Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Karalyn & Lusia


__ADS_3


Penggambaran wajah berparas cantik jelita mirip seperti ibunya. Bentuk wajah yang oval, hidung mancung, dagu lancip, mata kecoklatan indah bersinar menggores guratan tajam. Kebiasaan yang memakai bagian kehitaman di sudut mata, dan penghias corak warna mempertajam mata.


Rambut lurus, panjang bersinar di bawah terik mentari. Pakaian yang di kenakan mirip seperti ibunya Winan. Hal mistis yang belum dia sadari adalah kekuatan pada mahkota permata merah. Dia memiliki pelindung dan ilmu dari dua alam dimensi yang berbeda. Ular-ular jin yang mengikuti dari jarak jauh dan sosok Ruti yang di perintahkan berjaga setiap saat.


Hari sulit di dunia, dia melatih diri sebelum di lepas Banyuwangi di alam manusia. Pelatihan yang melibatkan para tangkla dan pengawal kepercayaannya. Di kala malam, dia meringis merasakan sakit pada kulitnya yang terbakar setelah banyak mengeluarkan tenaga dalam. Ingatannya terhapus, dia seolah merasakan sakit pada bagian jantungnya. Waktu yang tidak bisa dia ingat sedikitpun.


......................


Di istana gurun, pada bagian menara tertinggi. Salah satu bangunan yang telah lama tertutup di buka Winan demi melihat keadaan anaknya. “Ratu ku, sungguh aku tidak mau kita menyalahi takdir. Utusan kepercayaan kita cukup menjaga anak kita di dunia. Kalau tidak, aku akan ke permukaan bumi. Jatuhkan pilihan mu wahai istri ku. Aku siap menjaga Kara walau harus meninggalkan mu dan negeri gurun.”


Winan lebih banyak menangis, dia belum menerima takdir yang melemahkan dirinya dan menenggelamkannya setiap detik dalam kesedihan.


“Tinggalkan aku sendirian. Wahai raja, biarkan lah aku melakukan apa yang aku kehendaki.”


“Ratu ku, jika engkau mengorbankan diri. Maka aku tidak mampu memimpin negeri ini sendirian. Bukan kah asal ku dalam alam dunia? Aku telah kehilangan langit dan sekarang Karalyn.”


Persamaan pada sosok Lusia, berpisah dengan ibunya namun masih di lindungi oleh sang raja Batara. Kejadian hari ini membawanya menemui alam yang seharusnya dia tempati.


Di sebuah kamar permadani, berubah dekorasi mirip seperti negeri peri. Tempat tinggal pertama sang ratu Seza. Pepohonan hijau semilir tertiup angin, bukit berbunga memancarkan panorama indah warna-warni. Kupu-kupu yang berterbangan, rumah-rumah kecil hewan bersayap. Di dalam sana Lusia tidak pernah sedikitpun merasa kesepian. Tidak sampai hari ini, perbincangannya dengan salah satu makhluk bersayap menanyakan dimana sang ratu cahaya peri putih tertinggi.


“Aku baru mendengar namanya Sali, ayah tidak pernah memberitahu pada ku. Apa itu ibu?” tanya Lusia kebingungan.

__ADS_1


Seluruh penghuni istana di bungkam supaya tutup mulut, titah sang raja agar tidak ada yang boleh menyebutkan nama sang ratu cahaya peri. Pada hari ini, kebenaran tersembunyi terbuka sebuah nama yang sangat berarti di hidupnya. Lusia berlari kecil melewati lorong istana, dia di larang terbang menggunakan sayapnya yang di tutup dengan jubah raksasa.


“Tuan putri, kenapa sampai disini?”


“Pengawal Dom, dimana ayah?”


“Baginda raja sedang dalam perjalanan kembali, bukan kah tuan putri tidak boleh keluar dari ruangan sebelum mendapat perintah dari sang raja?”


“Ada yang ingin aku tanyakan pada ayah. Dom, apakah engkau tau ibunda ratu peri?”


“Maaf tuan putri, hamba sedang terburu-buru, Banyak saudagar hari ini melewati gerbang pembatas istana. Hamba mohon tuan putri kembali ke ruangan.”


