Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 63


__ADS_3

Lima jam sebelum kejadian.


Poppy di antar oleh para tangkla sampai di depan perbatasan. Dia membaringkan dua simbol negara untuk di berikan pada sang ratu gurun dan sebuah simbol milik peri bersayap hijau yang sedang menjadi buronan. Ruti sangat terkejut, dia tidak menyangka kecolongan jin peri di wilayah gurun. Sebelumnya wajah Poppy memancarkan cahaya yang sangat terang benderang. Dia memberikan sebuah kantung serbuk sari ke Poppy serta seluruh tangkla.


“Terimakasih atas kebaikan kalian semua wahai para prajurit besar” ucapnya.


Di sebuah perbukitan dekat gurun pasir, sayap peri Midori lemas sehingga dia tidak sanggup lagi mengepakkan sayap. Dia kehausan dan kelaparan, tidak madu manis dari kelopak bunga maupun air yang segar dari mata air yang mengalir. Berjalan di bawah terik matahari, sayapnya semakin layu. Dia merengkuh kan tubuh di atas batang pohon kering.


“Ya, begini lah nasib ku. Mati di negeri antah berantah” ucapnya menutup mata.


Sosok jin pengawal istana menemukannya. Sinyal melambung di udara. Tahan yang sempat kabur itu tertangkap kembali. Namun, kali ini sinyal itu terlihat oleh dayang peri utama di langit. Dia bertanya pada salah satu penjaga, apa simbol dari sinyal tersebut. Mengetahui ada yang tidak beres, dia lupa telah kehilangan sepasang sayapnya yang kuat. Peri itu tanpa sadar melompat dari ketinggian ke luar jendela istana.


Suara teriakannya itu di dengan oleh Batara. Dengan sigap sang raja menangkap tubuh mungilnya. Mereka saling menatap hingga keduanya menjadi pusat perhatian para penjaga.


“Maaf raja. Terimakasih yang mulai, tolong lepaskan saya” ucap Seza tersipu malu.


Sebagian jiwanya telah merambat seutuhnya menjadi sosok jin. Manusia yang telah tercampur darah bangsa lain itu lebih peka atas bunyi suara yang timbul. Dia enggan menurunkannya, menggendong sampai menuju ke ruangan kebesaran. Namun jari jemari Seza menarik kuat bahkan menepuk kuat lengannya yang berotot.


“Turunkan hamba yang mulia. Tolong jangan hina saya seperti ini”


Ucapan Seza membuat para dayang yang mengikutinya di belakang saling menatap dan bertanya.


Seza berpikir dia masih calon ratu di negeri itu. Belum tentu atau dia belum percaya karena bisa saja sewaku-waktu hati sang raja dapat berubah. Terlebih lagi dia mengetahui siapa jati dirinya berasal dari dayang negeri peri. Sang raja menurunkannya, dia meninggalkannya tanpa sepatah kata.

__ADS_1


Hati Seza di penuhi rasa ketakutan. Bisa saja dia menolak pinangan itu namun mala petaka besar akan menimpanya. Kabar pernikahan itu terdengar Putri Lotus. Di kolam pemandian, dia mendengar para dayang membicarakan ketampanan dan kesaktian sang raja. Kerajaan Batara terkenal sebagai kerajaan yang makmur dan di takuti negeri lain.


“Mera, apakah benar yang di katakan mereka?”


“Menjawab sang ratu. Memang benar adanya putri. Kerajaan itu juga beraura mistis, tidak ada satu orang pun berani melintas di depannya pada malam hari.”


Sang putri sangat tertarik mendengarnya, dia membujuk Raja Kabut agar pergi ke istana itu. Sang putri juga menginginkan pernikahan dengan sang raja. Peran ayah yang sangat menyayangi anaknya sehingga semua keinginannya di turuti.


Tepat di hari peresmian tiba, raja dan iring-iringan sang ratu tiba di halaman istana. Tirai merah membentang, kemeriahan pernikahan sang raja mengundang seluruh pemimpin kerajaan, para pembesar dan pendekar dari berbagai arah mata angin.


