
Pria pemuja wanita, harus hasrat merusak kehidupan para wanita yang dia temui. Seakan bertemu dengan Adika adalah sebuah kesialan hidup bagi Dewi Bahati dan Lintani.
Di dalam tidur Adik bergurau memanggil nama wanita lain. Bahati terdetak membelalak sorot mata melengos. Dia mengguncangkan tubuh, Adika membuka mata menunjukkan rasa tidak senang beranjak pindah ke kamar lainnya. Setiap hari sikapnya yang berbeda, hingga Bahati memeriksa ruangan kerjanya.
Tempat meracik ramuan sihir yang di penuhi bahan-bahan tumbuhan dari hutan. Di salah satu meja itu dia menemukan beberapa lembar surat berbentuk kupu-kupu. Surat yang sangat mirip ketika dia di goda oleh Adika hingga melupakan Sadewa.
“Aku jadi berpikir apakah benar yang di katakana Yuri, aku terkena sihir kakaknya Adika. Aku malah memarahinya, sungguh bodohnya diri ku!” ucap Bahati.
“Kakang Adika tolong jelaskan untuk siapa kau mengirim surat-surat ini. Dulu kau jug amenggoda ku dengan surat sihir kupu-kupu hitam! Siapa wanita itu?” tanya Bahati.
Adika sangat kasar menampar pipinya, Surya menangis melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Adika mengingat pesan Sadewa yang akan membunuhnya jika melakukan hal buruk pada Bahati. Dia menekan perasaannya dan tangannya yang sudah bersiap memukul Bahati.
Dia pergi menemui Lintani sambil membawa sihir dan syair indah yang menghipnotis wanita itu rela berbuat apa untuk dirinya. Berdua menghabiskan waktu di tepi pantai sambil memandang laut. Adika merenggut masa depan wanita berlanjut memasukkan sihir-sihir ke aliran darah Lintani yang sudah bertekuk lutut di hadapannya.
Rumah tangga Bahati dan Adika tergolong sejahtera dan berkecukupan. Kehidupan mereka di sokong oleh orang tua Bahati, perdana menteri hakim yang masih bekerja di bidang pemerintahan di negera Sarang labar setelah kehancuran Kartanegara.
Mbok Rija menggendong Surya yang masih menangis. Sambil membuka pintu dia menyambut kedatangan seorang wanita dengan pedang yang sangat panjang di pundaknya.
“Permisi, saya mau mencari kak Bahati”
“Sebentar ya saya panggilkan nyonya__”
Dia kembali menutup pintu, mengintip dari jendela memastikan tidak ada yang mencurigakan dari wanita tersebut. Perlahan memberitahu Bahati kalau ada tamu yang mencarinya. Wanita itu enggan menoleh, air matanya masih mengalir sangat deras.
“Katakan saja aku sedang sibuk mbok” ucap Bahati.
__ADS_1
“Kak! Kak Bahati!” teriak Yuri dari luar.
Dia tidak bisa terlalu lama menunggu di luar. Para prajurit Sarang laba setiap hari bertugas mencari sisa rakyat Kartanegara dan para pembuat ramuan sihir lainnya. Mendengar suara yang tidak asing itu maka Bahati berlari membuka pintu. Dia memeluk erat, perlahan keduanya berjalan masuk ke dalam.
“Kakak, apakah sekarang engkau sudah percaya perkataan ku?” tanya Yuri.
“Iya, maafkan kakak selama ini telah keliru.”
“Jika tidak ada halangan aku akan mengantarkan ramuan penyembuh sihir. Kakak aku harus pergi, ada banyak prajurit Sarang laba di luar sana yang mengincar peracik ramuan Kartanegara.”
“Terimakasih banyak Yuri__”
......................
Wilayah Sarang laba itu semakin meluas, bekas-bekas jajahan dan perampasan hasil perang menjadikan kerajaan semakin Berjaya. Raja Diraga tidak mengijinkan siapapun masuk ke wilayahnya. Dia merampas semua hasil alam dari wilayah jajahan Apapun di ambil tanpa tersisa. Lusa akan ada pertandingan mencari abdi dalem para prajurit terkuat sebagai penjaga istana Sarang laba.
