
Gumpalan asap hitam masuk di dalam celah selimut, hawa dingin mencekam. Arwah terbang masuk ke dalam mimpinya. Berdiri di ujung piramida. Sang ratu terkejut, bangunan tua itu bergerak terbuka. Sang ratu terjatuh masuk ke dalam tempat yang sangat gelap. Tubuhnya terhempas di sebuah ruangan bawah tanah. Gumpalan asap membentuk api membakar setiap wadah obor.
“Winan! Winan! Kau telah meninggalkan kebiasaan negeri kita! Kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan surga dunia jin!” gema suara Fir’aun.
“Pergi! Jangan ganggu aku! Fir’aun. Sudah tugas mu menjadi raja pertama di abad ini melindungi gurun pasir. Engkau pula tidk bisa terlepas dari bala tentara yang selalu setiap mengikuti kepergian mu. Mereka siap bangkit memenuhi panggilan mu”
“Winan! Tapi mengapa engkau tidak pernah mau membalas panggilan ku? Aku mau engkau membantu ku bangkit kembali ke dunia dan menjadi Tuhan semesta alam!”
“Sadar lah Fir’aun. Engkau tidak hanya salah satu makhluk ciptaan. Bukan engkau yang patut di sembah!”
Sang ratu Gurun menarik sebuah tongkat yang berada di dalam genggaman. Dia membungkus tubuh Fir’aun seperti mummi. Winan menutup peti raksasa yang keluar dari dalam piramida. Dia berlari sekencang-kencangnya sambil memegangi perutnya. Darah mengalir dari sela kakinya. Dia kesakitan berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Dimana tubuh ku? Aku harus segera masuk ke dalamnya” gumamnya melanjutkan langkah.
Suara panggilan Sadewa menggema di atas langit. Winan mengikuti arah panggilan sang raja, dia tersadar membuka mata melihat banyak tabib mengelilinginya. Tubuhnya hanya di lapisi selembar kain berwarna putih. Dia merasakan rasa hangat yang mengalir dari balik tubuhnya.
“Ratu bertahan, aku mohon!” raja Sadewa menggenggam erat tangannya.
Perlahan kesehatan sang ratu mulai membaik, para tabib satu persatu mulai berpamitan pada sang raja meninggalkan ruangan kebesaran. Wajahnya yang bahagia mendengar kabar kandungan sang ratu tidak mengalami masalah sedikitpun. Seharian tampak raja yang mulai terbiasa dengan kehadiran sang ratu itu mulai memberikan perhatian dan curahan kasih sayang.
Winan menunjukkan sebuah tongkat kebesaran milik Fir’aun. Dia mengakui kebesaran dan kehebatan sang raja terdahulu membuatnya dia lupa asalnya hanyalah sosok jin. Sang ratu meminta maaf pada karena hingga saat ini era kekuasaan berkaitan yang ada padanya belum bisa terlepas dari sejarah.
“Engkau tidak perlu berpikir yang bukan-bukan. Jika sekalipun engkau ingin membangkit kan raja pertama maka aku akan siap pergi. Aku lah yang bersalah wahai ratu ku, karena menduduki tahta Fir’aun.”
__ADS_1
“Tidak yang mulia, ini sudah menjadi keputusan ku. Hamba tidak mau Fir’aun membuat kekacauan di dua alam.”
......................
Para pembesar mengernyitkan dahi. Taktik rencana susunan penyergapan pada iblis bermata satu sangat sulit di jamah. Benteng penjagaan terlalu ketat, sihir-sihir hitam bercampur kekuatan iblis yang sangat kuat, tidak cukup mampu di tembus para prajurit biasa. Terlebih lagi setengah dari pasukan Kartanegara adalah bangsa manusia. Batara hadir memasuki ruangan, wajahnya di banjiri keringat yang tidak henti mengalir.
Persemediannya kali ini buyar tidak bisa fokus. Sulit baginya mencari dimana letak sang ratu berada. Senopati Angka memberi solusi atas masalah yang mereka hadapi. Jalan satu-satunya adalah mencari jejak sang ratu dengan sisa serbuk yang dia tinggalkan di bumi.
