
Pepohonan hijau nyiur melambai menerbangkan ranting-ranting berjatuhan. Kepakan sayap kuat terbang leluasa mengepak, kehadirannya lambat laun di ketahui para penyihir hitam. Suku-suku bangsa siluman mendambakan kekuatan sayap peri cahaya sebagai bahan ramuan kekuatan terbesar. Bangsa penyihir mencari cara memotong sayap sang putri Lusia.
“Kali ini aku akan menyamar menyerupai peri. Dia pasti berpikir aku sama dengannya.”
“Tidak kakak pertama. Tugas yang paling cocok pada kakak kedua dengan menaklukkan hatinya. Dia akan tunduk dan berpikir kakak kedua sangat mencintainya.”
“Ahahah, ide mu bagus juga kakak tengkorak merah. Aku akan memberitahu kakak kedua mengenai hal ini” si penyihir topi kerucut menghilang mencarinya.
Melakukan penyamaran sebagai sosok peri sampai berpura-pura mendekatinya memberatkan penyihir berkaki hitam menyetujuinya. Para saudara penyihir hitam terpaksa mengiming-iming air kolam kabadian dan serbuk sari yang menguatkan ilmunya. Di dalam danau yang di kelilingi para penyihir suku hitam dan merah. Mereka meramu kekuatan, mengubah tubuh peri berkaki hitam mnyerupai persis bangsa peri laki-laki. Daun telinga yang melengkung, Sayap yang besar, kelopak mata tajam, gigi bertaring dan tanda simbol peri melekat pada bagian tubuhnya.
Tidak dengan serbuk peri yang mustahil tercipta dengan cara sihir hitam. Kecuali para penyihir itu melakukan persembahan memuja iblis bermata satu memberikan banyak tumbal agar mendapatkan serbuk sari yang mereka inginkan.
Godaan baru, gangguan yang menghadang kali mengganggu hari peri yang baru saja belajar mengepakkan sayapnya lebih tinggi. Penyihir berkaki hitam belum lihai menggunakan sayap palsunya. Berkali-kali dia terjatuh di udara, jarak yang terlalu dekat merusak ujung sayapnya. Dia menyerah untuk terbang, berdiri tertatih menyeret sayapnya di pikul terlalu berat baginya.
Mencari letak peri yang dia incar, penyihir berkaki hitam berpura-pura terjatuh dari pohon dekat sang putri Lusia menyerderkan tubuh. Rangkaian bunga-bunga yang susah payah dia cari di hutan rusak berserakan. Dia bertolak pinggang, mengayunkan tangan memukul sosok yang berada di dekatnya. Tidak perduli siapapun dia, sang putri merasa teramat kesal di balik amarahnya.
“Duh sakit! Maafkan aku peri cantik” ucap sang penyihir kaki hitam.
Putri Lusia melongo melihat ada peri lain yang berkeliaran di atas dunia. Dia mengira hanya dia seorang yang berbeda dari lainnya. Dia segera menariknya berdiri, sosok peri di hadapannya tidak menunjukkan rasa marah karena dahinya benjol. Tangannya terasa sedikit kasar, ada bulu-bulu halus dan dengusan kecil terdengar aneh.
__ADS_1
“Sampai kapan aku terperaangkap dalam tubuh ini? nafas ku sesak sekali” gumam penyihir kaki hitam.
“Tenaga mu lumayan kuat juga. Kenalin nama ku Sagala, kamu siapa?”
“Hai, aku Lusia. Senang berkenalan dengan mu Sagala..”
Sejak saat itu hubungan keduanya sangat dekat, sampai suatu malam yang larut Sagala yang tidak sabar menyelesaikan misinya mendesak Lusia menemuinya di dalam hutan. Sebuah perjanjian hanya mereka berdua yang mengetahuinya. Dom mulai merasa aneh melihat gerakan sahabat sang putri. Pernah dia memergokinya bertingkah seperti penyihir yang memainkan sihir di atas telapak tangannya.
“Aku ini manusia setengah jin mengetahui gerakan makhluk di atas maupun di dasar bumi. Sosok yang sering di jumpai sang putri tidak memiliki serbuk peri sama sekali. Dia juga jarang mengepak sayap, terlihat kesusahan mengangkat bahunya. Aku harus tau siapa dia sebenarnya” gumam Dom mengikuti sosok tersebut.
