
Pati mendengar pembicaraan sosok wanita yang berwujud mbok Rongya. Walaupun sang ratu telah menjelma menjadi manusia, tetap saja Alas pati si pendekar penjaga kaki bukit pancer mengetahui dia bukan lah abdi dalem kediaman gupta.
“Aku tau engkau pasti ratu jin yang di ceritakan suami ku. Aku mohon selamatkan lah anak ku” Alas pati memelas, tangisan berlinangan di sudut matanya.
Gerakan sang ratu Winan gusar, berpikir manusia yang di hadapannya pasti tidak suka merasa terganggu dengan kehadirannya. Dia memalingkan wajah menjelma ke wujud asli. Kakinya tertahan memikirkan tekad tulus seorang ibu yang menginginkan kehidupan anaknya. Sang ratu tidak tega berpaling, dia menunggu keputusan Sadewa yang tidak kuasa bersedih memeluknya.
“Aku hanyalah istri peran penyelamat manusia itu agar bisa kembali ke alam dunia dan bertemu kekasih yang sangat dia cintai. Istri pertamanya, seluruh cintanya tumpah ruah untuknya” gumam sang ratu.
“Apa yang engkau katakana adinda? Keduanya harus selamat. Jangan banyak bergerak, aku akan mentransfer kekuatan energi untuk mu. Aku juga sudah menyiapkan ramuan sihir penyembuh.”
“Tidak, aku tidak mau meminumnya. Anak kita harus di selamatkan__"
Selama proses persalinan, sekuat tenaga Alas pati melahirkan anaknya secara normal. Pandangan setengah kabur, dia ingin sekali untuk yang terakhir kalinya melihat wajah anaknya. Bayi yang akan di tinggalkan di muka bumi. Cahaya kilau putih terlihat di hadapannya, sosok makhluk berjubah putih yang tidak jelas wajahnya menjemputnya.
Perpisahan ruh dari jasadnya, Alas pati sulit menahan pergi dari dunia.
“Aku tidak bisa melepas orang yang sangat aku cintai. Aku tidak rela suami ku di miliki orang lain. Hiks”
Berharap arwahnya tetap bergentayangan di dunia, tapi Alas pati berpikir ulang jika dia melakukan hal tersebut maka anaknya di masa depan pasti akan bersedih. Perlahan sekuat mungkin bisa melepaskan semua ikatan dari dunia, dia menutup mata bersama denyut nadinya yang terhenti. Sadewa si pendekar hebat nan sakti mandraguna tidak bisa menyelamatkan nyawa istrinya. Semua takdir yang Maha Kuasa sudah tergaris.
Manusia hanya bisa berusaha dan berencana namun Tuhan lah yang menentukan.
Sebelum kematian Alas pati
Dia sempat mengecup kening bayi mungilnya. Alas pati berharap bisa bertemu dengan anaknya di kehidupan berikutnya. Sebelum meninggal permintaan terakhir agar sang ratu menyayangi, menjaga dan merawatnya seperti anaknya sendiri.
__ADS_1
“Wahai ratu jin, berjanjilah engkau mau mengabulkan permohonan terakhir ku”
“Apa yang engkau katakan, aku akan memberikan kekuatan ku untuk mu.”
“Tidak ratu, aku tidau hidup berwujud bangsa lain, meskipun aku tau setelah keluar dari perut bumi suami ku sekarang berubah setengah jin dan manusia. Aku tidak mau memberikan ASI ku sehingga merubah anak ku pula. Di sisi lain, jika engkau merubah ku menjadi bangsa jin, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertumpahan darah besar bagi bangsa jin dan manusia. Aku tidak mau engkau memberikan nyawa mu untuk ku”
“Sungguh engkau adalah manusia yang berhati mulia. Ya Alas pati, aku akan mengingat dan mengabulkan semua keinginan terakhir mu.”
Melihat anak bayi nya memiliki bulu emas berwarna merah di pergelangan tangannya. Semula Alas pati sangat terkejut, dia tidak menyangka anaknya bernasib seperti itu.
“Maaf aku istri ku, anak kita mendapatkan kesialan akibat ilmu yang aku miliki. Roh burung peonix yang berhasil aku kendalikan merasuki tubuh ku. Maafkan aku” ucap Sadewa berkali-kali menyesali perbuatannya.
