Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 19


__ADS_3

Mengemban amanah pesan terakhir dari Dewi Bahati dan Lintani. Sosok Sedewa berperan sebagai seorang ayah pengganti dan saudara bagi Linatana. Wanita yang dia selamatkan di dalam gua itu terisak tangis meminta Sadewa mengantarkannya ke negara asalnya.


“Bagaimana engkau mengatakan akan kembali sementara saudara mu menitipkan mu pada ku dan peristirahatan terakhirnya di tanah ini” ucap Sadewa.


“Aku hiks!” dia tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Lintana mengikuti jalan Sadewa sampai ke kediaman Gupta. Disana seorang anak kecil tersenyum memanggilnya paman. Dia meminta Sadewa menggendongnya, mainan yang di pegang si anak kecil itu tersangkut di rambutnya.


“Sakit! Hiks!” tangis Surya.


“Stthh, sudah jangan menangis. Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Setelah kamu dewasa nanti, paman akan mengajarkan mu ilmu bela diri dan cara membuat sihir” ucap Sadewa.


Pada yang larut, Linanata mengintip Sadewa dari balik pintu. Pria itu masih berlatih ilmu jurusnya, dia terlihat lihai menggunakan pedangnya. Sikap Lintana jauh berbeda dengan Lintani, dia mempunyai niat terselubung di balik keputusannya tidak kembali ke negeranya.


Mbok Rongya dan Surya terlelap, dia menggeledah rumah Gupta. Setiap rak lemari yang dia buka terdapat keris berukuran sangat kecil, ada tumbuhan asing yang dia tidak ketahui manfaatnya.


“Kemungkinan semua yang ku temukan ini bernilai jual tinggi” gumamnya.


Dia memasukkan semua benda itu ke dalam tasnya. Linatana juga mengambil beberapa keping emas. Belum puas dengan apa yang sudah dia curi, Lintana melirik gelang perak di tangan Surya. Perlahan dia melepas benda itu sambil tersenyum memasukkan ke dalam tasnya yang terlihat sangat sesak.


“Kembalikan semua benda yang kau curi itu Lintana”


“Apa yang kau katakan? Aku mau kembali ke negara ku tanpa persetujuan dari mu!”


“Aku tau apa yang telah engkau ambil meskipun sedari tadi aku berada di luar.”


“Kau mau menuduh ku? Ini kah pria baik yang di agung-agungkan saudara kembar ku?”

__ADS_1


“Aku tau tindakan mu ini sengaja agar aku marah dan mengusir mu”


Sadewa menggunakan sihir, dia menerbangkan isi di dalam tas. Benda-benda berhamburan, dia meniup semua benda itu kembali ke tempat semula. Ke diaman Gupta telah di bungkus pelindung sihir Sadewa sehingga tidak ada satupun yang dapat melihat rumah itu. Begitu pula Lintana yang berlari sejauh jauhnya dari sana setelah Sadewa mengetahui dia mencuri di dalam rumahnya.


Di tengah perlawanan dia di hadang para prajurit Sarang laba, dia atas kuda mereka berputar mengitarinya. Dia ketakutan berbalik arah berlari kencang menuju ke kediaman Gupta. Tapi dia tidak melihat atas rumah itu atau pohon besar yang bisa di lihat dari jarak jauh sekalipun.


“Tolong! Tolong aku!”


Sadewa menarik tubuh Lintana kemudian di taburi sihir penghilang ke kediaman Gupta. Serangan manusia tengkorak menghantam di dalam pukulan mautnya. Sadewa menggunakan pedang berperang melawan mereka.


“Ayo, tunggu apa lagi? Cepat gunakan sihir mu!” kata si manusia tengkorak.


“Aku tidak akan terpancing manusia licik seperti mu!”


Si manusia tengkorak bergabung dengan para ninja mengepung mengeluarkan serangan lemparan senjata beracun. Jurus lenggo geni terkuat melenyapkan para ninja berbaju hitam. Seorang pria berpakaian putih yang memakai ikat kepala putih di kepalanya menyerang si manusia tengkorak. Kekuatannya tidak kalah hebat dengan jurus Sadewa, di tengah pertempuran dia menarik tangan Sadewa pergi.


