
Ratu yang di sebut-sebut akan menjadi penguasa tertinggi nya para ratu peri di negeri tanpa batas. Kepergiannya keluar dari alam awang-awang menarik takdir baiknya. Suratan nasib buruk melepaskan kekuatan terbesar yang dia miliki. Ini bukan yang dia inginkan, kekuatannya justru di perlukan untuk melindungi anak dan negerinya. Apa yang menjadi garis di tentang dalam keegoisan semata. Keabadian sirna, sayap tidak lagi menyebar serbuk cahaya bahkan dia harus berjalan menggunakan kedua kakinya.
“Menghadap yang mulia. Hamba menemukan sang ratu di hutan Selat Karimun.”
“Aku sendiri yang akan menjemput sang ratu. Pengawal, kerahkan pasukan penjaga istana bergantian sampai aku kembali.”
“Perintah di laksanakan yang mulia.”
Batara menaiki kuda jin meninggalkan istana. Lusia yang baru saja kembali dari negeri air melihat sang raja meninggalkan istana. Dia mengepakkan sayap mengikuti kemana sang raja pergi. Dom melangkah saat melihat sang putri menyebrang perbatasan. Dia di beri tanggung jawab besar menjaga Kartanegara sampai sang raja kembali. Melihat sang putri dalam bahaya, Dom menyalakan panggilan para pengawal jin untuk mengikutinya.
Ratu yang telah bertahta memiliki kekuatan tiada tara terkulai lemas di serang para siluman serigala. Ujung sayapnya robek, dia tidak bisa mengendalikan kekuatan atau melindungi diri.
“Hahah, mana kekuatan mu yang pernah mengalahkan sang raja api? Kau Cuma makhluk bersayap yang lemah. Auuuww”
Ketua serigala menggigit pergelangan tangannya. Bisa tertanam membentuk penyakit yang tertinggal di dalamnya. Dia tiba-tiba seperti tertarik akar pohon yang mengeluarkan kekuatan petir. Batara berubah wujud menjadi raksasa. Wajahnya lebih mengerikan, dia membanting tubuh si ketua serigala.
“Awas ketua!” teriakan serigala-serigala mengaung menyerbu sosok sang raja.
Tubuh berlapis api, Batara membakar setengah dari siluman serigala. Tidak sanggup menghadapi sang raja pemakan matahari, mereka meninggalkan ratu Seza yang telah bersimbah darah. Batara berubah wujud semula membawa sang ratu ke istana. Di sepanjang perjalannya, wajahnya tersenyum bahagia bisa kembali di sisi sang raja. Walau ada masanya hari perpisahan karena umur jin abadi menghilang memilih jalan sebagai manusia.
__ADS_1
Ketua pura melihat batas akhir sang ratu di alam bumi dekat di celah antara siang dan malam. Di atas kasur, air mata Seza mengalir tidak mau melepas pelukannya pada Lusia. Setelah kelahirannya, Lusia baru mengetahui wanita bersayap yang sama seperti dirinya adalah sosok ibu yang sangat lama dia nanti. Akan tetapi, di pertemuan itu sama dengan perpisahan bagi keduanya. Tanda-tanda kematian ibunya membuat dia ingin mengakhiri hidupnya.
“Ibu, aku ikut dengan mu. Ayah, jangan halangi aku!”
“Tidak Lusia, di dalam diri mu tersemat umur jin. Engkau akan tumbuh di dalam kelopak bunga peri tanpa mengenali asal mu. Berjanjilah pada ibu agar tidak menentang takdir mu wahai putri ku.”
Andai saja dia masih di alam tanpa batas, menjadi ratunya para peri cahaya tertinggi meski hanya bisa melihat keadaan keluarganya dari atas sana. Pastilah sang ratu masih hidup tanpa di siksa kematian. Tidak pada keputusan yang tidak akan dia sesali karena bisa memeluk Lusia. Dia meminta pada penguasa peri cahaya, pemimpin tertinggi agar membantu mengabulkan permintaannya yang terakhir.
Kolam keabadian di alam tidak terlihat tidak bisa mengabulkan permohonan yang dia ucapkan sebanyak tiga kali sampai hembusan nafasnya yang terakhir. “Bantu lah anak ku menjadi sang ratu peri cahaya ya penguasa alam tidak terlihat.”
