Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 9


__ADS_3

Di barak tenda, para pasukan mondar-mandir mengurus segala perlengkapan perang. Susunan strategi perang di layangkan di atas alas rumput. Peta wilayah sekutu, jumlah pasukan dan batas ketahanan. Panglima perang mengusap dagunya, dia sangat mengkhawatirkan peperangan yang tidak biasa baginya. Sang panglima yang jelih membaca gerak-gerik musuh mendapat firasat lain tentang musuh Kartanegara.


“Kemenangan ini belum di katakan sepenuhnya bisa menduduki posisi pertama kembali. Pasukan kita menipis, Adipati harus menambah pasukan perang atau mengabarkan musuh yang tetap tidak mau kalah meski sudah kita babat habis. Saya mendapat laporan dari prajurit jika para musuh masih ada yang bersembunyi di balik hutan” ucap sang panglima.


“Sepertinya musuh kita akan melakukan penyerangan besar-besaran. Prajurit dari benteng utara barat juga melaporkan seorang penyusup berani mendekati singgahsana ku” ucap pangeran Angka.


“Adipati, ini bukanlah perang biasa. Mereka membawa senjata dan perlengkapan perang yang lengkap. Adipati harus melaporkan hal ini kepada raja supaya kita menyiapkan kemungkinan serangan mendadak”


“Tapi di sudut pandang ku adalah mereka akan menyerang di segala pintu. Gerbang barat, timur, tenggara dan yang terakhir utara. Kita harus membagi tugas untuk mempertahankan Karatanegara” ucap pangeran Wicak.


“Kau tau apa soal strategi perang? Berkelahi saja kau tak pernah. Lihatlah pedang hanya pajangan belaka” kata sang panglima.


“Kemungkinan kedua ada benarnya atu hanya kekeliruan saja. Tapi walau bagaimana pun saya harus melaporkan hal ini pada raja. Saya kita harus tetap waspada menghadapi musuh dalam selimut yang tidak tau siapa di dalamnya. Tapi keanehan pada perbatasan wilayah Tenggara yang Nampak tidak terlalu andil di dalam pertempuran ini” ucap sang Adipati.


Pada malam itu juga sang raja yang sedang mabuk-mabukan melempar cangkirnya yang terbuat dari emas. Dia melotot kali ini sang raja menahan pukulan.


“Kau ternyata rapuh, lemah, belum maju sudah kucur!”


“Maafkan hamba yang mulia, tapi memang terlihat pasukan Sarang raba tampak serius dalam peperangan ini.”


“Aku tidak akan goyah. Kalian harus tetap maju.”


“Apa yang harus hamba lakukan?"


“Serang mereka!”


“Perintah ayahanda saya laksanakan.”

__ADS_1


Menyerang musuh dari terbit matahari, pasukan yang di pimpin Adipati Yetno di damping pangeran Gani. Penjagaan perbatasan, surat perintah kedua bahwa masing-masing sang pangeran yang lainnya menjaga negara bekas jajahan. Kini benteng-benteng kosong bagai rumah tanpa tiang. Para pangeran, pasukan khusus dan panglima tidak di tempat.


Sementara sang raja meneruskan minuman yang memabukkan bersama para dayang dan selirnya. Di atas kursi kebesaran seolah dia yang paling berkuasa. Hatinya jumawa, angkuh, sombong, merasa hebat karena terpandang sebagai negeri ahli sihir dan bela diri.


Dari kejauhan sosok mata-mata melihat iring-iringan musuh, sinyal bersahutan di udara. Bunyi seperti suara kicauan burung di alam bebas.


Berlumuran darah dan luka sang Adipati mempertahankan diri bersama pasukannya. Mereka sekuat tenaga memberantas musuh. Sementara dua orang yang mengintai dari tempat lain merasa rencana mereka telah berhasil mengelabui raja.


“Benar kata Senopati panglima perang, ini bukanlah perang biasa” gumam sang Adipati.


Matahari sudah terbenam tapi pasukan beruntun datang menyerbu. Sang Adipati menyalakan sinyal mundur. Pertahanan mereka sudah goyah, para pasukan banyak yang tewas. Sisa para prajurit yang terluka di bawa ke tempat persembunyian perbatasan di dalam hutan.


