
Sesampainya disana, Sadewa melihat pohon raksasa bergantungan cahaya yang menyilaukan mata. Penjaga suci menyuruh Sadewa merebahkan tubuh di bawah pohon. Dia menggerakkan akar gantung pada pohon. Akar itu menembus tubuhnya, mengalirkan cahaya putih tampak si penjaga mengucapkan sihir berhembus ke dalamnya. Melihat wajah Sadewa yang semula pucat berubah kemerahan, dia perlahan bernafas stabil seperti sedia kala.
“Biarkan dia beristirahat, besok tubuhnya akan pulih dan kekuatannya akan kembali seperti semula” ucap ketua suci.
Ki Dermo menyusul menuju ke tempat si penjaga, dia mengatakan sejujurnya siapa wanita yang berada bersama si pendekar. Mengetahui Alas pati benar-benar anak kandungnya, si penjaga suci memeluknya sangat erat. Dia memberikan akar suci sebagai penghubung dirinya dengan akar pohon ajaib.
“Alas pati, apakah kau engkau menyukai Sadewa? Ibu tidak mau engkau merasakan cinta dunia namun mendapat pengkhianatan yang menyakitkan”
“Apapun yang terjadi akhirnya nanti aku akan menerimanya bu..”
Terbangun dengan tubuh yang segar bugar, Sadewa mengucapkan terimakasih pada semua orang yang membantunya. Dia berpamitan kembali mengatakan akan kembali ke rumah saat mendapat kabar dari seekor burung merpati yang menyelipkan surat di kakinya.
Alas pati mengikutinya, dia sangat terkejut melihat Sadewa di sambut seorang wanita yang tengah hamil besar. Terlihat wanita itu juga seperti akan melahirkan, Alas pati pun menangis merasa telah patah hati dan di khianati oleh Sadewa. Dia menangis mengadu ke penjaga pohon.
“Engkau benar ibu, semua pria sama saja. Aku sangat sakit hati di buatnya, setelah semua ketulusan dan pengorbanan yang ku berikan. Dia membalas ku dengan tipuan dan mencampakkan ku begitu saja. Hiks”
“Semua itu adalah kecerobohan karena terlalu percaya akan cinta. Kepercayaan di manfaatkan untuk mendapatkan yang di inginkan setelah mendapatkannya maka janji itu di lupakan begitu saja”
“Aku akan membalas rasa sakit hati ku ini bu..”
Alas pati melihat lebih dekat siapa wanita yang di sebut sebagai istri Sadewa. Dia membawa kudanya lebih dekat ke rumah yang terbuat dari kayu sangat sederhana itu.
“Kamu siapa?”
“Boleh saya bicara dengan anda?”
Alas pati duduk di dekat Lintani yang sedang menggendong anaknya. Dia menceritakan semuanya, akhirnya Alas pati sadar bahwa Sadewa benar-benar pria yang sangat baik. Bahkan dia mau mengakui anak yang bukan dari darah dagingnya. Dari kejauhan Sadewa datang terburu-buru mendekati Lintani dan Sadewa.
“Bangsa lain akan menjajah, kalian harus bersembunyi di kediaman Gupta. Cepat Lintani, Alas pati!” ucap Sadewa.
__ADS_1
“Aku akan mengantarkan Lintani dan anaknya ke kediaman mu setelah itu menyusulmu di pesisir pantai” kata Alas pati membantu Lintani naik ke atas kuda bersama bayinya.
“Hati-hati..”
......................
Tenda-tenda darurat kembali di tegakkan. Kerajaan Sarang laba mulai melakukan peperangan dengan negara naga yang di kabarkan kapal-kapal besarnya akan mendekati tepi pantai. Seluruh pendekar dari penjuru dan ahli pembuat sihir di kumpulkan untuk mempertahankan negeri yang akan di jajah oleh bangsa luar itu.
“Kini urusan benci dan dendam harus kita kesampingkan demi membela tanah air. Meskipun negeri kita memiliki raja dan tanah yang terbagi atas beberapa kekuasaan. Kini kita harus menyatukan kekuatan untuk mengusir penjajah asing yang akan merampas negeri kita!” sorak raja Diraga mengangkat pedangnya.
