itu tidak akan pernah bisa berubah. Dia mengandung benih pendekar penanganut ilmu hitam yang tidak mempunyai hati membunuh Kartanegara. Jika kita membantunya, sama saja kita membantu kejahatan.”
Sadewa menuruti perkataan Alas pati, di depan kediaman wanita itu memainkan peran kepura-puraan telah bertobat mengakui segala kesalahannya.
“Tolong selamatkan aku dari bala tentara jin itu. Sadewa, Alas pati, sebentar lagi aku akan melahirkan. Aku tidak mau anak ku sebatang kara. Hiks” Nyi merah bersujud di hadapan mereka.
Alas pati mengangguk memberikan isyarat agar Sadewa mengampuninya. Sang raja jin negeri gurun itu pun memerintahkan tentara jin kembali ke perut bumi. Di dalam hati nyi merah penuh dendam tidak sabar membalaskan dendam. Dia mengucapkan terimakasih, berjanji tidak akan mengganggu atau menampakkan diri di wilayah Kartanegara.
......................
Gemuruh petir menyambar langit Kartanegara, sang raja mengalami sakit keras kedua kalinya. Tabib Sicin meracik ramuan andalan hingga melakukan akupuntur di tubuhnya. Tapi keadaan sang raja semakin melemah. Harapan terakhirnya adalah menunggu ramuan itu bekerja di tubuhnya. Para tabib penyihir yang di datangkan dari negeri seberang telah menyalurkan tenaga dalam, sang raja tetap tidak stabil nafasnya terputus-putus di dalam tatapannya yang kosong.
__ADS_1
“Dinda, ratu ku. Sampai aku tiada akan selalu mencintai mu. Waktu sudah dekat, cahaya putih itu sudah sangat dekat dengan ku. Tolong dekap aku untuk yang terakhir kalinya” ucap raja Yetno.
“Tidak kakanda! Jangan tinggalkan aku! Hiks”
“Putra mahkota, pada hari ini aku pindahkan tahta sebagai raja Kartanegara pada mu. Engkau harus berjanji menjaga ibu mu dan negeri mu. Hhhh” nafas sang saja terhenti.
“Raja! Hiks.. "
“Ayahanda!”
Kepergian sang raja menggemparkan penghuni Kartanegara. Baju kebesaran sang raja di terbangkan dari atas menara istana. Simbol kepergian terpasang dalam bendera kuning di setiap penjuru. Rakyat di rundung duka, bunga bertaburan di sepanjang tanah. Pembakaran banteng besar. Kematian sang raja membuat ratu Prameswangi tidak sadarkan diri selama berhari-hari. Para tabib istana tidak keluar masuk ruang kebesaran. Sicin belum juga kembali dari hutan mencari tumbuhan langka untuk mengobati penyakit sang ratu.
“Kita jangan sampai lengah, semua tindak tanduk sang raja Batara harus di awasi. Aku sekarang menjadi tangan kanan sang raja setelah pangeran Angka” ucap pangeran Wicak.
“Kami sangat berharap bisa menjadi pasukan inti” ucap pengikut sang senopati.
“Besok akan ada pertemuan penting. Kita akan mencari dukungan dari perdana menteri hukum agar pendapat ini bisa di perkuat.”
Pangeran Wicak menemui perdana menteri hakim Linjao. Setelah kematian anaknya, dia enggan keluar dari ruangannya dan menggantikan posisinya sementara dengan Albet. Di dalam ruangan tengah kediamannya, Tinaya menjamu tamu penting itu. Mbok Yem menyiapkan hidangan, pangeran Wicak tidak sabar bertemu sang perdana menteri namun di depannya berdiri sosok pria muda yang memakai baju kebesarannya.
“Nyonya Tinaya, terimakasih atas makanan yang lezat ini. Saya kemari sangat berharap bisa bertemu perdana menteri Linjao. Ada hal penting mengenai Kartanegara.”
“Maafkan saya pangeran Wicak, Untuk sementara waktu segala penugasan perdana menteri Linjao dari istana di pindahkan pada Albet.”
__ADS_1
“Saya ingin meminta stempel kerajaan bagian hukum agar mau memberikan dukungan pada petisan yang kami buat. Susunan tananan prajurit yang harus di rombak supaya kerajaan lebih aman tanpa ada lagi penyusup yang berani masuk ke dalamnya.”