Seruannya tidak bisa terdengar di atas awang-awang. Rantai ikatan peri cahaya terputus setelah dia memilih takdirnya sendiri. Suara jeritan tangis Lusia, dia merengek meminta ayahnya mengeluarkan seluruh kekuatan yang dia miliki agar membangunkan ibunya. Di juga mengusap sayap Seza yang mulai menghilang. Hari kebahagiaan sekaligus kesedihan seumur hidup. Mendengarkan semua nasehat ibunya, dia mulai menjatuhkan senjata tajam yang akan menghunus tubuhnya.
“Yang Mulia, tubuh jin terutama bangsa peri di incar para penyihir hitam. Maaf, sang ratu mungkin tidak mau tubuhnya menjadi bahan perebutan makhluk jin lainnya. Hamba harap yang mulia mengikhlaskannya” ucap Dom sambil menunduk.
Setiap hari di temani Dom, sang putri mengganti bunga-bunga segar ke makam ibunya. Dia terkadang sering bercerita mengenai harinya. Pada musim pergantian angin yang lebih kencang membawa musim gugur, raja meminta sang putri agar tidak keluar istana sampai pergantian musim selanjutnya. Semua demi menjaga sayapnya agar tidak rusak. Namun, marabahaya justru lebih sering mengintai di dalam istana. Akar pohon kegelapan yang di gerakkan ketua iblis bermata satu mulai mengganggu.
Di dalam tidur, akar membungkus sekujur tubuhnya. Sepasang mata terbuka merasakan ada benda yang menguncinya. Dia memejamkan mata mengeluarkan tenaga dalam menyilaukan terik cahaya menembus istana. Dom memanggil sang putri, berpikir sedang dalam bahaya maka dia mendobrak pintu dengan kekuatan jinnya.
Akar hitam di tebas, mengeluarkan arwah-arwah peri bersayap hitam. Karena makhluk bersayap hitam mirip dengan wujudnya, sang putri mengurungkan niat menyerang bahkan menarik senjata Dom membuangnya ke luar.
__ADS_1
“Putri, mereka akan membunuh kita” ucap Dom mematahkan akar yang mulai menjalar di kakinya.
Makhluk peri hitam mengulurkan tangan-tangan mereka agar di gapai sang putri. Wujud jin Batara merobek sayap-sayap kegelapan. Pengawal, bawa putri keluar dari sini!”
“Baik yang mulia!”
“Tidak ayah! Mereka pasti teman ibu! Mereka sama dengan ku!”
Di belakang istana, padang rumput hijau membuka jalan untuk sang putri. Putri bersayap itu mulai mengepakkan sayapnya. Mencari cara agar bisa kembali ke istana. Dom terpaksa menunjukkan sebuah pemandangan negeri iblis yang di penuhi kegelapan dan seluruh isi di dalamnya. Salah satunya terdapat makhluk peri bersayap hitam yang ikut bersujud di depan makhluk raksasa yang tidak jelas wujudnya.
“Putri, hamba sengaja meminjam kan pandangan jin di dalam perut bumi. Mereka membangun istana di dalam maupun di atas bumi. Penghubung makhluk sesat akan di jadikan tahanan, pengikut bahkan di sandera. Kebanyakan dari mereka yang tertipu di jadikan santapan hingga bumi binasa.”
“Tidak mungkin Dom. Kau pasti berbohong pada ku, ibu tidak pernah memberitahu hal ini.”
“Pertemuan putri dengan sang ratu sangatlah singkat. Ratu berharap putri tidak mengambil langkah yang salah.”
Apa itu takdir? mana nasib yang tidak bisa di rubah? Jalan apa yang harus di tempuh? Tuan putri Lusia masih terlalu dini memecahkan semua rahasia itu. Dia tidak mau bersembunyi terlalu lama, permintaannya memastikan ayahnya tidak di lukai para iblis, Dom bersama sang putri melihat dari langit-langit atap istana. Serbuk peri cahaya yang mengenai salah satu peri bersayap hitam memicu pergerakan penyerangannya beralih pada sang putri.
"Hiyaa! Mati lah kau!”
__ADS_1