
Sosok yang bernama tabib Sicin itu seperti telah melupakan jati dirinya yang sebenarnya. Perang badar pengambilan kembali Kartanegara, pangeran Gani melarikan diri di kejar oleh adipati Yetno. Sebelum dia di serang dengan senjata sang adipati, tiba-tiba ada anak panah beracun menembus tubuhnya. Sebagai seorang penghianat negeri sang pangeran lempar ke jurang perbukitan. Tubuhnya yang terbanting dar ketinggian itu di selamatkan oleh seorang pria tua. Sampai saat ini dia kehilangan ingatan,dia menjalani hari dengan keahlian meracik ramuan herbal dari ajaran si pria tua yang membimbingnya ke jalan yang benar.
“Terkadang aku seperti pernah berada di wilayah ini” gumamnya berjalan memperhatikan ukiran kerajaan.
......................
Amarah yang di simpan Alas pati tidak bisa di tutupi, dia tidak masih menyimpan rasa sakit hati dan ketidak terimaannya. Sebagi seorang istri tidak ada satupun di dunia ini yang ingin di madu. Sadewa menahan langkah menoleh kembali melihat Alas pati mengacuhkannya.
“Aku mau pergi mencari Surya. Secepatnya akan kembali. Dinda, simpan rasa cemburu dan amarah mu itu” ucap Sadewa.
Alas pati hanya terdiam, dia memperhatikan Sadewa yang pergi meninggalkan kamar. Ingin rasanya dia menemui istri muda dari bangsa jin itu. Seharusnya dia tidak menolong suaminya sehingga terpaksa melakukan sebuah perjanjian yang tidak masuk akal baginya.
Kuda Sadewa berlari kencang, berhenti melihat di tengah hutan menggunakan jurus suwung laduni. Merasakan keponakannya berada di kaki perbukitan, dia menghentikan kudanya lalu mencari dimana Surya bersembunyi.
“Surya keluar kau! paman mau bicara pada mu!” teriaknya.
Surya tidak mau keluar, dia sangat takut jika Sadewa akan membunuhnya. Mendengar suara patahan ranting kering, langkah Sadewa menghampiri Surya yang berlari menghindarinya.
“Bukan seperti itu cara seorang pria sejati saat menghadapi masalah. Surya, katakan pada paman. Kenapa engkau mau membunuh paman mu ini?”
“Maafkan aku paman, jangan pukul aku!” raut wajah Surya ketakutan.
“Aku tidak akan menggunakan kekuatan ku untuk menyakiti keluarga ku sendiri. Cepat beritahu paman, kenapa kau mempunyai sifat pembunuh keluarga dan dari mana kau dapatkan racun itu?”
__ADS_1
“Paman jahat, paman telah membunuh ibu dan ayah. Aku menceritakan semuanya pada seorang wanita berbau merah yang menolong ku saat terperosok ke jurang.”
“Lantas, engkau menyatakan kau paman mu ini bersalah tanpa kau ketahui kebenarannya?”
“Aku__”
Surya menyembunyikan wajahnya. Punggungnya di usap, Sadewa terpaksa memulai pernyataan mengenai kejadian sebenarnya.
“Paman berharap engkau bisa lihai menggunakan ilmu bela diri sebagai pelindung Kartanegara dan melindungi yang lemah. Ayah mu dahulu adalah seorang peracik sihir ilmu hitam, dia mendapatkan ibu mu dengan cara yang salah. Dia memberi minuman ramuan sihir hitam, membuat ibu mu rela melakukan apa saja untuknya. Setelah kelahiran mu, tubuh ibu mu sering sakit-sakitan. Bibi Yuri, adik kandung paman memberikan ramuan sihir putih penyembuh. Tapi sihir hitam itu terlanjur masuk ke darah dagingnya.”
“Lalu, apakah ayah seorang yang setia? Kalau ayah menyayangi ibu, mengapa paman mau membunuhnya?”
“Sudah merusak ibu mu sampai melahirkan mu, hal itu tidak membuatnya merasa bersalah. Dia mengganggu wanita lain menggunakan sihir hitam. Bibi Lintani menjadi korban selanjutnya. Sungguh malang nasibnya harus meninggal membawa bayi yang masih berada di dalam perutnya.”