“Tidak kakanda, semua sudah menjadi takdirnya. Aku__”
Wajah yang setiap hari membayang di pelupuk mata itu pergi selamanya. Sadewa meletakkan bayinya ke tangan Ruti. Dia dan ratu Winan menyalurkan tenaga dalam membentuk sinar api yang sangat dahsyat. Kematian tidak ada yang bisa menghalangi, ruh telah terbang kembali ke sang pencipta. Sadewa sempat berpikir menghidupkan istrinya itu dengan ilmu sihir hitam yang di milikinya. Tapi, sama saja dia melakukan perjanjian dengan iblis. Sihir hitam, keempat elemen, pemanggilan arwah peonix. Penggabungan sisi hitam sihir hitam dan putih berharap bisa mengembalikan istrinya lagi.
“Raja, tidak ini yang di inginkan Alas pati.”
......................
Tusuk konde yang terbuat dari akar pohon cahaya keabadian meredup. Sang penjaga pohon suci mendapatkan firasat tentang anaknya. Dia sudah mengalami mimpi berulang, anaknya yang memakai baju putih sebening sutra menutup sempurna tubuhnya tersenyum melambaikan tangan padanya. Sang penyihir putih menceritakan pada ke lima pengikutnya.
“Bisa saja pertanda dari Ananda Alas pati karena rasa rindu penjaga yang sudah lama tidak bertemu dengannya”
Salah satu pengikutnya meluruskan kekeliruan yang tidak sebenarnya. Dia tau akar pohon penyambung pohon cahaya meredup kering pertanda sebuah nyawa telah melayang.
__ADS_1
“Semoga saja engkau benar..”
Sadewa membawa jasad istrinya ke sang penjaga pohon suci. Kedatangannya di sambut keempat pengikut sang penjaga. Salah satu pengikut mengabarkan kedatangan Sadewa bersama rombongannya.
“Persiapkan segala keperluan untuk mengurus jasad anak ku Alas pati” ucapnya dengan nada bergetar.
Para punggawa, abdi dalam, kebesaran kerajaan Ronggo jagad dan Kartanegara memadati kesepuhan wilayah penjaga pohon suci. Mereka tidak sampai masuk ke dalam alam ghaib. Sang penjaga memberikan pembatas karena tempat itu tidak semua manusia dapat memasukinya. Ucapan turut berduka untuk Sadewa tidak henti di tuangkan.
“Anak ku Alas pati, engkau akan ku tempatkan di bawah pohon keabadian. Maafkan ibu mu tidak menghidupkan mu di dalam akar pohon pemberi umur panjang. Aku tidak mau engkau hidup abadi menjalani rasa sakit berkepanjangan di tinggal orang-orang yang engkau cinta dan sayangi. Biarlah engkau mengikuti jalan takdir mu” gumam sang penjaga pohon suci.
Sicin berlutut, dia membenturkan dahinya sampai berdarah. Rasa bersalah di tengah ketidak berdayanya hadir memberikan pertolongan pada Alas pati. Pada hari itu dia harus menyelamatkan Litana dan juga membatu kesembuhan penyakit sang raja.
“Maafkan aku ibu, aku tidak bisa menjaga Alas pati dengan baik” ucap Sadewa.
“Apa yang mendasari kematian anak ku?”
“Alas pati meninggal setelah melahirkan bayi kami. Maafkan aku ibu..”
“Mau menyalahkan mu juga tiada guna, semua sudah di gariskan sang pencipta. Bayi ini adalah cucu ku maka aku yang berhak membesarkannya.”
“Maafkan aku ibu, Alas pati meminta agar aku yang merawatnya..”
Di tinggal dengan orang yang paling dia sayangi, tidak henti-hentinya sang penjaga suci berlinangan air mata. Banyak yang menyalah diri mereka atas kepergian Alas pati. Salah satu pendekar yang ikut berjuang mengambil kembali hak tanah Kartanegara kini pergi meninggalkannya namanya.
“Sudah bangun lah Sicin, aku tidak akan menyalahkan mu...”
__ADS_1
Iring-iringan ratu Winan ikut mendampingi Sadewa. Mereka tidak menampakkan diri, sang ratu yang di jaga para tangkla mengambil alih perawatan langit peonix membawanya ke negeri jin.