Ujung kapal berbentuk naga, ratusan kapal berlabuh di dermaga dan memenuhi bibir pantai. Pasukan berbaju Zirah lengkap dengan senjata mereka, Banyak senjata api dan bubuk mesiu di ledakkan, hari itu perang badar di mulai. Mempertahankan negeri, rakyat porak poranda para prajurit dari negeri asing lebih kuat dan lihai menggunakan senjata.
Setengah wilayah negeri sudah di babat habis, kini pasukan berbaju besi itu mendekat ke wilayah bekas jajahan Kartanegara. Sadewa mengeluarkan sihir lenggo geni dia membelah tanah menghentakkan kaki sebanyak tiga kali. Pasukan asing masuk ke dalam tanah yang kembali dia tutup dengan kaki kirinya.
“Pasukan itu terkubur hidup-hidup! Mundur!” perintah salah satu pria mengangkat senjatanya.
Kapal penjajah kembali berlayar menuju ke negaranya. Mereka pulang mengabarkan bendera putih yang berkibar di lautan lepas. Melihat kesaktian yang di miliki Sadewa, salah satu senopati Sarang laba meminta di agar menjadi pengawal raja yang mendampinginya di dalam istana.
“kali ini aku tidak akan gentar mengalahkan mu!” ucap Sadewa memasang posisi kuda-kuda.
Pertarungan sengit antara si manusia tengkorak dan Sadewa di mulai, belum sampai di titik pusat tampak pertahanan si manusia tengkorak jatuh. Para ahli seni bela diri abdi dalem Sarang laba mengepung, kali ini Sadewa tidak mau mendapat serangan mematikan.
Pedang yang hampir menyatu dengan jiwanya itu menyala mengeluarkan api berwarna merah. Dia membelah seluruh prajurit sampai
tersisa hanya tulang tengkoraknya.
“Kita harus mundur ayah, pria gila itu pasti akan menghabisi seluruh abdi dalem dan manusia tengkorak” bisik pangeran Gani.
Mereka mengakhiri serangan, sang raja berbalik badan menggiring seluruh pasukan kembali ke istana. Sadewa melihat sosok Lintani dia tidak membalas lambaian tangan Sadewa. Ketika menghampirinya, Lintani yang dia temui itu sedikit berbeda. Rambutnya berwarna pirang, pandangan lebih tajam melihat Sadewa seperti orang asing.
__ADS_1
“Kau siapa?”
“Lintani ini aku Sadewa”
“Aku Lintana, dimana aku bisa menemukan Lintani?”
Wanita itu terus menanyakan dimana Lintani, dia mengamati pria yang sedang menarik tangannya. Lintana mendorong kuat Sadewa, dia menyerang menggunakan kekuatan ilmu bela diri namun pria itu menepis gerakannya.
“Lintani, mana anak mu?” tanya Sadewa kebingungan.
Mbok Rija berlari tergopoh-gopoh menuju Sadewa, kakinya penuh luka karena harus menyelamatkan diri dari kejaran salah satu prajurit Sarang laba. “Tuan, saya ingin menyampaikan kabar nyonya Dewi Bahati. Dia sekarat menunggu anda di kediaman tuan Adika”
Dia sudah tidak sanggup berjalan, mbok Rjja merengkuhkan tubuhnya terjatuh di atas tanah. Sadewa mengangkatnya ke atas kuda, dia meminta Lintana untuk naik bersamanya sementara dia menggiring kuda sambil berjalan kaki.
“Sudah aku katakan kalau aku adalah Linatana, aku kesini mencari saudara ku Lintani”
“Nanti saja berdebatnya, kita harus segera sampai ke kediaman Adika.”
Bahati menangis, tubuhnya sudah dingin terlihat pandangan kosong terbata mengucakan pesan terakhirnya. Sadewa tiba berlari menggenggam tangannya. Cinta pertama yang tidak pernah dia lupakan seumur hidupnya.
“Kakang Sadewa, tolong jaga anak ku Surya untuk ku. Aku pamit pulang ya kang” ucapnya.
“Tidak, kau pasti akan segera sembuh, aku akan membawa mu ke pohon cahaya. Alas pati akan membantu kita.”
“Tidak kakang__”
“Dewi Bahati!”
“Ibu!”
__ADS_1
“Nyonya..”
Bahati menghembuskan terakhirnya. Setelah meminum ramuan sihir dari Yuri, perlahan ramuan sihir yang di berikan Adika sirna bersama darah dan dagingnya.