“Ahaha, mau kemana anak manis?"
“Serahkan senjata mu!”
“Arghh! Tolong!” bi Lefi menjerit ketakutan.
Dia menjatuhkan keranjang belanjaannya. Pertarungan Lintani mengarah sampai ke perbatasan hutan bagian barat. Dia di kepung Nyi merah dan Manusia tengkorak, hantaman pukulan yang di dapat dari ujung tongkat Manusia tengkorak meruntuhkan benteng pertahanannya. Dia terbanting, senjatanya terlepas akan di ambil Nyi merah namun di tepis oleh Sadewa.
“Kurang ajar! Terimalah serangan ku. Hiya!”
__ADS_1
Nyi merah mengeluarkan jurus andalannya.
Sadewa menggunakan ke empat elemen menyerang keduanya, Dia menutup pembatas tanah dengan lalu pergi membawa Lintani. Untuk yang kedua kalinya pria itu menyelamatkannya, kali ini Lintani tidak pergi begitu saja. Saat membuka mata, dia melihat sosok wanita tua dan pria yang di sampingnya.
“Terimakasih atas kebaikan kalian kepada ku. Uhuk! Uhuk!” Lintani tidak bisa menggerakkan tubuh.
Mbok Rongya membantunya duduk bersandar di dinding. Dia di beri tegukan ramuan sihir putih yang di racik Yuri. Sadewa meminta dia agar beristirahat agar bisa segera sembuh. Dia melanjutkan mengasah ilmu laduni yang hingga saat ini belum sepenuhnya dia kuasai di samping senjata pamungkas peonix yang terasa masih kosong meski sudah bisa dia dapatkan.
Senjata itu belum seutuhnya menyatu dengan jiwa dan raga si pemiliknya. Lintani sering memperhatikan Sadewa melatih kekampuannya, dia bersembunyi di salah satu pohon yang tinggi sambil mengamati jurus kekuatan pria itu.
Hari ini dia merasa sangat mual, Lintani tidak seimbang terjatuh dari atas ketinggian. Sadewa menangkapnya, mereka berdua beradu pandang tanpa terasa sudah berada di halaman rumah.
“Tolong turunkan aku. Terimakasih atas kebaikan mu dan mbok, tapi aku harus pergi.”
Wajah sedih Lintani yang tidak bisa di tutupinya, dia berlari tergesa-gesa. Sadewa mengikuti langkahnya, dia sangat terkejut melihat ada Adika yang ternyata dia temui. Sadewa melangkah lebih dekat di balik semak-semak mendengar pembicaraan mereka.
“Bagus kalau begitu, keturunan ku semakin banyak. Aku akan menjadikan mu istri kedua”
“Apa? Kakang, ternyata selama ini kau sudah beristri? Teganya kau membohongi ku! Hiks!”
“Kakang Adika! Kau pengkhianat!” pekik Sadewa.
Dia menghajar Adika hingga pria itu sekarat. Tidak puas sampai mencampakkannya ke laut, Lintani hanya bisa menjerit meminta agar Sadewa memaafkannya. Tubuh Adika di tarik dari dalam air menggunakan elemen air. Dia memusatkan pikiran mengeluarkan semuan kekuatan dan tenaga dalam berpusat menjadi satu. Ilmu sihir lenggo geni, api merah dan biru membakar sihir dan semua kemampuan yang di miliki Adika. Dari sela jari jemari sihir hitam yang di kuasainya itu terlepas hangus dan musnah. Adika menjerit meminta ampunan pada Sadewa.
“Kau adalah saudara ku, tolong ampuni aku dan kebalikan kekuatan ku seperti semua. Arghh!” ucapnya sambil berlutut.
__ADS_1
Sadewa pergi menarik tangan Lintani menjauh darinya. Dia di bawa kembali ke kediaman Gupta. Mbok Rongya menggeleng kepala terkejut akan sifat jahat pada diri Adika.
“Anak itu semakin binal dan tidak pernah berubah. Ayah mu pasti sangat marah dan malu. Si mbok tidak setuju dia bisa meracik sihir dan memiliki ilmu” kata mbok Rongya menghela nafas panjang.