Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 85


__ADS_3

Kemasan palsu membohongi diri sendiri demi memuaskan keinginan. Tanpa di sadari tubuhnya menyatu dengan setan yang dia puja. Sosok manusia menyembunyikan wajah aslinya demi mengelabui orang yang dia incar. Pelaku mistis melakukan berbagai cara meminta pada dukun tanpa memikir sebab akibatnya. Bukan kah setan, iblis dan jin kafir adalah musuh nyata manusia? Makhluk yang ingin manusia menjadi penghuni neraka.


Mendapatkan hadiah dari makhluk jin yang hidup memenuhi masehi mengkhawatirkan dia tidak bisa menjaga atau benda hidup ghaib yang di anggap terlalu mistis itu menenggelamkan dirinya lebih dominan ke ilmu kegelapan. Di dalam waktu berdetak, ular peliharaan Bara mulai memangsa. Dia menyerap habis salah satu prajurit ketika dia memasuki alam dunia.


“Apa yang harus aku katakan pada raja Kartanegara jika tau ular ini yang membunuhnya?” gumam Bara mencari celah ular itu agar tidak mengikutinya.


Aroma tubuh di hafal ular kecil hijau. Gerakan lintah melata meliuk mengikuti kaki Bara. Dia berjalan mundur menjauh dari ruangan kebesaran. Berbalik ke alun-alun istana, dia terkejut melihat raja Batara berdiri melipat kedua tangan melihatnya.


“Maafkan hamba yang mulia. Maafkan kesalahan hamba tidak bisa menjaga ular peliharaan hamba” ucap Bara menekuk lutut.


Dia bahkan akan mengatakan bersedia menerima hukuman atau menggantikan nyawanya demi melindungi makhluk peliharaan pemberiaan ratu gurun. Siap menerima resiko setelah menerima tanggung jawab dari sang ratu. Raja Batara sudah mengetahui dari mana asal ular hijau kecil yang menyeramkan itu. kehadirannya membawa aroma pasir gurun melekat kuat. Dia melihat keseriusan ada tangkla api yang tidak mau ularnya celaka.


“Pantas saja raja Sadewa memilih mu sebagai tangkla api di negeri jin gurun. Engkau sangat lunak meski memiliki kekuatan sepanas hawa tempat tinggal di neraka”


“Hamba mohon yang mulia menghukum atas keteledoran hamba yang tidak bisa menjaga ular ini.”


“Bangunlah Bara, aku telah mengutus Dom membawa prajurit ke negeri gurun. Dia bisa hidup kembali di tangan sang ratu.”


Salah satu ular kecil mematikan, berumur abadi dan memiliki kekuatan iblis itu berasal dari rambut sang ratu. Semua bermula dari kekuatan awal. Batara telah membaca waktu setelah berhasil mengubah diri seutuhnya menjadi jin. Dia yang telah melahap matahari, perlahan daya tahan tubuhnya melemah. Istirahat panjang selama pergantian purnama, lantas siapa yang menjaga istananya?

__ADS_1


Dari dalam negeri jin peri cahaya, ratu Seza tetap memantau semua perkembangan Kartanegara. Bahkan satu detik pun dia tidak melewatkan waktu mengenai aktivitas yang di lakukan sang raja. Melihat dari alam lain, sosok makhluk putih bersinar memanggilnya dalam peradilan alam yang tidak terlihat.


“Wahai ratu Seza, sepertinya engkau belum bisa melupakan masa lalu dan ikatan duniawi. Engkau telah terpilih sebagai peri cahaya tertinggi. Negeri mu aman sentausa. Bagaimana bisa engkau mencapai kesempurnaan menembus cahaya putih jika hati mu masih tertinggal di alam dunia?”


“Maafkan hamba, hamba akan mencobanya yang mutia cahaya putih.”


Dia telah melabuhkan hati pada sang raja Batara. Dunia peri pernah menjadi saksi bisu kepergiaannya hingga penyelamatan sang raja Batara agar dia tidak di adili di alam jin. Seluruh hidup di serahkan pada sang penyelamat hidupnya. Tapi kini dia harus mengemban tugas dalam anugerah ratu peri tertinggi di negeri cahaya. Para peri yang memberikan sayap dan kekuatannya demi kehidupannya.


