Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 54


__ADS_3

Banyuwangi di langit bumi


Kedatangannya tidak terlepas dari musim hujan. Duduk mengapung di atas pusara air yang menggulung. Tiap-tiap mata air memberikan energi positif , urat kehidupan menyatu dengan sosok yang berdiri melakukan penarikan kekuatan. Pembalasan dendam pada negeri api terus berlanjut.


Pada penobatan sang ratu air, tanggung jawabnya sebagai tangkla air penjaga negeri gurun tidak mau dia lepas. Banyuwangi tetap melangsungkan tugas mengemban penjagaan negera. Banyak mengatakan sosok-sosok tangkla, panglima besar yang menjabat lebih dari satu kepemimpinan di sebut serakah. Tapi mereka tidak memperdulikan cemooh yang melahap deru di udara.


Pada hakikatnya. Jika suatu raja sudah berkuasa maka sangat lah jarang membagi waktu mengurus keperluan negeri lainnya. Tidak dengan para pengikut pemimpin negeri gurun yang setia. Banyuwangi tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Meski tepi kelopak matanya tidak bisa menutupi kesedihan.


Kematian tangkla Mahmeru, raja Udum dan para jin lain yang gugur akibat kejahatan negeri Api menjadi momok ketakutan para rakyat. Pada hari pencarian sekutu, Argo menuju negeri peri. Kedatangannya membakar padang hijau yang membentang dan benteng peri yang di bungkus dengan kelopak bunga raksasa. Peri-peri penjaga berterbangan, Poppy menerbangkan serbuk beracun. Tapak kaki sang raja mengeluarkan api, Argo bersama dedemit merah dan pasukannya menyerang negeri peri sampai para peri tewas menerbangkan sayap-sayap di udara.


Di depan alun-alun istana


“Lapor yang mulia, istana panglima perang ketiga di serbu negara api” ucap Taga.


“Raja Argo selalu saja membuat kekacauan di negeri jin! Cepat perintahkan Ruti agar memimpin para tangkla membantu negeri peri!”


“Perintah di laksanakan yang mulia”


Masalah, kasus dan pemecahan pada hari ini di pindah tugaskan pada selayang trokat. Gencatan senjata di udara, kehadiran pasukan khusus negeri gurun tidak menggoyahkan serangan api yang membakar langit peri. Bunga-bunga indah hangus terbakar, produksi serbu sari terhenti. Elemen air menggulung dedemit merah, pertarungan Banyuwangi dan panglima negeri api hampir mengenai sosok peri kecil yang menghindar di sampingnya.


Api membakar lengannya, Banyuwangi menggunakan elemen salju membekukan kaki dedemit merah. Mengeluarkan kekuatan api ,sihir kekuatan es membeku semakin menjalar ke tubuhnya. Pukulan tenaga dalam, Banyuwangi merobek kulitnya yang terbakar lalu mencampurkannya dengan sihir yang dia beri mantra. Dedemit merah berhasil di lumpuhkan, Banyuwangi merobek kulitnya lagi dengan pedangnya, kali ini dia membentuk sihir menjadi sebuah senjata pisau ghaib yang sangat tajam.

__ADS_1


Syay_syat_clap


Dedemit merah tewas di tangan sang ratu Banyuwangi. Kematian panglima besar dedemit merah mengeluarkan lolongan suara siluman serigala dan teriakan dedemit di negeri jin. Amarah Banyuwangi benar-benar mengguncang hatinya. Jasad jin merah di kurung sihir air racun air. Banyuwangi melemparkan cincin yang berubah menjadi ular. Jasadnya di lahap hingga tidak tersisa.


“Nyi Ratu dengan jelas sudah melakukan perjanjian dengan iblis untuk mengalahkan antek-antek negara api. Kerjaan ini akan berubah menjadi negeri kegelapan” kata para punggawa.