“Mohon maaf yang mulia, sebaiknya kuda dan peti ini di tempatkan di sisi halaman belakang istana. Karena bisa menghalangi para tamu yang hadir” ucap Taga.


“Apa maksud mu dengan menghalangi?”


Raja yang di kenal berperan penting dalam perdagangan itu melotot tidak terima. Putri Lotus menggelengkan kepala, dia tidak ingin ayahnya mengamuk di acara yang seharusnya dia menjadi pendamping sang raja.


“Midori, kenapa engkau ada disini? Apa yang terjadi” bisiknya.


“Seza, aku sudah lama mencari mu. Keadaan di negeri peri kacau balau. Engkau benar, ratu peri telah banyak berubah. Dia meninggalkan kebiasaan lama dan menindas para peri. Uhuk. Lalu, mana sayap mu yang indah dan kuat itu?”


“Ya, aku jua tau makanan dan minumannya bukan serbuk sari atau madu dari mahkota bunga. Melainkan darah dan daging mentah. Midori bertahanlah, aku akan membebaskan mu dari sini.”


“Tidak, waktu ku sudah tidak lama lagi. Sosok peri yang keluar dari alamnya walau untuk menyelamatkan haknya sama saja di sebut penghianat. Ini lah karma yang aku terima sebagai peri penjaga negeri.”

__ADS_1


“Lalu, bagaimana dengan ku? Apakah aku juga di sebut penghianat. Kemarin aku juga sempat berpikir demikian sampai aku memutuskan memotong sayap ku demi bakti ku kepada raja gurun.”


“Aku mendengarnya, engkau akan di persunting oleh raja jin setengah manusia itu. Raja Batara, Seza berjanjilah engkau membalaskan dendam ku kepada ratu peri iblis itu.”


Midori menghembuskan nafas terakhirnya, Cahaya masuk ke dalam bekas sayapnya yang patah. Para penjaga melihat tahanan itu meninggal tanpa berbekas. Tangisan Seza tidak bisa di bendung, memukul tanah lalu menyalahkan dirinya sendiri.


“Ini semua salah ku, kalau Midori tidak mengikuti ku maka dia tidak akan binasa. Hiks”


“Ratu, kami mohon agar ratu segera kembali. Seluruh tamu penting hadir. Raja tidak mau duduk di atas singgasana, beliau masih menunggu yang mulia ratu” ucap sang pengawal.


Dia belum di nobatkan sebagai ratu tapi seluruh perangkat istana tunduk padanya. Seza mengingat pesan terakhir sahabatnya itu, dia kembali tegak menyeka air mata. Dia mempercepat langkah mempersiapkan diri menuju penobatan.


Dia meminta para dayang mendandaninya secantik-cantiknya. Seza menggunakan aksesoris peri yang dia pilih dari pengrajin. Seza memanggil penjual gaun pengantin terindah, penjual aksesoris menyilau kan mata dan perias wajah yang bisa mempoles wajahnya lebih dari kata sangat cantik. Peri yang mulai terbiasa menggunakan sepasang kakinya itu memilik sepatu sedikit tinggi berwarna keemasan.


Seza memerintahkan para dayang yang menggiring menuju singgasana memakai gaun segaram. Mereka keluar dari ruangan, mendengar sang ratu telah bersiap maka sang raja bergegas ke berdiri di depan kursi kebesaran. Semua mata tertuju padanya, Seza bagai bidadari yang turun dari khayangan. Wajahnya yang bersinar semakin bercahaya di bawa kilauan mentari.


“Wah cantik sekali..”


“Pilihan raja Batara sangat tepat!”


“Sungguh memukau”


Ritual acara pernikahan di mulai, keduanya saling bertatapan hingga acara terakhir penyematan cincin itu di hentikan oleh putri Makuta.

__ADS_1


“Raja, dia adalah makhluk jadi-jadian yang hidup di muka bumi ini. Engkau telah tertipu oleh kecantikannya sehingga menolak pinangan raja Kabut!”


“Jangan buat kekacauan putri, cepat minta maaf” bisik raja Kabut.


__ADS_2