Tujuh musim sebelum putaran rembulan yang bersinar terang, pucuk kuntum bunga akan mekar, sosok makhluk yang hidup dalam tiga dimensi. Dia merasakannya, kelahirannya anaknya akan sama persis saat dia pertama kali tercipta. “Bagaimana bisa? Seluruh ingatan ku di dalam alam dunia hampir terhapuskan. Tapi hati ku ini tidak bisa berbohong, aku masih merasakan getaran kuat pada raja ku” gumam Seza.


Cahaya langit membentang kuat, dalam serpihan serbuk sari. Batara merasakan kekuatan Seza. Serbuk yang masuk dari jendela menggulung terbang kembali seolah menunggunya. Batara melihat pandangan dari mata jin. Dia tidak melihat sosok apapun di balik serbuk itu. Batara menggunakan kekuatannya mengikuti kemana serbuk cahaya itu pergi.


“Maaf yang mulia, hamba sudah terlalu tua untuk mengikuti engkau. Hamba hanya memberi pesan kalau sihir itu hanya bisa bertahan di malam hari. Sama seperti yang mulia membuat sayap itu pada waktu petang.”


“Terimakasih nasehatnya mbok Rongya. Oh ya, tolong bantu aku menemukan raja Sadewa.”


“Hamba akan berusaha. Walau bagaimana pun dia tetap seorang pendekar Kartanegara.”


Mbok Rongya melihat Sadewa menggunakan sayap sihir terbang tinggi. DIa membantu mercik sihir membentuk sepasang merpati agar membantu sang raja bisa menyeimbangkan kepakan sayapnya. Serbuk cahaya peri menembus ke pohon cahaya. Dia mengitari salah satu kuntum bunga yang tumbuh diantara pepohonan lain.

__ADS_1


“Raja, tidak ada yang bisa menemukan tempat ini kecuali kehendak para dewa. Engkau akan mendapatkan keajaiban yang tidak terhingga. Aku melihat seorang bayi di salah satu serbuk sari yang mengitari kuntum bunga itu.”


“Apa mu penjaga pohon cahaya?”


“Raja, cepat jemput bayi mu. Ratu peri Seza sudah memberikan isyarat melakui serbuk cahaya peri itu.”


Batara mendekati salah sau kuntum bunga yang akan mekar. Bunga indah membungkus seorang bayi peri. Wajahnya sangat cantik jelita, paras goresan wajah mirip ratu Seza. “Anak ku!”


Batara meraihnya dari dalam kelopak bunga. Tubuh bayi mungil bersayap merah muda itu di bungkus kelopak bunga yang warnanya mirip sayapnya.


Sihir menghilang, Batar berubah wujud menjadi raksasa berjalan kembali ke bumi. Perjalannya menembus badai, dia tidak mau angin merusak sayap bayinya. Dia menyembunyikan bayinya di dalam lengan. Saat mulai mendekati perumahan warga, dia merubah wujud seperti manusia. “


Di alam tidak terlihat, Seza tersenyum dalam tangisan bahagia melihat bayinya lahir dalam kehidupan yang baik. “Kenapa aku tidak melahirkan seperti manusia pada umumnya? Bukan kah kodrat alami sang raja adalah manusia?” gumam Seza.


Di dalam kolam keabadian, Seza ingin sekali mengecup kening anaknya. Dia ingin memeluk anaknya walau hanya sekali. Mencari cara keluar dari alam tidak terlihat. Berjalan menyeret sayapnya, serbuk peri cahaya berjatuhan membuat penjaga melihat kilauannya. Mereka mengikuti sampai menemukan Seza berdiri di depan pembatas tembusan alam lain.


“Ratu peri cahaya mau kemana? Kita tidak bisa membangun keluarga dari alam tidak terlihat ini. Kami tidak bisa menjamin keselamatan sang ratu kalau terlempar ke alam yang tidak bisa kami gapai.”


“Jangan halangi aku! Aku mau ke alam manusia, aku hafal dimana titik tumpu negeri yang ku tuju” ucap sang ratu peri Seza.

__ADS_1


__ADS_2