......................


Pertemuan Adipati Yetno


Pada masa kehancuran Kartanegara, seluruh rakyat beserta senopati dan abdi dalem di babat habis atas perintah raja Sarang laba. Tapi setelah sang Adipati Yetno meminta perlindungan pada kerajaan Alas Dayan maka sisa dari kerajaan yang telah lengser itu berada di Ronggo jagad dan tepi pesisir pantai.


Di pagi hari yang dingin gulungan surat dari negeri Naga menghantui hidupnya. Teror, sumpah serapah dan amarah akibat hinaan dari almarhum raja Namrut membuat dia mencari cara berpikir bagaimana memecahkan masalah besar ini.


Di dalam pedopoan, para senopati, Alas Dayang, Adipati Yetno, panglima perang dan para pangeran lainnya berkumpul menyusun strategi perang dan keputusan yang di ambil mengenai surat sang Raja Tenggalek.


“Kita tidak boleh gegabah mengambil langkah yang salah. Sebelum kita benar-benar yakin akan keputusan yang terbaik” ucap Adipati Yetno.

__ADS_1


“Kita akan menjadi negara jajahan, bertekuk lutut pada Sang penguasa negeri naga itu jika mengabulkan keinginannya” ucap sang panglima perang.


“Tidak ada pilihan lain kita harus memanfaatkan situasi ini agar bisa berlindung dari serangan musuh dan merebut kembali Kartanegara” pangeran Wicak mengerutkan dahi di tengah memikirkan nasib mereka selanjutnya.


“Paman setuju dengan pendapat Wicak. Memanfaatkan kekuatan lawan adalah keputusan yang bijak” kata sang raja Alas Dayan.


“Bagaimana jika mereka tidak mau membantu malah menangkap kita terutama Adipati Yetno pewaris Kartanegara terakhir sebagai tahanan? Aku mendengar panglima sebelumnya yang membawa surat gulungan kepada almarhum raja Namrut telah membawa Sahwana ke negeri naga” ucap pangeran Angka.


“Bisa saja pendapat semuanya ada benarnya atau bisa saja salah. Tapi yang pasti, kita harus mengakui kekalahan Kartanegara. Terpaksa tunduk agar bisa meminta bantuan pada mereka” ucap Adipati Yetno.


^^^Ronggo jagad, 31 September 1925^^^


Yang terhormat panglima perang naga


Saya selaku Adipati pewaris terakhir Kartanegara yang telah di musnahkan oleh pihak selir raja Namrut. Pengkhianat memecahbelah kan hingga membentuk kubu besar tanpa sepengetahuan sang almarhum raja. Kartanegara yang di guncang hebat tidak terlepas dari kecurangan para pengkhianat lainnya.


Mengingat dosa yang telah di perbuat sang raja Kartanegara, saya Adipati Yetno meminta maaf yang sebesar-besarnya dan menerima titah sang raja Tenggalek. Kami akan patuh dan menjadi negara jajahan yang setia kepada negara naga raksasa.


Sang pengawal inti menjadi isi surat balasan di depan sang panglima. Mereka berunding di tengah rasa tidak percaya bahwa negeri yang terkenal makmur dan hebat akan sihir senjata itu tinggal sebuah nama.


^^^Tertanda Adipati Yento^^^


“Saya menyaksikannya sendiri istana itu hanya tinggal puing-puing dan reruntuhannya saja” ucap salah satu prajurit.


“Menurut pendapat ku mereka hanya memanfaat situasi setelah mau bertekuk lutut di negeri naga” ujang sang penjaga pendamping.


“Aku membaca kebenaran pada ucapan sang Parmes wangi Adipati Yetno, walau dia mengambil keuntungan atau kesempatan di dalam kesempitan. Sebagai negeri yang bermartabar harga diri yang tinggi kita harus membantu mereka. Negeri Kartanegara akan patuh kepada negeri kita dan akan mengingat budi yang kita tanam” ucap sang panglima.

__ADS_1


Atas ijin sang paman, raja Alas Daya. Sang Adipati menulis surat penundukan wilayah Ronggojagad dan sekitarnya.


__ADS_2