Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 43


__ADS_3

Berdamai dengan waktu itu sulit. Memperbaiki hari yang terluka bagai mengumpulkan butiran embun harapan pagi yang mengering di daun yang basah di kala sang surya menyingsing.


Seekor burung elang raksasa mengepak di udara. Dia bisa menembus dua alam di bantu oleh langit sebagai sahabat terdekatnya. Para hewan bersayap yang berada di alam manusia maupun alam jin merasa iri, walaupun begitu tidak ada satu pun hewan bersayap yang berani mendekat atau mengganggu keduanya. Kecuali hari ini, sihir iblis berhasil menangkap menenggelamkannya di dasar bumi.


“Kali ini aku melibatkan kalian agar andil menghajar hewan yang lancang keluar masuk menembus dua alam. Ahahaha” tawa lepas Albet.


Dia menanti langit hadir sendiri mencari jejak hewan peliharaannya. Di gelapnya malam, langit merasakan suara teriakan elang memanggil namanya. Langit mencarinya di tanah jin, di dalam tumpukan pasir bahkan di setiap inci perut bumi. Kekuatan alaminya mengendalikan api yang belum bisa dia kendalikan, cakra itu kini menjadi incaran sekte hitam.


“Ide mu memang bagus, engkau bisa memanfaatkan situasi sangat baik. Aku tidak sabar menghisap kekuatan anak berbulu itu. Aku juga tidak sabar menyaksikan Sadewa melihat anaknya mati menjadi debu. Ahahah”


“Lapor ketua sekte, elang raksasa itu mengeluarkan suara aneh. Dia seperti mengirim sinyal ke majikannya” ucap penjaga.


“Cepat hidupkan pemanggang api. Aku mau melahap hewan itu menjadi daging panggang” ucap Albet.


Getar gempa bumi menggoyangkan wilayah sekte hitam. Guncangan hebat, semburan api membakar para penjaga sekte. Pertarungan itu seolah sebuah permainan petak umpet. Langit bertubuh kecil menghindari serangan sihir hitam. Ruti menggunakan kekuatan gurun pasir menggulung pasir hidup menyerap beberapa sekte. Di atas sana, telah berdiri ratu gurun dan sadewa menggumpalkan cahaya terik membentuk meteor merah.


Langit mencium aroma bau sahabatnya, dia membuka kurungan besi dengan api biru di bantu sang penjaga kediaman Gupta. Dom dan panglima Taga berkelahi dengan sekutu sekte hitam. Pelepasan elang membawa langit mengeluarkan semburan api.


Dia di tangkap sihir hitam menggunakan mantra pemanggil iblis. Langit menjadi tawanan, sang ratu, Sadewa berserta para pengikutnya berhenti menyerang. Menyandera, mengambil titik kelemahan lawan. Para musuh itu merampas sesuatu yang paling berharga.


“Kenapa wajah mu yang paling gelisah wahai ratu Winan. Anak ini bukan lah darah daging mu. Seharusnya engkau mengkhawatirkan keselamatan mu sendiri. Ahahah” ucap Albet.

__ADS_1


“Engkau manusia berhati iblis. Aku rela mengorbankan nyawa ku untuk anak ku langit. Sedikit saja kau lukai dia maka aku akan meratakan wilayah mu ini. Aku akan membangkitkan jasad firaun dan mengambil kekuatannya demi memusnahkan kalian!”


“Ratu mohon pertimbangkan lagi, jika engkau menggunakan seluruh kekuatan di negeri gurun makan rantai pemanggil jin akan menyerap seluruh kekuatan mu. Engkau akan binasa ratu” ucap tangkla angin.


“Ada Mahmeru? Bukan kah engkau menginginkan kematian ku? Engkau dan para penguasa api hampir meluluh lantakkan kerajaan ku”


“Mohon maaf atas kehilafan hamba. Ratu, ijin kan hamba yang menghadapinya”


Tangkla angin memanggil para penguasa jin angin membunuh para sekte hitam. Sebagai rasa bersalahnya, dia menyilapkan pandangan Albet dan ketua sekte menjela menjadi langit. Anak kecil yang telah kembali ke istana itu memanggil elang agar mengantarnya ke medan perang.


