
Ular raksasa menjelma kembali mejadi ular, Sadewa membawa langit keluar dari tempat tersebut. Sosok Lintah iblis mengikuti. Di dalam perjalanan menuju alam jin, tangannya menarik kaki sadewa. Di tersenyum menyeringai, Sadewa tidak bisa menggunakan jurusnya karena akan terdampar ke alam lain. Dia masih terlalu awam keluar masuk sendiri menembus berbagai bejana waktu.
Kaki Sadewa hanya menendang kuat. Dia memukul sampai wajahnya retak mengeluarkan darah hitam. Namun Tangannya memegang erat bagai lintah yang menghisap darah.
“Ayah jangan sakiti dia. Dia tadi menolong langit dari hewan berkaki empat” ucap Langit yang tidak mengerti kalau darah ayahnya terhisap.
Keluar hingga terlempar di depan halaman. Dayang-dayang berada di alun-alun istana berhamburan ketakutan melihat Lintah Iblis yang berubah menjadi raksasa. Huru-hara di istana itu berantai.. Ratu peri yang mendengar kekacauan bergegas melihat hal apa yang terjadi.
Dia menggunakan jaring serbuk sari menangkap sosok makhluk yang berada di kaki Sadewa. Sang raja terpaksa ikut terperangkap di dalam. Ratu menggunakan ilmu cahaya menarik Lintah, namun makhluk itu tidak bisa melepas kakinya. Kulit hampir terikut terobek mengeluarkan darah yang mengalir. Sadewa meringis merasakan sakit menahan kakinya.
Semua kekuatan para tangkla sirna di hisap oleh lintah raksasa. Kecuali api yang tangkla Bara yang menyembur bercampur sihir perlahan melepaskan badan kulit yang menempel. Ratu peri mengeluarkan seluruh kekuatannya. Lintah iblis berhasil terlepas dari tubuh sang raja, karena tenaga sang Raja sudah terserap. Dia jatuh pingsan di pundak sang ratu.
“Raj, raja gurun!” panggil Mekar.
Tabib Sicin merasakan sosok yang dia cari berada di negeri gurun. Dia meminta bantuan Poppy agar capat sampai kesana. Kekuatannya hanya mengerti bidang pengobatan, dia sangat berterimakasih pada sang pengawal pendamping.
“Apakah engkau melihatnya? ratu peri, pengawal inti ketiga membawa sang raja ke dalam ruangan kebesaran?”
“Ya aku juga melihatnya, aku khawatir jika ratu Winan mengetahuinya maka perkelahian besar terjadi” bisik para dayang di dapur istana.
Tabib Sicin mendengar pembicaraan kedua dayang itu. Dia mengeluarkan suara batu berjalan masuk ke dalam sisi ruangan perebusan. Lintah iblis yang di tangkap sang ratu perii di kurung di depan halaman istana dengan penyaring serbuk sari dan lapisan kekuatan tangkla Bara.
__ADS_1
Di dalam ruangan kebesaran, raja yang terluka kesakitan, tubuhnya menggigil. Mekar menyelimutinya, perlahan dia menyentuh dahi sang raja.. Dari balik dinding, bola api merah menyerangnya. Mekar terbang mengepakkan sayap mengikuti kemana gerakannya pergi. Tepat di belakang istana mereka melakukan perbincangan. Suara yang menggema dari bola api itu menawarkan sebuah transaksi besar pada sang ratu.
“Ratu Peri, aku menawarkan bantuan posisi mu menduduki tahta si ratu guru asalkan engkau mau bekerjasama dengan ku.”
“Aku tidak yakin engkau bisa mengalahkan Winan. Dia memiliki tentara iblis yang jauh lebih hebat dari pada engkau!”
“Ahahah, Fir’aun bisa tenggelam di lautan pasir. Apakah itu yang di sebut dengan kehebatan?”
“Aku bisa membantu mu menguasai negeri gurun. Panggil aku di atas titik puncak piramida, aku langsung mendatangi mu”
Bola api menghilang melihat kedatangan Ruti. Dia belum sempat mendengar pembicaraan di tengah gerak-gerik meraka yang mencurigakan. Saat Ruti akan mengejar, ratu peri menghalanginya. Dia meminta pada Ruti supaya membantu Poppy mengurus tahanan lintah iblis.
