Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 82


__ADS_3

Kita tidak akan bisa mengalah dengan waktu. Kegelisahan akan menghanyutkan jiwa dalam kekacauan mengacaukan hari. Dalam layangan sihir kegelapan menghancurkan banyak kehidupan. Neraka terbentang luas, penghuni memenuhi melebur keganasan jiwa yang tenggelam. Arah angin kali ini lebih panas dari putaran kutub timur maupun barat. Cahaya matahari mengeluarkan panas api meracau lebih banyak menyembur ke atas permukaan bumi.


Alam manusia berhawa sangat panas, nectar tidak bermuara sempurna di rerumputan hijau yang membentang redam netralisir sisa sihir kegelapan kemarin. Alam dunia sedang di perdebatkan mendengar ada sosok jin ratu peri bersayap yang menduduki tahta sebagai ratu sebelum kepergiaannya.


Namun tolak ukur keingin tahuan itu lebih besar mengarah pada berita sang pendekar Kartanegara, panglima perang utama menjadi sosok raja jin di negeri Gurun pasir. Penguasa Kerajaan Makuta menyerukan panggilan berkerjasama dengan sekte hitam menyerap ilmu pemberian iblis bermata satu.


Menembus pasir ganas, melewati badai pasir selama seratus hari. Pasukan raja Kabut tidak menyerah mencari jalan ke istana megah yang di kabarkan terbuat dari emas.


Melompat ke dunia lain, para pasukan bangsa manusia setengah mundur melihat para jin penjaga depan gerbang istana.


Dari kejauhan saja tubuh mereka terlihat teramat besar. Senjata raksasa, wajah menyeramkan, dan yang paling menggetarkan kaki mereka adalah sebuah busur raksasa tepat bagian kanan dan kiri gerbang.


“Kenapa kalian berhenti, cepat serang!” teriak sang pengawal.


Dari kejauhan Ruti melihat kedatangan para pasukan manusia mendekati istana. Baju zirah, senjata, bendera simbol negara Makuta yang terbang terbawa angin. Penyerang dari bangsa manusia melemparkan bubuk mesiu menandakan penyerbuan ke negeri gurun.


Suara bunyi sinyal peperangan. Sofar di tiup keras, para tangkla menyiapkan senjata berdiri di atas tembok pembatas wilayah. Di dalam benak tangkla tanah, kalau yang mereka hadapi hanyalah manusia biasa, mungkin kekuatan beberapa prajurit jin bisa menghabisi mereka semua. Tidak sesaat kemudian pikiran terbuyar merasakan getaran sihir bercampur kekuatan iblis.


Tubuh manusia kerasukan menyemburkan api, tenaga lebih kuat sampai setiap nyawa musuh yang mereka lihat seperti seonggok daging yang memiliki darah nan segar.


Ruti menerbangkan sinyal penjagaan, para tangkla membentuk formasi perlindungan membuka cakra di atas langit.

__ADS_1


“Ahaha! Habisi negeri ini!” gema suara raja Kabut.


Dia kehilangan darah manusia, darahnya di ganti sosok jin mengerikan yang bersemayam di tubuhnya. Darah merah manusia di serut habis di pengikut iblis mata satu, berganti darah iblis dalam kurungan iblis yang membawanya ke lubang neraka.


“Memangnya semua pemberian tuan ku ini Cuma-Cuma belaka? Kau harus memberikan jiwa murni, sukma dan tubuh mu” ucap si penganut iblis bermata satu.


“Aku akan memberikan diri ku. Asal aku menjadi raja terkuat di muka bumi! Ahahah!”


Keangkuhan raja kabut menghancurkan dirinya sendiri. Masuk ke sarang asli penghuni pemimpin kekuatan aliran hitam mengantarkan nyawanya. Penjara bawah tanah masih terbuka lebar, menunggu musuh, pembangkang dan pengkhianat negeri.


“Kita habisi mereka! Jangan sampai ada yang lolos!” kata Banyuwangi mulai menggunakan ilmu sihir hitamnya.


“Ada apa ini? pasti ada satu sosok terkuat yang menggerakkan mereka semua. Ya, otak-otak mereka tercuci. Aku yakin pasti si iblis bermata satu berhasrat membangkitkan Firaun” gumam Banyuwangi.


