Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 83


__ADS_3

Umur yang panjang sebagai penghuni Gurun pasir. Jin mendapat tegukan dari awal nenek moyang negeri itu di tegakkan. Di dalam gua yang baru mereka lihat, Banyuwangi terperangah melihat berbagai lukisan coretan pada dinding batu. Ukuran medium, bagian yang paling besar juga terpampang pada tiap pahatan patung di bagian penembus jalan lain. Lukisan, gambar, tulisan yang tidak bisa terbaca menggunakan seperti batu kapur.


“Nanti saja aku menjawab pertanyaan kalian. Semua akan terjawab dengan sendirinya. Tapi jangan sekali-kali ada yang keluar sebelum amarah sang ratu reda dan pasukan iblis yang terkunci di dalam patung-patung pengikut firaun kembali lagi ke asalnya.”


“Panglima , apakah kau membicarakan kebangkitan tentara ganas itu? bagaimana dengan firaun?” tanya Bara.


“Heemm. Pada mulanya sebelum setengah jin. Engkau tinggal di bumi. Manusia tidak akan pernah tau kapan dan bagaimana raja yang menganggap dirinya Dewa penguasa langit dan bumi itu” kata Banyuwangi.


“Aku akan menjaga para rakyat gurun di sisi bagian sana. Segera nyalakan pintu pembuka kalau situasi mereda” ucap Rakum.


Usia gua yang di perkirakan lebih dari ratusan ribu bahkan ratusan masehi. Banyuwangi meneruskan pengamatan menggunakan kekutan ilmu hitam yang dia miliki. Meneliti gua ini memiliki getaran dahsyat, penyambung kekuatan tentara firaun. Dia mencari-cari dimana letak inti pasukan iblis terlama menembus lorong waktu ke perut bumi.


“Aku ingat sekali ayah pernah cerita bagaimana Firaun. Tapi aku tidak menyangka tempat ini sebagai jalan menembus ke istana Gurun pasir. Kalau kami disini, apa tidak sama saja mencari mati? Makhluk-makhluk berjiwa binatang liar dan buas itu akan menelan semuanya disini” gumam Banyuwangi.


Tanda-tanda keberadaan kekuatan semakin dekat. Banyuwangi menggunakan penunjuk arah mata angin sihir air. Penerangan melihat mata ghaib berhawa hawa sangat panas. Semakin dekat ke titik jalan penghubung, panas melebihi semburan larva letusan gunung. Gua terguncang, suara-suara mengerikan melengking. Hawa kegelapan, hentakan kaki tentara iblis yang bangkit. Gerakan mereka sangat cepat, senjata hitam yang di seret mengeluarkan semburan api.


Banyuwangi takut jika penduduk gurun dan isinya yang bersembunyi di dalam gua raksasa menjadi santapan makhluk-makhluk itu. Dia menutup pembatas lorong lain. Kekuatan tangkla air menutup es membeku, Bara melapisi menggunakan sihir api. “Aku akan menutup rapat, mari kita satukan semua kekuatan” timpal tangkla Rakum.

__ADS_1


Angin yang menggulung kencang, siapa yang menyangka kedatangan tangkla yang telah lama pergi sekarang menampakkan wujud manusia seutuhnya. Dalam elemen bumi, Mahameru sempat tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Rambut berdiri seperti habis kena setrum. Bara melongo, kelucuan di tengah ketegangan menghadapi situasi kacau di lelehkan kicauan Bara berceloteh mengganggunya.


“Hai manusia apakah kau masih ingat jalan pulang?” Bara benar-benar mencari amukan baru yang mereda.


Mahameru membentuk pusara angin, kegaduhan di hentikan Banyuwangi. Pusara angin tetap menggulung, pecahan es mengurung mengombang ambing tubuh si tangkla api. Bara berteriak minta ampun, dia menyerah mengangkat kedua tangan. Tangkla api meneruskan senda gurau, terlepas dari jeratan sihir air dan angin. Dia membuyarkan percikan api hingga ujung rambut Banyuwangi terbakar. Mahameru dengan mudah menghindarinya, cukup menghembus memadamkan api yang dia lemparkan.