Dayang pendamping menggiringnya masuk, Lusia mulai berpikir para penghuni istana menutupi sesuatu darinya. Salah satu sahabat terdekat yang tidak pernah berdusta di dalam sifatnya yang dingin adalah Banyuwangi. Masuk ke dalam kelopak bunga permadani, dia menyebarkan serbuk peri cahaya ke mata sumber mata air yang mengalir bagai sungai yang jernih.


Serbuk peri di dalam air bergerak melawan arah gerakan air, para penjaga istana inti waspada kekuatan sihir hitam menyerang menggunakan tipu muslihat. Laksa menghadap sang tangkla, jarak terlalu tinggi di atas gunung kutub sekitar lautan. Dia memberi sinyal darurat, Banyuwangi menurunkan sebuah kunci pembuka pintu fortal alam manusia.


Mengikuti arah air yang terbang membentuk gumpalan beku, Laksa membuka pengunci pintu, tembusan mengarah ke bagian alam dunia. Laksa mengerut melihat makhluk-makhluk bersayap yang tinggal mirip di sebuah negeri jin yang hilang.


“Inikah bagian dari negeri peri cahaya Seza?” gumam Laksa.


Di ujung mata air yang mengalir, dia terperangah menunjukkan rahang jin teramat lebar.


Sepasang sayap tidak pernah lagi kehadirannya terlihat di bumi jin. Dia mendekati sosok manusia peri yang tampak ketakutan akan kehadirannya. Lusia terbang tinggi, tanpa dia sadari kekuatannya bisa menembus lapisan pembatas sihir istana.

__ADS_1


“Tenang putri peri, hamba adalah utusan ratu Air, serbuk sari yang engkau kirim memberi tanda di negeri Air. Tolong sang putri segera menghadap yang mulia ratu.”


Laksa menjatuhkan senjata sebagai tanda perdamaian, dia juga menunduk menunggu Lusia masuk ke dalam pusara pintu air. Tubuhnya tercampak di atas bongkahan es yang membeku.


Bruggh__ suara tubuhnya terhempas kuat. Dua sosok dayang membantunya berdiri, dia di giring menghadap sang ratu. Sepanjang jalan melewati pilar-pilar raksasa yang berbentuk seperti liukan ular. Lusia bertanya jenis hewan apa yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


“Hewan apa itu bu?”


“Tuan putri, panggil kami dayang es. Hewan yang putri maksud adalah jelmaan naga air yang menjaga istana ini.”


Berhenti memandang sosok perempuan yang sebaya dengannya. Dia melihat kekuatannya yang lihai mengendalikan air. Bukan hanya itu, ketika sosok wanita yang memakai mahkota menyerangnya menggunakan air bercampur lahar api panas. Lusia mengepakkan sayap peri mengibas air larva hampir mengenai para pengawal dan makhluk-makhluk di tempat itu.


Kara mengendalikan kekuatan empat elemen, dia menghentakkan kaki membalas es sepanjang retakan larva air yang meleleh kan pembatas kekuatan pembeku.


“Latihan cukup hari ini..”


Banyuwangi mengurungkan niat bertemu dengan Lusia, dia masuk ke dalam singgasana. Lusia di tahan dua dayang menggiringnya masuk ke sebuah ruangan yang jaraknya dekat tempat sang ratu air.


“Tunggu, kita belum kenalan. Aku Karalyn, jurus mu hebat juga. Sayap mu indah, baru kali ini aku melihat ada kupu-kupu terbang mengeluarkan serpihan serbuk bercahaya terang.”


“Aku Lusia anak sang raja Batara.”


“Raja pemakan matahari? Jadi benar semua cerita yang ada di buku itu? wah, aku ingin sekali melihat bagaimana rupanya.”

__ADS_1


“Ayah ku sangat sibuk, aku saja bertemu dengannya harus dalam jangka waktu yang sangat lama. Aku kesini di bawa sosok pria yang bertubuh aneh. Aku jadi sedikit curiga di tempat ini” bisiknya sambil memang pandangan melirik ke kanan dan kiri.


__ADS_2