Langkah kakinya terhenti melihat Winan duduk di samping sang raja. Dia tidak goyah menggunakan trik sederhana berpura-pura masuk ke dalam ruangan kebesaran. Mangkuk berisi minuman serbuk sari yang sengaja dia persiapkan. Para dayang dan pengawal pendamping membungkuk.
“Maaf yang mulia ratu Winan, hamba hanya memberikan obat untuk sang raja.”
Taga menerima mangkuk serbuk sari yang bercahaya sangat terang itu. Sesuai dengan peraturan istana, setiap makanan maupun minuman untuk sang raja ataupun ratu harus di coba melalui dayang. Salah satu dayang yang selalu di korban kan agar menjaga keselamatan pemimpin negeri itu bergetar. Mencoba seteguk minuman, sang dayang setengah mati menelan serbuk yang terasa aneh tersebut.
Glukk__
Suara tegukan air masuk ke dalam rongga kerongkongannya. Melihat sang dayang tidak bereaksi apapun. Minuman itupun d berikan kepada sang raja. Mantra ratu peri memberi pelapis agar racun tidak menyebar ke tubuh sang raja. Menyiram kekuatan mantra di sambung kekuatan para tangkla yang bersatu melemahkan si anak lintah iblis. Suara mengerang kesakitan terdengar oelh tabib Sicin yang secara spontan menjatuhkan ramuan di tangannya. Dia berlari mendorong tangan para tangkla.
__ADS_1
“Apa yang engkau lakukan tabib Sicin?” tanya Rakum.
Tangkla tanah terpaksa melepaskan hempitan tubuh di dalam kurungan. Sicin tetap mendorong tidak memperdulikan tubuhnya tersungkur kuat.
“Ku mohon, jangan kalian siksa dia” tabib Sicin memelas.
Langit mendekati kurungan, dia mencari pengunci yang tidak dia temukan di sekitarnya. Langit mengusap kedua telapak tangan. Dia mengayunkan tangan memberi sinyal pada para hewan bersayap untuk mengangkat kandang itu.
“Tolong turunkan tuan muda”
Bara terpaksa menyemburkan api, hewan-hewan bersayap menjatuhkan kandangnya. Sicin hampir tertimpa. Elang raksasa menarik tubuhnya dengan cakarnya.
“Bukan lah elang raksasa di kurung ratu? Kenapa dia bisa lepas?” gumam Bara.
Tidak ada yang bisa menandingi kekuatan sang ratu kecuali salah satu kekuatan menetralisir. Bara melihat ular raksasa hijau melingkar. Bagian kepala menangkis, langit membuka pintu kandang. Mengeluarkan lintah iblis, mereka tidak mengira tubuhnya kembali menjadi lintah raksasa menindih tubuhnya.
“Arghh! Arghhh!” teriakan kesakitan.
Aliran darah yang terkena iblis tidak akan memiliki kata iba. Dia tidak ingat sosok manusia di hadapan yang menyelamatkannya. Langit telah salah sangka, peristiwa di dalam gua raksasa hanyalah jurus menghindar. Dia tidak memperhatikan keberadaan langit di belakangnya. Alih-alih menyelamatkan lintah iblis, tubuh Langit sekarat hampir tidak terselamatkan.
Sicin menerima kenyataan sosok anak kecil yang mirip dengan Lintana itu bukanlah manusia atau jin. Dia membuang obat yang sudah dia sediakan. Kesia-siaannya berjuang menyelamatkan lintah iblis berujung maut. Seluruh tangkla, para pembesar jin, Taga dan Ruti menyatukan kekuatan membunuhnya. Cahaya hitam keluar dari bekas serbuk jasadnya yang di hancurkan.
__ADS_1
Langit di bawa ke dalam ruangannya, Winan memberi hukuman pada tabib Sicin. Atas kesalahannya, dia di asingkan ke perbukitan ujung Piramida. Peri bunga di beri dekrit ratu gurun untuk pulang ke negeri asalnya.
“Panglima ketiga akan menjadi penghubung penjaga negeri gurun dan berhak keluar masuk istana. Pada hari ini sang ratu peri di pulang kan secara hormat ke negeri peri. Jika sang ratu menentang maka semua baret kedudukan itu akan di lepas. Ratu peri di anggap membangkang kepada penguasa” ucap Selayang Trokat.