“Aku tidak akan gencar. Mereka mau membunuh ayah dan ibu, elang ayo kita berjuang bersama” ucapnya keluar dari perut bumi.


Tubuh yang di sangka langit di potong menggunakan sihir iblis hitam. Tangkla angin Mahmeru gugur, potongan tubuhnya berubah menjadi sebuah pengunungan. Sadewa tidak mau kehilangan tangkla yang sudah berjasa itu. Dia membantu Mahmeru melakukan moksa berpindah arwah ke seekor binatang.


“Bersabarlah Mahmeru, aku akan membantu mu melakukan reinkarnasi. Engkau adalah jin angin yang terkuat” gumam Winan.


Para jin yang berkuasa akan selalu di kenang sebagai pahlawan di negeri gurun. Menghidupkan kembali jin yang mati atau membangkitkan arwahnya bukan lah hal yang baru atau langka di negeri gurun. Suaminya firaun masih menyimpan kekuatan ilmu yang dia miliki semasa hidupnya.


“Sungguh aku baru mendengar jin yang bisa hidup atau bereinkarnasi. Mengapa engkau tidak membangkitkan jasad firaun kembali? Ratu, kerajaan ini pasti akan semakin aman dan Berjaya”


“Raja, di tengah tubuhnya terdapat batu permata yang merupakan sumber kekuatannya. Jasadnya tidak akan bisa tersentuh hewan apapun di dalam maupun di muka bumi. Piramida segitiga itu telah lama di incar manusia demi mendapatkan jasad dan kekayaan yang tersimpan di dalamnya. Dewa mengutuknya, aku enggan menambah penderitaannya menimbun dose jika dia hidup kembali.”

__ADS_1


“Dosa apa yang engkau maksud ratu?”


Perbincangan itu terhenti melihat langit memasuki ruangan. Jin yang pertama dia peluk adalah Winan, ibu angkat yang dia sayangi melebihi rasa kasih sayangnya terhadap ayahnya.


“Ibu, aku tidak mau jauh dari mu”


“Ananda ku sayang. Ibu tidak akan pernah jauh dari mu. Kemari duduk di pangkuan ibu dan ulurkan tangan mu.”


Ratu Winan menarik batu mustika dari jin ular miliknya. Dia meletakkan batu itu ke lengan langit. Ular jin terkuat membentuk gelang berbentuk ular melingkat di pergelangan tangan kirinya. Langit merasa lengannya sedikit terjerat. Dia tersenyum mendapatkan hadiah dari sang ratu.


“Terimakasih banyak ibu.”


Di dalam pusara waktu di negeri jin para tangkla berkumpul membicarakan langit. Dia berum berusia tujuh belas tahun, tapi kehadirannya dan rasa kasih sayang ratu padanya masih di perdebatkan oleh para penguasa jin. Perkumpulan itu juga mendatangkan para tangkla. Bara juga ikut di dalamnya. Sebagai pendatang baru, dia tidak ingin di anggap sebagai pembangkang atau bagian dari kedua belah pihak yang berseteru. Di dalam benak masih menjunjung tinggi kesetiaan pada sang pendekar.


“Walau bagaimana pun, Langit tidak lah pantas di jadikan putra mahkota. Negeri jin akan di landa pertarungan badar besar-besaran. Langit tidak sedikitpun memiliki darah bangsa jin.”


“Engkau benar tangkla angin. Tapi dengan perkataan mu seperti ini. Engkau seperti bermuka dua, berbeda di depan sang ratu dan sebaliknya.”


“Rakum, engkau jangan salah sangka. Justru aku mementingkan nama baik sang ratu di mata negeri jin. Aku tidak ingin dia di serang dan mendapat kecaman sebagai penghianat.”


“Ya, engkau ada benarnya, bagaimana kalau kita cari cara agar sang raja segera memberikan warisan keturunan” kata tangkla air Banyuwangi.

__ADS_1


Para tangkla menampakkan raut kesedihan mengingat pengorbanan Mahmeru. Mereka tidak berdaya berbuat apapun. Di alam manusia, kemunculan fenomena penampakan gunung yang berada di sekitar wilayah timur.


__ADS_2