Rintihan kesakitan para prajurit menahan luka. Membaca semua kenyataan, pangeran Gani pasti andil di dalam peperangan ini. Pasukan sarang laba tergolong pasukan yang mempunyai jumlah sedikit, tidak salah lagi Rajadiraga di bantu Gani.


Dalam padopoan alun-alun istana sang raja dan ratu duduk memakai baju putih. Di depan pura, mereka memohon keselamatan dan kesejahteraan sarang laba.


“Niat lama ku ini harus segera tersampaikan Lana, aku mau menunjukkan pada raja yang sombong itu tidak selamanya dia bisa berkuasa” jawab raja Diraga.


“Rakyat akan menderita dengan pertempuran badar ini. Akan ada banyak pertumpahan darah.”


Sang Adipati melingak-linguk mencari Gani. Dia menyerukan rasa sakit hatinya atas segala tuduhan dan cecaran yang hampir merusak nama baiknya.


“Lapor Adipati, saya melihat semakin banyak prajurit yang mendirikan tenda di hutan.”


“Aku tau pasti bantuan prajurit dalam jumlah besar ini di belakangnya sudah di sokong Gani”


“Saya hanya berharap kita dapat memenangkan pertempuran terakhir ini.

__ADS_1


“Siapa diantara kalian yang melihat pangeran Gani?” tanya sang Adipati.


“Saya Adipati Yetno, pangeran mengendarai kuda mengarah ke wilayah luar hutan bagian Timur.”


Prajurit itu terluka parah, dia bernafas putus-putus mengakui luka parah yang di lehernya itu berasal dari sang pangeran. Mengetahui dengan jelas si pangeran Gani melakukan pengkhianatan hingga kecurangan di balik sifat dan rencana busuknya, dia mengepal tangan bersiap berperang kembali. Pada malam itu pertempuran berlanjut.


Ketua panglang alun-alun menyampaikan pesan mendadak serangan badar di dalam Kartanegara. Para pangeran yang sibuk menjaga wilayah jajahan kini mempercepat tunggangan kuda. Di dalam istana, pasukan Kartanegara menepis serangan mengeluarkan ilmu sihir yang tersimpan di dalam pedang. Luka, darah,kesakitan di tahan sementara musuh bagai iring-iringan semut masuk ke dalam wilayah utara.


Pangeran Gani menunggangi kuda berdiri di depan gerbang inti. Dia sendirian memaksa penjaga membuka pintu gerbang. Pada malam itu Kartanegara mengalami kekalahan secara besar-besaran. Negara yang terkenal paling di takuti itu jatuh terguling binasa.


Di tengah rasa mabuk raja Namrut, dia melotot melihat prajurit bagai banjir darah dengan tumpukan tulang-belulang.


“Kurang ajar! Cepat ambilkan pedang ku!” teriak sang raja.


Di depan halaman raja, serangan raja Sarang laba berhasil menepis setiap gerakan raja Namrut. Tangan yang tidak bisa mengendalikan pedang kebanggaannya itu melemahkan diri dalam mabuk berat yang mulai mengganggu pandangan dan kekuatan di dalam tubuhnya.


“Hiyaahh!!


Cetar__duar


Seketika langit mengabarkan kematian raja Namrut. Leher tertebas hingga putus dari badannya. Hujan deras, para pasukan Adipati serta pangeran lainnya terlambat memasuki istana. Mayat-mayat sudah menjadi saksi kehancuran negara itu. Para penjajah berhasil mencuri seluruh harta Kartanegara.


Ketua panglang alun-alun beserta sisa prajuritnya mengabarkan kabar duka itu kepada Adipati dan pangeran lainnya. Sang Adipati mengingat pertakaan sang raja penuh rasa sombong dan angkuh itu.


“Adipati dan lainnya harus segera mengungsi meninggalkan tempat yang berbahaya ini” ucap sang ketua panglang.


Masa kejayaan Kartanegara hanya di tulis dalam sejarah panjang, Para pengkhianat yang andil di dalamnya ternyata sang pangeran dari anak salah satu selir raja Kartanegara. Istri sang Adipati itu gelisah tidak bisa terlelap hingga menjelang pagi. Di balik persembunyiannya bersama para abdi dalem, dia sangat mengkhawatirkan sang Adipati Yetno.

__ADS_1


Dari kejauhan terdengar suara tapak kaki kuda mendekat. Pangeran Wicak sudah memasang posisi kuda-kuda dengan pedang di tangannya.


__ADS_2