
Sadewa berusaha menenangkan Winan yang sangat gelisah. Di dalam ruangan kebesaran, dia membiarkan ular-ular yang di dalam mahkota keluar dari dalam menghilang. Winan tampak sedikit tenang menerima perlakuan hangat dari Sadewa. Kerajaan itu tidak seangker dahulu, para jin pengawal juga bisa beristirahat. Sangat jarang mendapat amarah cambukan dari kekuatan hitam sang ratu.
Istana yang ketat penjagaan itu tembus pada moksa sosok jin yang berubah menyerupai ular mirip Winan. Para pengawal maupun prajurit yang berjaga berpikir ular yang melilit pohon hanya ular penjaga yang di kirim sang ratu namun ternyata tidak demikian. Salah satu prajurit terkena bisa ular. Tubuh jin hangus mengeluarkan aroma tidak sedap.
Salah satu siluman serigala yang berani mencari masalah tidak lain adalah sosok urutan pertama yang memainkan peran kutukan mengubah menjadi hewan-hewan yang dia inginkan. Tawa siluman serigala berhasil mengubah bagian penjaga inti istana. Tangkla tanah menggunakan elemen menjauhkan kakinya yang mulai merambat memasuki istana.
“Hahaha, kita bertemu kembali Rakum. Aku tau jurus mu tidak sehebat dahulu. Kekuatan para tangkla gurun pasir pasir sudah terlalu banyak terkuras akibat berperang melawan kegelapan!”
ucap sosok siluman serigala melanjutkan suara aungannya.
Mata Winan memerah menyala merasakan sosok hitam masuk ke dalam istananya. Sadewa yang lebih duluan maju menggunakan senjata pamungkas peonix melawan sosok siluman menerbangkan kekuatan makhluk abadi.
“Apakah kau harus mengulang kekalahan mu? cepat pergi atau senjata ku ini menebas leher mu!”
Ancaman Sadewa dapat mengusir siluman pengutuk itu pergi. Namun sihir yang di tinggalkan membuat sang raja gurun harus berperang sendiri dengan para pengawalnya. Melepaskan kutukan tidak semudah mengeluarkan kekuatannya. Banyuwangi yang hadir di dalam gulungan air membawa puluhan prajurit yang terkena kutukan masuk ke dalam es batu pembeku cakra air miliknya. Mereka di bawa keluar permukaan bumi. Para prajurit yang terbungkus es beku di tenggelamkan ke dalam mata air pusara bumi. Ruti di utus menjaga mereka dan melaporkan pergerakan yang terjadi.
Untuk masa-masa bimbang di hatinya, Winan lebih membutuhkan kehadiran sang raja dari pada para dayang pendamping. Setiap kali Winan menutup mata, dia seperti sosok jin yang depresi memanggil nama sang raja Gurun hingga keluar ruangan kebesaran tanpa mengenakan mahkota dan tanda kebesarannya.
__ADS_1
“Taga! Cepat cari dimana raja berada!” ucap Winan, pandangan membelalak ke segala arah.
Baru sekitar sepuluh menit Sadewa meninggalkannya. Dia memerintahkan seluruh para pengawal mencari sang raja. Mendengar sang ratu yang sangat gelisah, Sadewa segera pergi menghampirinya. Sosok jin yang tidak pernah dia sangka-sangka bertekuk lutut hingga kini sangat mencintainya itu membuatnya dia menyalahkan dirinya.
“Tidak sepantasnya aku sebagai manusia biasa mendapat anugrah tubuh setengah jin yang berilmu tinggi. Ya dewa, lihat lah sosok jin di hadapan ku. Dia pernah menjadi jin terkuat, tercantik dan paling di takuti para bangsa jin. Kini dia seolah berubah menjadi sosok ibu rumah tangga yang mengkhawatirkan suaminya pulang ke rumah. Usia kandungannya tampak sangat menyulitkannya” gumam Sadewa.
