
Penguasa api di giring agar menyaksikan penobatan para tangkla yang baru. Raja memerintahkan seluruh abdi dalem memberi hormat pada tangkla baru itu. Hanya para penguasa api yang angkuh mereka menentang mendongakkan kepala tidak mau memberi hormat. Raja semula menimbang agar sang para penguasa api di beri keringanan dalam menjalankan sanksi. Tapi, melihat sikap angkuhnya. Kali ini Sadewa mengangkat pedangnya ke atas langit.
“Ajudan rantai mereka di depan mimbar batu peradilan!” perintah sang raja.
“Aku memberikan satu kesempatan lagi. Kalian memberi hormat pada para tangkla atau kehilangan kekuatan?”
“Apakah kau bercanda? Bagaimana bisa pedang mu itu menghilangkan kekuatan para jin? Dasar kau raja gila” gumam penguasa jin kedua.
Ketiga jin yang angkuh tetap tidak mau membungkuk. Begitupun para penguasa jin lapi lainnya yang menyaksikannya. Sadewa memerintahkan semua penguasa api di rantai. Tidak ada yang boleh mendekat setelah tangan dan kaki mereka di ikat. Sang raja melepaskan jubah kebesarannya menyeret pedangnya mendekati para penguasa terganas itu.
Ruti berjaga jika raja di serang menggunakan api biru maka dia adalah jin pertama yang terkena api kematian itu. Sesuai dugaannya, para jin menyatukan kekuatan membentuk api abadi. Sang ratu langsung berdiri memerintahkan para penguasa membentuk benteng pelindung istana. Jika api itu berkobar maka negeri gurun akan hangus tidak tersisa. Ratu Winan mengeluarkan seluruh kekuatannya, dia memadamkan kobaran bola api biru yang siap menghantam sang raja. Sadewa tidak gentar mengayunkan senjatanya. Dia mengeluarkan ilmu suwung laduni api di dalam senjata pamungkas peonixnya.
Arwah peonix keluar melahap api biru yang di bentuk para penguasa jin api. Siapa yang mengira sosok manusia itu bisa menaklukan arwah peonix si pemilik kehidupan keabadian. Pedang yang hebat itu bisa membelah api, membelah tubuh memisahkan kekuatan api mereka. Raja meletakkan api milik para jin itu ke dalam pedangnya. Penguncian api itu hanya sang raja yang bisa membukanya.
Jin yang tidak memiliki kekuatan di dalam istana sama saja bagai jin yang tidak berarti apapun di istana. Para jin api yang menyombongkan diri itu akhirnya berlutut meminta ampunan. Semua yang di ucapkan kini tidak berguna. Raja memerintahkan para algojo menyeret mereka ke dalam penjara istana. Tidak ada yang boleh menyalakan api, ruangan mereka hanya bisa terang dari sinar matahari atau rembulan yang masuk.
Pengawal menjaga sel di larang keras membawa dan menyalakan percikan api sedikitpun.
“Ini adalah hukuman ringan tanpa harus kehilangan nyawa. Siapa saja yang berani menentang titahku maka akan berakhir seperti mereka."
“Kami akan selalu mengingatnya yang mulia!”
__ADS_1
......................
Di alun-alun istana, raja menghampiri sang ratu yang sedang menjaga langit. Wanita yang biasa memanjakan dirinya agar tampil cantik semaksimal mungkin sekarang meninggalkan hobinya. Pra pedagang yang biasa dia datangkan dari negeri seberang jarang singgah menunjukkan perhiasan yang menyilaukan mata.
“Ayah!” Langit memeluknya erat.
“Ayah, ibu melarang ku naik ke tubuh elang raksasa, padahal kami bersahabat sangat baik.”
“Ibu mu benar langit, karena tubuh mu belum cukup kuat berpegangan di atas tubuh besar sahabat mu ketika mengudara.”
“Raja, mengapa tidak engkau bunuh saja tangkla pembangkang itu. Apa jadinya negeri kalau engkau tidak berhasil menundukkan bola api biru?”
