
Perdana menteri tiba menyaksikan kematian saudaranya, jasad Juma dan Iria yang mengenaskan itu segera dia urus untuk di kebumikan. Dia memerintahkan semua pengawal istana yang tersisa kembali dan membawa jasad sang panglima.
“Perdana menteri, jika anda membebaskan tahanan dan orang-orang yang membantunya melarikan diri sama saja menentang kehendak raja. Hukuman gantung adalah sanksinya” ucap sang penjaga istana.
“Kedua anak perempuan itu adalah keponakan ku. Tidak ada yang bisa menyentuh mereka” kata Zezao.
Sahwana berpikir kehadirannya hanya akan menambah beban di pundak orang-orang yang berjuang menyelamatkannya. Dia memberikan amanat kepada Lintana dan Lintani agar menjaga pedang serta menggunakan ramuan untuk kebajikan. Sahwana menusuk perutnya dengan pedangnya, dia tersenyum menatap langit membayangkan segala perjuangannya selama ini. Waktunya telah habis, masa-masa sulit hanya tinggal kenangan yang terkubur bersama jasadnya.
Lintana dan Lintani menangis melihat kematian ayah, ibu dan Sahwana. Perdana menteri meminta mereka untuk segera pergi karena melihat ada kerumunan pasukan berduka mendekat ke pura.
“Tampaknya sang raja benar-benar menginginkan pedang dan ramuan itu. Kalian harus segera pergi!”
Lintana dan Lintani berlari sejauh-jauhnya. Air mata mereka menetes, kesedihan berlanjut hingga Lintana terbatuk mengeluarkan darah. Mereka berhenti di bawah pohon, Lintani mencari air berharap tidak terjadi apapun dengan saudaranya.
“Lintani dengarkan aku. Engkau harus meninggalkan negeri ini. Naik ke kapal itu dan bawa simbol pengenal negeri seberang yang di berikan oleh Sahwana. Ingat, engkau harus menjada pedang dan ramuan ajaib sebaik-baiknya” pesan Lintani.
“Tidak, aku tidak akan pergi tanpamu!”
Dia mulai menutup mata, dia membuka botol air lalu dia masukkan ke dalam mulut Lintana. Suara tapak kaki kuda semakin mendekat. Dia terpaksa pergi meninggalkan Lintana yang sudah tidak bernafas lagi.
“Ada mayat wanita!” teriak salah satu prajurit.
“Kita biarkan saja dia. Ayo kita kejar wanita yang satunya lagi!”
Lintani bersembunyi di salah satu box besar yang di angkut ke dalam kapal. Mengarungi samudera, menyebrang lautan. Ombak lautan yang kuat membentur tubuhnya terhempas hampir terjatuh dari atas kapal.
“Aku harus bertahan!” gumamnya kesusahan berpegangan pada seutas tali.
Pagi membentur ingatan baik buruk di waktu yang terlewati. Jiwa-jiwa yang telah pergi tidak tenang memperlihatkan wujud hingga suaranya yang menakutkan. Hari baru di negeri orang, Lintani merasakan ombak membanting tubuhnya. Perlahan dia berdiri, langkah pincang pandangan membentang sejauh mata memandang melihat suasana baru di negeri orang. Dia ingat Sahwana mengatakan negerinya aman dan makmur.
__ADS_1
Namun baru saja dia menginjakkan kaki di tempat itu, Lintani di serang para perompak bersenjata raksasa.
Masing-masing dari mereka memegang benda berbentuk sabit ada gumpalan asap hitam mengelilinginya. Melihat musuhnya yang berbahaya, dia mengeluarkan senjata dari sarungnya. Angin kencang membawa gulungan air ombak naik ke pesisir pantai. Dia menebas angin mencampakkan dua puluh pria itu hanyut terbawa ombak.
Berhasil mengalahkannya, Lintani berlari mencari tempat persembunyian yang aman. Dia berpikir akan segera menemukan pedesaan tapi tersesat di hutan yang di penuhi hewan buas. Sedikit lagi dia di cabik-cabik harimau hutan jika tidak naik ke atas pohon.
“Kata pria tua itu kalau negerinya sangat aman dan makmur. Tapi aku seakan masuk ke dalam sarang ular!” gumamnya.
Di sepanjang jalan menyusuri hutan, dia memikirkan saudaranya Lintana. Matanya masih sembab bengkak genangan rintik hujan deras tidak bisa di tepis hingga larut malam dia di dalam kesendirian mencari posisi yang benar-benar aman.