Tidak dengan api Banyuwangi, kekuatan sihirnya kali ini lebih lambat dari pada milik sihir si tangkla api. Pertempuran badai sihir es mematikan mengguyur tubuh Bara. Dia terpaksa membungkus tubuhnya, tidak berani keluar dari dalam persembunyian gua. Di atas tanah gurun luluh lantak pertempuran iblis dan jin penjaga.


“Sudah lah simpan amarah mu lain kali saja. Perbuatan mu ini jadi gunjingan rakyat jin. Kau seperti memberikan tontonan gratis” bisik Rakum.


“Ya aku juga meneliti, semua kekuatan mu ini sia-sia di keluarkan. Hanya menguras energi yang seharusnya di persiapkan menghadapi makhluk pengikut Firaun. Belum tentu pintu lorong kekuatan empat elemen tangkla bisa menahan. Kau tau sendirikan kekuatan iblis di zaman kuno itu tidak terkalahkan?”


“Pergilah! Aku tidak suka jin kecil”


“Uhuk! Terimakasih engkau melepaskan ku Banyuwangi. Jangan kasar begitu sama jin kecil, bisa jadi di masa depan engkau akan memilikinya dari diriku!”


Plakkk__ Syat__

__ADS_1


Hukuman pengingat agar dia jangan berharap atau sekali lagi mengatakan yang tidak mungkin terjadi. Rambut Bara hangus terbakar, meski Banyuwangi memiliki kekuatan dasar tangkla air. Di dalam kekuatan hitam, dia dapat mengendalikan api yang bisa menuruti semua perintahnya.


Rambut botak hangus terbakar, Bara cemberut mengusap kelapanya yang licin. DIa terpaksa menggunakan api merah yang tersusun sulur berkibar rambut palsu pengganti.


“Huhh, jahat sekali kau kepada ku Banyuwangi!”


Tepukan, lemparan daun-daun kering yang mereka pungut dari dalam gua. Menunjukkan kekaguman mereka pada para tangkla gurun memiliki kekuatan besar. Tanah kembali terguncang, ketakutan rakyat gurun berjongkok menunduk. Para tangkla membagi tugas menjaga. Pintu elemen empat sihir di pukul dari luar. Mereka menambah lapisan kekuatan, Bara melihat Sanca berdiri di hadapannya.


“Arggh! Jangan sakiti aku panglima Sanca!” Bara menyatukan kedua tangan.


Dia meletakkan seekor ular di tangannya. Bara terpaksa menerima, dia hampir pingsan tidak tahan memegang ular berbisa yang menggeliat lendir. Badan ular terasa dingin, ada sisik bergesek di sela lilitan badan melata ke lengan.


“Jangan bergerak atau membuangnya kalau kau tidak mau di telan penguasa ular hijau hidup-hidup. Ini tanda dia mengangkat ikatan sekutu” bisik Banyuwangi.


“Ya, tangkla air benar. Jadi ular ini adalah peliharaan mu” timpal Rakum.


Tangkla air, angin dan tanah memberi hormat pada panglima perang terkuat sepanjang serah di negeri itu. Mereka tidak mengetahui atas dasar apa hanya tangkla api yang di pilih menjaga salah satu peliharaannya. Ular hijau kecil menggeliat hingga masuk di sela baju Bara. Bergetar ketakutan, merasakan ular itu mendekati bagian tengah perut. Tubuhnya berubah sangat panas. Ular kecil melata pindah ke atas kepalanya. Rakum dan lainnya menahan tawa, tampak raut wajah Banyuwangi yang biasanya datar berubah sedikit tertawa.

__ADS_1


Suara hentakan tongkat milik raja penguasa kegelapan terdengar keras. Kekuatan permata hijau bersinar menerawang menembus kejadian di balik tembok yang di tutup sihir ke empat tangkla menunjukkan berbagai macam makhluk bangkit keluar membunuh tentara negeri api. Melawan pasukan iblis yang kekuatannya hampir sama dengan kekuatan tentara Firaun. Membentur kekuatan iblis seimbang mengubah langit jin mengeluarkan hewan-hewan berjatuhan bagai hujan yang sangat deras.


Winan tidak henti mengucap mantra pemanggilan prajurit iblis. “Gawat! Kalau lorong waktu pecah, tempat ini akan runtuh!” Bara terhentak menahan puing-puing bebatuan.


__ADS_2