“Ratu, bumi jin maupun manusia membutuhkan keseimbangan alam. Kita tidak boleh memusnahkan sumber kehidupan api. Kita hanya bisa memadamkannya. Aku yakin di luar sana, jin-jin api yang mendengar penguasa api di bunuh maka negeri Kartanegara akan terancam.”
......................
Serangan mendadak memporak porandakan istana. Pengawal inti dan panglima kedua sedikit lagi tewas terkena sayatan iblis. Dom membawa para keluarga kerajaan dengan bersembunyi-sembunyi melewati pintu rahasia halaman belakang istana.
Prameswangi, para pengawal inti dan dayang-dayang pendamping berjalan sepanjang malam melewati jalan yang tidak di lintas manusia. Mereka mendengar suara aneh hewan liar, teriakan bahkan tidak jarang hantu yang sengaja menampakkan diri menganggu.
Di sebuah gua dekat lintas keluar masuk para jin adalah pilihan terakhir Dom menempatkan mereka.
__ADS_1
“Maafkan hamba ibu suri, disini lah tempat yang aman sambil menunggu kedatangan Ruti dan Adipati. Hamba memasang pengawal di pintu masuk hutan.”
“Engkau sudah menyelesaikan tugas dengan baik. Ini bukan pertama kali saya di kejar-kejar para pemberontak. Saya dulu juga mengalami hal naas seperti ini bersama almarhum raja Yetno. Ronggo jagad yang membantu kami hingga mengambil tahta yang di rampas para penghianat. Dom, apakah engkau tetap sabar menjaga ku sampai raja Batara kembali?”
“Ini sudah menjadi tugas hamba yang Mulia. Baseka juga sedang dalam perjalanan kemari setelah mengetahui penyerangan di istana.”
Wicak tertawa di atas kemenangannya. Dia telah menggadaikan jiwa demi mendapatkan keinginannya. Dia membunuh siapapun yang berani menentangnya. Tidak ada satupun abdi dalem yang melawan. Tahta, kerajaan, kekuasaan, pendamping setan menjadikan seorang sudah di lantik menjadi penguasa negeri. Seorang pria berpakaian dari wilayah lain memaksa menerobos masuk, dua penjaga di serang. Semula pria itu mengatakan hanya ingin mencari kayu bakar malah menyerang bahkan mengeluarkan senjatanya. Pasukan lain mengabarkan pada Dom, pria itu berhenti di tengah nafasnya yang kencang.
“Ada keperluan apa engkau sampai membuat keonaran di tengah malam begini?”
“Aku sedang ada keperluan mendesak. Cepat biarkan aku lewat jalur ini!”
“Tempat ini aku blokir untuk sementara waktu. Anda bisa lewat jalur lainnya.”
“Apa pangkat mu hingga berani menentang ku? Rasakan senjata ku ini! hiyaa!”
Dom terpaksa menyerang hingga terjadi pertumpahan darah. Dia membunuh pria itu, memerintahkan para pengawal menguburnya dengan baik. Di dalam benar jika saja dia tidak membuat keributan dengan gelagatnya yang mencurigakan maka dia tidak akan tewas.
Di pagi hari Prameswangi menanyakan tindakan kejam Dom. Pria yang jarang tersenyum itu memberi hormat kepada sang ibu suri.
“Kenapa engkau membunuhnya?Apakah kesalahannya sangat besar?”
__ADS_1
“Maaf yang mulia, siapapun yang mencoba masuk wilayah ini maka saya akan menghabisinya. Semua ini demi menjaga keselamatan sang ratu.”
Di balik ke khawatiran prameswangi, menunggu kedatangan kedua anaknya yang tidak kunjung tiba. Pengawal Ruti sampai saat ini juga belum memberikan kabar apapun. Dia tidka terlalu meletakkan banyak harapan besar pada Adipati karena Sadewa kini menjadi penguasa raja jin yang lebih sibuk mengurus kerajaannya.