Setelah merobek kulitnya sendiri, sang ratu menutup lukanya dengan menceburkan diri masuk ke dalam kolam mata air di alam bumi manusia. Dia lebih condong menggunakan mantra sihir hitam. Melihat iblis mulai mendekati sang ratu, para sekte hitam dan raja Argo menyalakan sinyal meninggalkan negeri Peri. Ratu Banyuwangi mengejar Argo hingga di atas perbukitan. Sang raja memanfaatkan sekitar untuk menolak serangannya. Kali ini Argo menarik leher manusia, dia memancing sampai dimana rasa iba nalurinya sebagai manusia.


Jika sudah menjadi bagian dari iblis sosok jin setengah manusia itu berdetak merasa tidak sanggup membunuh manusia yang merintih kesakitan. Luka di lehernya akibat kuku tajam melukai tampak nafasnya sudah mulai terputus-putus.


“Tolong selamatkan aku” suaranya sekarat.


Banyuwangi menutup jiwa kemanusiaannya. Dia menarik manusia dari cengkraman Argo lalu mematahkan lehernya. Semua pengawal pengikutnya terkejut tidak menyangka sang ratu berubah menjadi sosok pembunuh. Setelah manusia itu terbunuh, Banyuwangi menarik jantungnya dengan tangannya sendiri. Dia menghembuskan sihir hitam, mencampurkan jantung yang masih berdetak itu menjadi sebuah senjata yang mematikan. Pukulan ritual iblis menumbalkan jantung manusia, Argo sekarat tidak berdaya. Dia di bantu pasukan jin api menghilang kembali ke negaranya.


Air mengalir membawa sumber kehidupan. Tapi air yang berasal dari tanah kelahirannya berubah malapetaka. Air beracun mematikan, daerah kelahiran ratu Banyuwangi diliputi rasa ketakutan. Ajal tidak terduga menjemput. Daerah bumi Banyuwangi terserang wabah penyakit hingga tempat itu menjadi sarang hantu tidak berpenghuni.


Begitupun di istana jin air, tidak ada yang berani keluar dari batas wilayah. Negaranya di beri mantra hitam, jin yang pergi melewati batas tanpa seijinnya akan di bunuh tanpa penghakiman.


Kabar perubahan sang ratu di dengar para pemimpin negeri gurun. Panglima ketiga itu telah mengabaikan janjinya. Sadewa mengeluarkan langit dan elang raksasa dari dalam kurungan penjara. Mantra Argo sirna di tebas senjata pamungkas peonix. Hewan raksasa yang sedang terluka itu di


Kurung kembali di halaman belakang istana. Sang raja terpaksa merantai kakinya dengan mantra elemen tanah.

__ADS_1


“Ayah, kenapa engkau merantai hhewan kesayangan ku? Dia tidak lah bersalah. Aku yang mengarahkannya sampai ke negeri api” ucap Langit.


“Ananda harus melihat bahwa elang sedang kesakitan. Jika tidak mengurus dan merantainya maka dia akan memberontak menghancurkan negeri ini dengan tubuhnya yang sangat besar.”


“Langit dengarkan ibunda dan ayahanda, mulai hari ini kamu tidak boleh keluar istana tanpa ijin kami berdua” ucap sang ratu tersenyum mengusapnya.


“Kenapa ibu mulau membatasi ku? Ibu juga tidak pernah memperhatikan ku, setiap hari ibu mengikuti ayah tanpa mau mengurus ku”


“Apa yang kau bicarakan? Cepat minta maaf pada ibunda mu” ucap Sadewa.


Melihat sang raja membela wanita yang di sampingnya, dia melengos memasang wajah penuh amarah. Tidak biasanya anak itu memendam kebencian. Tangan Winan di tepis dari pundaknya, dia juga melepaskan gelang yang melilit pergelangan tangannya.


“Siapa yang ayah pilih, aku atau ibu tiri ku?”


“Ananda sudah keterlaluan. Cepat minta maaf pada ibu mu”


“Tidak! Dia bukan ibuku ayah!” teriak langit.


Winan menahan Sadewa, dia menggelengkan kepala tidak memperbolehkan sang raja terlalu keras dengannya. Winan membuka kandang Elang, dia menyihir hewan itu tidak bisa menggunakan sayapnya.


“Maafkan aku elang raksasa, sebelum engkau benar-benar sembuh maka aku akan mengikat sayap mu”

__ADS_1


__ADS_2