“Bagus jika engkau berani mengakui kesalahan mu. Ibu mu menitip kan mu kepada paman sebelum dia meninggal. Paman sangat berharap engkau tidak mengecewakannya.”
Sadewa membawanya ke makam Dewi Bahati, kemudian menuju ke makan Yuri. Si mbok Rongya menggelengkan kepala melihat tingkah Surya. “Sifat buruknya mirip percis Adika, semoga Sadewa kuat menghadapi anak nakal itu” gumamnya.
Di dalam penjagaan wilayah Kartanegara, pada hari ini Sadewa di panggil ke istana untuk di nobatkan sebagai panglima perang kedua. Para perangkat pengaman negeri mengangkat senjata memberi salam dan hormat padanya.
Dia meminta ijin pada Alas pati agar melakukan penjagaan di perbatasan wilayah dan negeri. Dia memberikan janji padanya agar tidak kembali ke negeri gurun pasir tanpa sepengetahuannya. Sadewa membekukan beberapa prajurit Kartanegara yang memasuki wilayah hutan. Pangeran Wicak melotot, dia menahan menyerang sang panglima karena berpikir dia tidak mau mendapatkan serangan menyakitkan darinya.
Sadewa sangat marah melihat sikap pangeran Wicak. Dia menyerang musuh yang tidak berdaya tanpa membawa senjata atau benda tajam lainnya. Laporan di terima tepat di depan sang raja yang ikut geram melihat pangeran Wicak akan keputusannya yang terlalu berani sehingga mencoreng martabat negeri.
__ADS_1
“Panglima kedua benar, kau salah besar dan tindakan memalukan ini saya harap jangan terulang kembali” ucap sang raja.
Tiga hari sebelum patroli hutan dekat desa Gelanggang.
Suara berisik dari arah jendela, pangeran Wicak terhentak membangunkan Nuraya agar bersembunyi di balik kasur. Dia mengambil senjata bersiap menyerang orang yang menyelinap masuk ke kediamannya. Perkelahian, serangan hingga pukulan. Sang pangeran Wicak keluar dari jendela melompat ke atap menyalakan sinyal darurat. Suara kentungan membangunkan prajurit yang berjaga. Dia mendapati robekan simbol negara sarang laba.
“Raja, aku membunuh salah satu keluarga sarang laba yang tergulir itu agar tidak ada bibit penentang dan calon perebut kekuasan di masa depan. Serangan itu hampir menewaskan keluarga ku. Apa salahnya aku menghabisi satu persatu sisa Sarang laba?”
“Maafkan hamba jika menyela pembicaraaan. Yang mulia, pangeran Wicak tetap bersalah membunuh dua orang anak perempuan dan seorang wanita berumur di dalamnya. Mereka tidak membawa senjata. Hamba mohon yang mulia mempertimbangkannya”
“Panglima kedua benar, pangeran WIcak tetap bersalah dalam hal ini. Saya perintahkan prajurit yang menyerang itu menjalani masa hukuman perasingan menjaga di luar perbatasan wilayah Kartanegara.”
......................
Sudah menjadi pemimpin di negeri jin, Sadewa sedikitpun tidak berniat menyentuh kekuasaan itu atau menggunakan sedikitpun emas yang berlimpah ruah di negaranya. Dia sama sekali tidak menyentuh ratu Gurun atau menggunakan kekuasaan untuk merebut tahta raja Kartanegara.
Pandangan mata sang raja tidak jelas, dia menjatuhkan tubuh di atas singgasananya. Ratu Prameswangi terkejut, begitu pula para putri yang melihat kondisi sang raja kembali memburuk. Penyakit langka sang raja masih di pelajari oleh Sici, ramuannya berfungsi jika sang raja rutin meminumnya namun sebaliknya. Sici mencari bahan herbal di dalam hutan, kali ini memanjat tebing yang sangat tinggi untuk mendapatkan tumbuhan langka.
Menyadari penyakit yang semakin parah itu akan menggerogoti tubuhnya, sang raja memberikan wasiat agar pangeran Batara menggantikan posisi kepemerintahannya.
“Tidak, ayahanda pasti sembuh” kata Batara bersedih.
Bagaimana bisa dia duduk di kursi raja seolah dia mengharapkan kematian ayahnya. Batara tetap berharap para tabib yang dia datangkan dapat mengobatinya.
__ADS_1