Selama tiga hari berturut-turut, Batara tidak melihat Dom. Para pengawal inti di beri pesan agar memberikan sinyal darurat jika sewaktu-waktu ada bahaya di dalam istana. Batara lebih sering mendapati ruangan atau kamar duplikat negeri peri itu kosong.
Di bumi, dalam satu periode tidak boleh ada peristiwa gerhana matahari sebanyak tiga kali. Terlalu banyak menelan tata surya bisa mengubah dunia lebih menghitam membawa awan gelap berkepanjangan. Namun, jika tidak dengan cara itu dia tidak mampu melindungi anaknya. Batara siap menerima takdir atau nasib buruk yang akan kelak menimpa dirinya.
“Yang Mulia, hamba selaku ketua pura tidak pernah menghalangi segala keputusan titah sang raja. Tapi kali ini, jika gerhana matahari di paksa terjadi maka salah satu antara Yang Mulia atau tuan putri yang akan binasa” ucap ketua pura berlutut.
“Bangun lah wahai penjaga suci. Atas semua penjagaan harapan kalian maka kerjaan ku ini selamat dari bahaya. Kalau memang akhirnya aku harus tiada maka engkau harus tetap menjaga pemimpin selanjutnya pada negeri yang selalu di ganggu sihir dan iblis ini.”
Jauh di dalam benak raja raksasa pemakan matahari itu masih menanti dalam kerinduan bertemu ratunya yang tidak akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Reinkarnasi peri Seza berpindah seutuhnya pada putri Lusia ketika dia tersemat umur yang singkat di kehidupan manusia. Batara memutuskan akan menelan pusar sinar cahaya bumi jika sampai petang tidak melihat anaknya.
__ADS_1
Dom mengikuti sosok peri bersayap hitam itu ke sarang persembunyianya yang asli. Selama ini putri Lusia hanya mengetahui Sagala tinggal di sekuntum kelopak bunga raksasa di dalam hutan. Sosok yang berpura-pura sebagai peri itu terlihat jelas wujud aslinya sebagai penyihir berkaki hitam. Dom menarik pedang dari pembungkusnya. Dia menahan melihat di dalam rumah pohon keluar berbagai jenis penyihir.
Dom perlahan berjalan mundur, dia terlihat salah satu penyihir merah. Lemparan kilat merah melumpuhkan setengah tubuhnya. Dia melarikan diri tercampak masuk ke dalam perut bumi. Sedikit lagi dia tewas kalau Bara tidak segera datang menariknya bersembunyi. Api kecil yang berjalan di atas gurun pasir membungkus tubuh mereka berdua supaya tidak terlihat oleh musuh.
“Terimakasih tangkla api, aku bisa terpanggang hidup-hidup oleh si penyihir ganas merah yang mengeluarkan kilatan petir. Tapi aku harus segera menemui raja Kartanegara, tuan putri Lusia dalam bahaya besar.”
“Tapi, penyihir merah tadi pasti mencari mu. Aku hanya bisa menjamin keselamatan mu di perut bumi saja. Keadaan negeri jin sedang kacau, nasib negeri gurun di pertaruhkan karena sang putri Karalyn di takdirkan hidup di atas bumi.”
Waktu pertemuan Dom ke sang raja tidak secepat Sagala menarik tangan Lusia lebih dalam berjalan masuk ke dalam hutan. Di sela perbincangan ringan mereka, sang putri Lusia mempertanyakan sayap Sagala yang tidak pernah memperlihatkan serbuk sari.
“Dari mana asal mu wahai sahabat ku?”
“Apa? Kenapa engkau menganggap ku sebagai sahabat saja? Tuan putri, tidakkah engkau mau menerima ku sebagai orang yang ada di dalam hari mu?”
“Orang? Manusia maksudnya? Tapi kamu sosok peri Sagala, selama ini aku tidak memiliki perasaan lainnya.”
Sagala terjebak dalam permainanya sendiri, dia mulai menyukai tuan putri Lusia. Merasakan kehadiran kawanan penyihir merah dan hitam semakin dekat. Dia menarik sang putri bersembunyi, berlari mematahkan ranting dan daun yang berukuran besar untuk menutup bekas serbuk sarinya yang berjatuhan.
“Apa yang kau lakukan Sagala? kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?”
__ADS_1