Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 52


__ADS_3

Meninggalkan kerajaan gurun, sang ratu Peri meninggalkan serbuk tanda jejak yang tidak di ketahui semua jin. Sadewa membuka mata, Winan sekuat tenaga menyembuhkannya. Ratu gurun telah lama meninggalkan kebiasaan rahasia kecantikannya yang abadi bak daun muda yang segar di bawah terik mentari.


Pada masa peradaban lalu


Pemindahan kekuasaan di tangan ratu Winan menorah kelam cerita di balik sosok ratu peminum darah segar para wanita muda. Dia mendambakan kulit yang halus. Ruti menjadi saksi bagaimana dia menangkap para gadis sebagai persembahan sang ratu.


Keberkahan rakyat negeri Fir’aun adalah pemilik jiwa tenang yang mendambakan pemimpinnya. Mereka selalu memberikan semua yang mereka punya tanpa merta keberatan umpatan di dalam hati.


Hari ini tepat satu periode pergantian masehi. Bulan purnama putih bersinar melunturkan wajahnya yang sangat muda dan mempesona. Kulit sang ratu mulai sedikit mengerut, kali ini dia tidak memanggil ratu atau mencari pengobat racikan ilmu yang bisa mengembalikan kecantikannya.


Sadewa membuka mata beranjak dari permadani. Dia tidak biasanya murung, jemari panjangnya menepis ujung sudut genangan air mata. Melihat sang raja mendekat, Winan menutup wajahnya berlari meninggalkan ruangan kebesaran. Dia menghilang keberadaan yang tidak ada satupun mengetahuinya. Berada di dalam menara tertinggi yang di beri mantra. Panggilan Sadewa tertutup sihir membuat sang raja bingung apa yang terjadi padanya.


“Apa yang tejadi dengan ratu?” tanya sang raja pada panglimanya.


“Kami tidak tau pasti yang mulia, tapi sang ratu tampak bersedih” jawab Ruti dari arah belakang.


Raja menggunakan kekuatan suwung laduni mencarinya, Dia berhasil menemukan sang ratu. Dia menggeluarkan sukma berjalan menembus dinding menara. Masuk ke badan seekor laba-laba, sang ratu menoleh melihat siapa yang memanggilnya.


“Ratu ini aku raja gurun.”


“Jangan mempermainkan ku jin pengganggu, pergi atau aku bunuh kau!”


“Ratu, aku masuk ke dalam laba-laba ini, Tubuh asli ku ada di luar. Cepat buka pintunya atau aku terjebak selamanya di dalam hewan ini.”


Sang ratu mencoba mempercayai laba-laba hitam yang bisa bicara itu. Benar apa yang di katakannya, tubuh sang raja kaku berdiri tegak. Raja masuk ke dalam tubuh aslinya. Ratu memalingkan wajah, sang raja menarik tangannya. Ratu tidak bisa lagi menanahan tangis, dia menenggelam kan wajahnya di pundak sang raja. Apapun yang dia inginkan tidak terlepas dari kehendak keputusan raja yang sangat dia cintai.

__ADS_1


“Apa yang engkau inginkan? Engkau selalu membantu ku. Katakanlah”


......................


Sihir-sihir yang melayang di udara, Udum mengutus perwira Malaka mencari kabar mengenai Banyuwangi. Tangkla yang begitu tunduk mengabdi pada negeri gurun sudah bersumpah agar tetap mengabdi. Raja jin Udum menggeleng kepala, dia ingin sang anak mencabut sumpahnya dan menggantikan posisi tahtanya.


Air dan Api berlawanan, kekuatan yang tidak bisa menyatu. Salah satu elemen yang memadamkan atau membakar. Kerajaan negeri gurun Selatan kedatangan tamu yang tidak di undang, Argo bersama bala tentaranya memasuki garis perbatasan. Bunyi sofar, tabu gendang benderang menyalakan sinyal perang. Sinyal negara api mencairkan kutub utara. Dua pemimpin saling berhadapan, siapapun yang menyalakan gencatan senjata penyerangan maka dia di tegaskan sebagai penjajah.


“Banyuwangi, apakah engkau sudah mendengar berita peperangan negeri Barat dan Selatan?”