Sadewa yang bermaksud mengeluarkan pertapaan untuk melihat pertikaian di negeri-negeri seberang akibat gangguan sekte hitam di tunda menenangkan Winan. Kegelisahan mengeluarkan semua sihir kekuatannya, dia menutup negerinya dengan pasir ganas. Sadewa melepaskan pedang pamungkas peonix ke dalam tanah. Kali ini dia sudah pasrah jika takdir tidak mengizinkan anaknya kembali maka dia akan menyimpan pedang arwah ke dalam perut bumi.
Menyadari setiap darah yang terkena pada pedang membuat anaknya semakin terjebak di dalam senjata yang terikat dalam wujud asli Langit. Sadewa masih ingat langit mengeluarkan api dari langit setelah kelahiran anaknya. Pedang sang pendekar tidak lagi ingin dia gunakan untuk berperang, Winan menentang niatnya karena sama saja dia menyerah melindungi negeri.
“Raja, bukan kah engkau seorang pendekar Kartanegara? Aku tidak menginginkan engkau melupakan langit seperti halnya engkau ingin melupakan anak ku sendiri” ucap sang ratu.
“Kita tidak bisa mengukur kekuatan raja setengah manusia itu. Dia di kelilingi para tangkla gurun yang siap membantu” ucap Argo di depan meja bundar api.
“Tapi setidaknya kita bisa padamkan semangat mereka dengan gangguan yang tidak henti masuk ke dalam istana”
“Perkataan raja api dan ketua sekte hitam ada benarnya. Tapi sekarang tuga utama memastikan Winan hancur sebelum dia melahirkan bayinya. Ratu jin yang sombong itu sudah terlalu lama bertahta di dalam kekuasaannya yang merenggut jiwa-jiwa manusia. Hahaha”
__ADS_1
Iblis mekar menyalakan bola api membentuk petir di udara.
Dedemit merah mengamati kekuatan yang di keluarkan para pembesar negeri kegelapan di tarik oleh ratu iblis mata satu. Dia perlahan keluar dari dalam istana kegelapan. Masuk kea lam bangsa lelembut, dedemit merah tidak pernah melupakan janji pada leluhur Kartanegara agar tidak mengganggu garis keturunan bangsa manusia di mulai dari raja pertama dan akhir.
Jin bangsa lelembut terpaksa berpura-pura patuh mendengarkan semua perintah dari iblis mata satu agar bangsa mereka tidak musnah. Dedemit merah, memberitahu pada pemimpin lelembut agar tetap berpura-pura patuh.
Dedemit merah memanggil Bara masuk ke dalam bangsa lelembut. Bara setengah ketakutan memenuhi undangan itu. Dia mempersiapkan sinyal api jika dirinya mulai terancam.
“Kenapa kalian memanggil ku? Terutama kau panglima negeri api. Apakah kalian telah mempersiapkan jebakan untuk ku?”
“Tangkla Api, aku tau kau pasti berpikir aku akan menyakiti mu. Aku hanya menawarkan bantuan di balik rencana besar yang akan menyerang tiga kerajaan secara serentak. Iblis Mekar akar membangkitkan kekuatan iblis mata satu. Para peri bersayap hitam, sekte dan sekelompok jin api.”
“Kenapa engkau mengatakan semua itu pada ku? Apa sebenarnya rencana mu ini?”
“Dengar Bara, aku tidak mempunyai waktu yang lama keluar dari sarang perkumpulan iblis. Aku akan memanggil mu kembali jika ada hal mendesak.”
Dedemit merah menghilang menerbangkan sisa angin api. Bersamaan dari itu, Bara pergi mengabarkan berita yang dia dapat dari panglima tangan kanan negeri api. Para tangkla lain tidak mempercayai perkataan dedemit merah, mereka sangat paham tipu muslihat yang di lakukan bangsa iblis agar mengacaukan kembali kerajaan yang mereka incar.
__ADS_1
Di dalam rapat besar itu, Winan mengeluarkan mustika ular sanca agar memperlihatkan kejadian di dalam sarang iblis. Meski mereka hanya bisa melihat dari kilauan hijau tanpa mendengar pembicaraan mereka, terlihat sebuah peta dan susunan perang ke negeri gurun, Kartanegara dan Makuta.