Membakar api unggun di tengah hutan akan mengundang kedatangan hewan buas dan para perompak yang mengikutinya. Memejamkan mata, dia sesekali menghentakkan tubuh posisi berjaga. Suara-suara aneh hinggap membuat dia semakin ketakutan.
“Ayah, ibu, kakak!” gumamnya.
Dia berlari hingga melihat penginapan. Lintani masuk ke dalam memesan sebuah kamar. Dia memberikan beberapa keping uang berjalan mengikuti si penjaga penginapan. Berpikir tempat itu lebih aman dari pada hutan belantara. Kehadirannya itu adalah awal pusat perhatian para warga Sarang laba yang ingin merampas semua miliknya.
“Ayo kita beraksi”
Keduanya mengintip dari sela jendela. Lintani mengetahui sedari tadi melihat gerak-gerik para penghuni penginapan yang mencurigakan. Dia berpura-pura tertidur hingga berdiri di belakangnya dua orang pria bertubuh gemuk dan kurus.
Di balik bantal di tarik pedang sihirnya, dia menebas leher kedua pria itu lalu pergi meninggalkan penginapan. Mengambil salah satu kuda di depan halaman, dia tetap mempertahankan diri menuju ke wilayah desa Gelanggang.
Karena terlalu kelelahan dan menahan luka bekas pertempuran, Lintani terjatuh dari kuda. Sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah. Sadewa menangkap wanita itu, Lintani mengalami demam tinggi. Mbok Rongya mengernyitkan dahi. Dia mengambil sisa ramuan sihir penyembuh peninggalan Gupta.
Tetesan air sihir masuk ke dalam tenggorokannya. Sepanjang malam Sadewa menjaga wanita itu hingga tertidur di depan pintu kamar yang terbuka.
Angin segar berhembus, Lintani terbangun membelalak berdiri mengangkat pedangnya. Dia hampir menebas leher Sadewa yang masih tertidur jika mbok Rongya tidak datang.
Prangg__
__ADS_1
Teko dan ceret batu terjatuh, dia menggoyangkan lengan Sadewa. “Bangun den! Mbok takut!”
“Ada apa mbok?” Sadewa melihat wanita yang mereka tolong itu mengarahkan pedang tepat di depan mereka.
“Siapa kalian?” tanya Lintani.
“Justru kamu siapa? Saya menemukan mu semalam di perbatasan desa”
“Saya Lintani dari negeri yang sangat jauh. Kalau begitu saya minta maaf ,saya juga mengucapkan terimakasih kepada mu.”
“Saya Sadewa__”
Sekilas berjabatan tangan, dia melanjutkan perjalanan. Tidak ingin terjebak atau mendapat masalah baru di tempat, dia pergi menaiki kuda menuju ke wilayah perbukitan. Letak dua desa yang bersebelahan, hujan deras membanting tubuh wanita yang masih lemah itu kembali tidak sadarkan diri.
“Mbok, aku sebenarnya mau menahan wanita tadi. Ramuan itu belum sepenuhnya masuk ke aliran darahnya. Kasihan dia mbok” ucap Sadewa.
“Yang penting kita sudah berusaha membantunya den, si mbok perhatikan dia seperti sangat ketakutan.”
Kereta kuda Adika berhenti, sang kusir mengatakan ada seorang wanita yang sedang pingsan di tengah jalan. Adika membawanya masuk ke dalam kereta lalu membawanya ke rumah salah satu abdi dalem yang bekerja padanya.
“Pak Tom, aku akan menempatkan wanita ini di rumah mu. Beritahu istri mu bahwa ini adalah perintah dari ku” ucap Adika.
“Ya tuan__”
Perdebatan Lefi dan Tom melihat sosok wanita yang sedang pingsan. Lefi mengerutkan dahi, hidupnya saja sudah susah bagaimana harus memberi makan wanita muda yang bisa menjadi istri muda suaminya itu.
“Hei orang tua bau tanah, jangan-jangan sesuai dengan dugaan ku. Dia adalah istri muda yang sengaja kau bawa ke rumah ini!” ucap Lefi.
“Aku tidak berdusta, dia kami temukan di jalan saat aku mengantar tuan besar. Kau kan tau sendiri kalau nyonya besar sangat cemburuan” jawab Tom.
__ADS_1