“Maaf yang mulia, jika berkenan maka saya akan menggunakan ilmu kebatinan menembus berbagai lorong waktu”
“Saya tidak mau terjadi hal-hal yang tidak di ingin kan. Paman Angka, saya akan menemui para penguasa lain untuk meminta bantuan.”
Di sisi lain banyak kerajaan yang masih memantau perkembangan. Salah satunya sang putri Lotus mendengar kabar penangkapan ratu Seza. Dia tertawa terbahak-bahak, informasi yang di sampaikan Mera benar-benar membuatnya bahagia. Lagi-lagi bujukan meminta pada sang raja supaya mau membantu negeri Kartanegara. Namun mustahil mengingat peran musuh bangsa jin yang bisa menghabiskan negerinya.
“Maafkan aku ayah, aku terpaksa melakukannya” gumam sang putri.
Dia merogoh bantal raja Kabut. Sang raja menepuk wajahnya yang di gigit nyamuk. Dengkuran terhenti, di tangannya ada sebuah pedang yang sangat besar. Putri Lotus sudah pasrah jika sang ayah saat terbangun berpikir bahwa dia adalah seorang pencuri lalu menebas lehernya.
“Hoaam! Nyam_nyam” sang raja kembali tertidur.
Berhasil mengambil kunci, putri Lotus berlari ke Altar kolam teratai. Dia mencari salah satu bunga imitasi yang di dalamnya sebuah pintu masuk ke dalam kolam ajaib yang di bicarakan para pembesar. Kerana terlalu penasaran, dia tidak mengetahui semua hal mengenai bunga teratai berkaitan dengannya. Istana ini menyimpan rahasia mengenai sang putri. Menemukan sekuntum bunga indah, dia membuka gembok menggunakan kunci berbentuk bunga teratai.
Keajaiban terjadi, langit berubah menampakkan cahaya aurora. Kolam bercahaya memperlihatkan bunga-bunga teratai raksasa. Di salah satu bunga itu, sang putri melihat sosok peri yang mengeluarkan serbuk sari ke atas putik bunga.
__ADS_1
"Wahai putri Lotus, apa yang engkau lakukan disini?”
“Haah! Hantu! Siapa kau?” sang putri ketakutan melihat sosoknya yang terlihat aneh.
Telinga panjang sedikit runcing melengkung ke atas. Tubuhnya berbentuk mirip peri, sayap yang sangat indah menyilaukan mata.
“Aku bukan hantu, aku peri Poppy”
Peri yang melakukan reinkarnasi Moksa dari sang ratu Winan melupakan masa lalunya seorang dayang pendamping sekaligus panglima perang bagi ratu peri Mekar. Dia menarik tangan sang putri terbang memperlihatkan tiap-tiap kelopak berkaitan dengan dirinya.
“Engkau tidak boleh terlalu lama disini, pergilah putri”
“Siapa sebenarnya aku? Kenapa aku merasa sangat dekat dengan bunga-bunga ini?”
Pertanyaan sang putri membuat sang peri Poppy tersenyum. Dia menerbangkan serbuk sari memperlihatkan asal-usulnya berasal dari sekuntum bunga teratai besar yang di bungkus selama berabad-abad lamanya.
“Dahulu kerajaan ini di selimuti dengan kabut pekat. Banyak para penyihir memanfaatkan situasi mengganggu ketenangan negeri. Sang ratu di bunuh secara sadis, sebelumnya dia memohon pada dewi untuk memberikannya seorang anak. Abu kematian sang ratu di hanyutkan dalam kolam menghadirkan sebuah kelopak bunga teratai. Di dalamnya terdapat seorang bayi yang di beri nama putri Lotus.”
“Kenapa ayah menyimpan rahasia sebesar ini? hiks."
“Putri, beliau sangat berharap engkau meneruskan tahtanya. Semua bunga-bunga ini dapat mengabulkan permintaan mu setelah engkau menjadi ratu negeri Kabut.”
“Jauh di dalam hati ku sekarang menginginkan ayahanda hidup kekal abadi..”
__ADS_1
Sang putri menutup kembali pintu bunga teratai. Dia menangis tersedu-sedu, mengurungkan niat membantu sang raja Batara agar mendapatkan posisi sebagai ratu kedua.