“Apa yang kau maksud adalah negeri ayah ku?”


“Ya, sinyal sofar menyala bersahutan. Aku melihat dari atas perbatasan di negara tetangga”


Berita dari Taga mengejutkan Banyuwangi. Tangkla air sebagai putri makhota berlari menuju negerinya. Pengawal Laksa, penjaga Tatan dan perwira Malaka hangus, mendapat luka bakar yang serius.


“Maju!”


Panggilan para penguasa air mengangkat air memadamkan api yang meratakan negeri Udum. Dia berdiri di depan sang raja, Argo menyalakan api biru mengarahkan lemparan membanting tanah. Raja Udum menghalangi ketika Banyuwangi mengunakan kekuatan roh halus pemimpin air terdahulu.


“Jangan engkau bangkitkan kekuatan yang belum bisa engkau imbangi itu wahai anak ku. Tubuh mu akan ikut terkikis masuk menjadi bagian air di dalamnya” ucap Udum.


Tenaga sang raja yang terlalu tua menopang negeri air. Dia mengorbankan diri supaya negeri api hanyut di dalamnya. Penguasa yang ingin menjajah mundur menggunakan bola api terbang. Roh penjaga air bangkit, harapan terdalam yang di dengar adalah meminta negeri jin air di lindungi dari serangan apapun.


“Ayah!” teriak Banyuwangi.

__ADS_1


Lengkingan kesakitan, jin-jin air yang bersarang di dalam dasar lautan, sungai dan danau keluar dari sarangnya. Hanya penguasa api memiliki kekuatan besar dapat terlepas dari serangan air pembunuh. Kematian pemimpin jin air Udum membawa badai yang sangat besar. Melahap jin prajurit jin api, adapun jin api iblis yang tidak di bunuh di tenggelamkan dalam kurungan di dalam dasar lautan yang tidak terbatas.


Terjadinya lautan segitiga Bermuda


Sarang iblis yang tidak terjamah elemen lain. Kebangkitan iblis mengangkat bala tentara yang terkurung di dalamnya. Isak tangis Banyumas, dia tidak bisa memeluk jasad sang ayah yang menyatu dengan air. Utusan ratu Winan membantu negeri itu bahkan kehadiran sang ratu sekalipun tidak bisa mengembalikan orang yang paling di sayang Banyuwangi.


Setiap pemimpin di jaga oleh roh halus penghuni tanah yang mereka pijak. Winan memeluk Udum menenangkan isak tangisnya.


“Maafkan aku tangkla air, aku tidak bisa menolong mu. Sedang negeri ku banyak sekali mendapat guncangan masalah” kata sang ratu.


Banyuwangi tidak bisa menjawab. Lidahnya keluh, dia memendam kebencian pada musuh yang membunuh ayahnya. Dia bertekad dalam hati, mulai hari ini bagian dari sekte api atau hal yang menyangkut jin api adalah musuh utamanya.


“Aku_aku sangat membenci penguasa api. Pergi kau Bara!” usir Banyuwangi.


Serangan air Banyuwangi agar memadamkan kekuatannya. Bara mengerti bagaimana suasana hatinya saat ini. Dia meminta ijin pada sang ratu Gurun meninggalkan negeri Air.


Asap dupa dan bunga menyemai lautan lepas. Hujan deras membasahi negeri yang kehilangan pemimpinnya.


......................


Pengingat pengabdian para tangkla air


Pada hari itu pula punggawa meminta sang putri mahkota di angkat menjadi ratu. Banyuwangi sempat berseteru tegangan tinggi amarah merasa para pengikut ayahnya tidak menghormati kepergiaannya.


“Ampun yang mulia ratu, di negeri yang sedang di landa bencana hebat ini. Kursi pemimpin harus segara di isi. Raja maupun ratu harus memberikan dekrit kepemerintahan sebagai penguat negeri yang akan binasa.”

__ADS_1


“Aku masih enggan memikirkannya. Semula aku berpikir engkau sang penjaga negeri yang paling setia”


“Maafkan hamba wahai putri, hamba hanya ingin yang terbaik untuk negeri ini dan keselamatan putri yang lebih utama. Hanya putri yang tersisa, kami berharap tuan putri bisa memahaminya.”


__ADS_2