Rakum membelah bumi, hentakan kakinya menjatuhkan para tentara manusia masuk ke dalam lubang raksasa. Tanah yang menjepit tubuh mereka tidak berhasil mengubur para tentara itu. “kekuatan manusia bisa mengalahkan pengawal-pengawal terkuat di negeri gurun? Ini tidak masuk di akal” batin Bara yang menggunakan elemen api membakar tubuh prajurit manusia.


“Aku rasa ini hanya sia-sia. Tangkla Bara, api yang engkau keluarkan akan di lahap habis manusia yang tampak kerasukan kekuatan iblis bermata satu!” kata Rakum dengan nafas tidak teratur.


Panglima penjaga terkuat dari seluruh jagat raya alam jin keluar dari mahkota sang ratu. Tanpa persetujuan pemanggilan Winan, dia berdiri di barisan paling depan. Tubuh raksasa, melingkarkan ekor di wilayah gurun.Tidak biasanya makhluk abadi yang hidup sejak berabad lamanya lebih sering menampakkan wujud. Rambut mengeluarkan ular, menggeliat menyebarkan bisa. Suara kesakitan musuh, darah mereka tersedot habis menyisakan tulang rapuh. Kali ini Sanca mulai membedakan mana bangsa negeri gurun atau lawannya.


Anak panah yang terlepas menembus seluruh prajurit Makuta. Teriakan kekuatan iblis bermata satu keluar dari tubuh manusia. Argo membawa pasukan api, kekuatan yang baru saja di kalahkan jin peri Seza semarak menyusun formasi perang. Negera api musuh utama negeri gurun dari masa ke masa.

__ADS_1


“Prajurit raja Argo telah binasa. Sekalipun ada yang bertahan dari serbuk peri cahaya. Mereka akan bertahan selama beberapa hari. Lantas, pasukan apa yang dia bawa?” gumam Banyuwangi.


Gigi taring panjang, sekujur tubuh berbulu. Kuku runcing menggeliat ular-ular hitam yang tidak kalah berbisanya dengan ular daru rambut Sanca hijau. Perkelahian ular di hentikan sang ratu siluman ular. Dia menggunakan mahkota hijau sebagai tanda kekuasaan tertinggi dari para ular semesta.


Suasa desisan, amarah Seza menelan ular yang tidak mau patah padanya. Tidak perduli ular dari golongan iblis atau ilmu hitam.


Pemimpin negara api membuka cakra api menendang tubuh Sanza. Bara mengeluarkan elemen api menahan serangan. Sanja menegakkan kembali tubuhnya sedang para tangkla lain melawan serangan iblis yang memasuki ruangan kebesaran.


“Jaga kamar ratu!” perintah Ruti.


Penyatuan kekuatan setan memecahkan pembungkus kekuatan sihir Winan. Di atas permadani, sang ratu di kepung.


“Ini kesempatan bagus. Ahahah! Aku mendengar kau mulai memudar dan kehilangan kekuatan. Pasukan, ayo kita bunuh dia!” ucap kaki tangan iblis mata satu.


Tapi nyatanya, kulit sang ratu kembali seperti semula. Pupil *** mata memerah mengeluarkan kilatan. Mahkotanya mengeluarkan ular-ular jin berbisa. Dia juga memegang tongkat Firaun. Ruti berjalan mundur, mengajak para tangkla dan pasukan gurun mencari tempat persembunyian yang aman. Dia juga mengungsi para rakyat jin gurun ke tempat yang aman.


“Ada apa panglima? Bukan kah kita harus melindungi sang ratu dan membantu sanca?” tanya Bara.


Dia masih berada di garda panas tapi tiba-tiba saja sang pengawal membawanya ke dalam gua ratusan tahun di bawa tanah. Di tempat itu tiga kali lebih luas dari wilayah Gurun. Tempat persemedian, mengumpulkan ilmu atau membenamkan harta karun.


“Disini kita bisa menembus jalan penghubung ke Piramida. Apa rencana mu?” Banyuwangi meraba dinding merasakan getaran kekuatan iblis yang sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2