
Semua hal ghaib bisa menolong menggunakan kekuatan yang lebih ampuh di bandingkan ilmu sihir hitam dan putih. Tapi dalam kitab sihir yang belum di ketahui sang peraciknya. Ilmu sihir hitam dan putih jika di gabungkan akan membentuk sebuah ramuan yang bisa mengobati jiwa atau memakan jiwa yang mengkonsumsinya. Melihat kondisi sang raja yang semula sekarat berangsur pulih setelah meminum ramuan herbal dari Sicin. Wajahnya perlahan memerah dan tubuhnya menghangat.
“Maaf yang mulia ratu. Ramuan herbal ini hanya bisa mengobati rasa nyeri tapi tidak menghilangkan penyakit simpanan raja. Tumor ganas yang menyerang di kepalanya” ucap Sicin.
“Jangan beritahu kabar ini kepada siapapun. Aku tidak mau para punggawa kebesaran memanfaatkan kesempatan di kala sang raja berbaring lemah” ucap pangeran Angka.
“Baik pangeran.”
......................
“Aku harus bagaimana jika harus menerima suratan takdir seperti di mimpi ku? Hati ku sangat gelisah” gumam Alas pati terbangun dari tidurnya.
Dia tidak menemukan Sadewa di sampingnya. Tampaknya dia sibuk memerintah di kerajaan barunya. Sebuah tempat ghaib yang terletak di perut bumi. Ingin sekali dia ikut pergi, tapi seperti yang di katakan suaminya itu bahwa disana adalah tempat yang mengerikan dan penuh sebab akibat. Terlebih lagi dia sedang mengandung.
Suara tangisan keras Surya, dia menekuk lutut di bawah pohon hingga meraung-raung. Si mbok tidak bisa menenangkan namun tangisnya tidak berhenti. Alas pati bangkit dari kasur memegang perut besarnya, dia melihat meenggendong Surya masuk ke dalam. Menenangkan keponakannya itu lalu memberikannya segelas susu hangat.
“Apa yang sudah menimpa mu? bilang sama bibi. Bibi dan paman mu adalah seorang pendekar”
“Bibi, kuda kesayangan ku di ambil pangeran Besaka. Hiks”
“Oh, sudah jangan menangis. Laki-laki harus tegar di dalam situasi apapun. Air matanya itu sangat malam. Pria sejati menyimpan kesusahannya walau sangat sakit. Bibi akan meminta paman membelikan seekor kuda yang kuat dan larinya jauh lebih cepat dari pada kuda milik mu.”
__ADS_1
“Tidak bibi, dia adalah kuda kesayangan ku. Sedari aku sangat kecil, aku sudah bersahabat dengannya. Dia juga pernah menolong ku saat seekor ular akan mematuk ku.”
Surya sangat kesal, dia mengunci diri di dalam kamarnya. Menunggu suaminya agar mendapatkan solusi atas masalah yang menyangkut Surya. Hatinya was-was memikirnya suaminya sedang berduaan dengan ratu di negeri gurun.
Malam yang larut, Alas pati berdiri di depan pintu. Si mbok memberikan nasehat padanya sambil membawakan segelas air hangat.
“Non, nggak baik wanita yang sedang hamil berlama-lama betdiri di depan pintu. Kalau kata orang zaman dulu, itu namanya pamalih. Nanti susah lahiran. Udara semakin dingin, non masuk saja nanti si mbok yang membukakan pintu untuk Sadewa”
“Ya mbok, terimakasih”
Di dalam kamar, Alas pati berdiri melihat dari jendela. Mendengar Sadewa pulang, dia naik ke atas kasur memejamkan mata. Pendekar itu masuk ke dalam mengusap perutnya. Mata alas pati terbuka lalu posisi tidurnya berpindah pose membelakangi.
“Kenapa mereka harus di kurung? Bukan kah Gurun Sahara bagian wilayah manusia?”
“Ya engkau benar dinda. Tapi tetap saja keganasan pasir merenggut jiwa yang tidak bersalah. Sifat manusia saja kebanyakan penuh keserakahan apalagi bangsa jin? Mereka suka menyilapkan pandangan sehingga orang menganggap di tengah gurun terdapat mata air yang melegakan dahaga. Padahal itu adalah pasir penghisap. Aku sadar adalah salah satu manusia yang penuh serakah, memimpin kedudukan raja jin gurun dan menyakiti hati mu.”
Alas pati menahan air matanya yang hampir tumpah. Dia merasakan kesetiaan suaminya itu yang begitu dalam. Di dalam diri Sadewa tetap ada nama Alas pati, wanita berbaju pelangi si penjaga kaki bukit pancer. Sadewa memeluk erat tubuh Alas pati dari belakang, dia mengusap lembut perutnya.
Mengingat pernikahan sederhana tahun lalu.
Setelah negeri Kartanegara kembali di tegakkan. Sadewa meminang Alas pati secara kecil-kecilan. Tirai pelangi membentang, hanya orang-orang terdekat saja yang menghadiri acara sakral tersebut. Tidak lupa sang raja memberikan hadiah yang melimpah ruah.
__ADS_1
Salah satu hadiah yang mengesankan adalah selain mengangkat Sadewa menjadi Adipati, dia juga memberikan wilayah kekuasaannya di bagian Timur. Walau hanya bersifat sederhana, si penjaga pohon suci bercahaya menerangi kediaman Gupta. PAda hari kebahagiaan setelah melewati masa sulit ini, terlihat Sadewa begitu mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang pada Alas pati yang rela berkorban pada dirinya.
Alas pati menceritakan kabar mengenai Surya. Mendengar hal itu Sadewa akan meminta pada Surya agar merelakan kuda poni kecil miliknya itu. Tapi Alas pati mengatakan bahwa Surya sangat menyayangi kuda yang selalu menemaninya itu.
“Atas ijin mu wahai kakanda, aku akan mencoba berbicara pada sang ratu.”
Keesokan harinya Alas pati pergi ke istana. Di alun-alun dekat kolam bunga teratai merah jambu, dia memberi hormat menghadap sang ratu Penyampaian meminta agar pangeran Bekasa mengembalikan kuda poni milik Surya. Sang ratu prameswangi memanggil pangeran kedua itu agar mau mengembalikan. Alas pati menyampaikan permintaan maaf pada sang ratu dan pangeran. Akan tetapi, raut wajah sang pangeran berubah drastis. Dia tidak mau mengembalikan kuda poni hitam milik Surya, sang pangera Bekasa mengganti dengan sepuluh kuda poni miliknya.
“Aku menggantinya memberi semua poni ku untuk mu”
“Maaf pangeran, tapi saya hanya menginginkan kuda poni saya. Dia adalah sabahat saya” ucap Surya.
“Kembalikan lah pangeran. Ibunda tidak pernah mengajarkan mu menjadi perampas milik orang lain. Jika ayah mu tau maka beliau sangat marah pada mu” ucap ratu Prameswangi.
Sang pangeran Besaka sangat marah, dia melengos pergi. Setelah kuda itu di kembalikan, Alas pati meminta ijin pulang dan menyampaikan rasa terimakasih padanya.
Perebutan kuda poni pada kedua anak kecil itu sampai di telinga para punggawa. Banyak orang yang ingin mendapatkan kuda poni kecil itu untuk memberikan hadiah pada sang pangeran.
“Sang pangeran pasti akan sangat senang melihat kuda yang sangat dia ingin kan itu. Tidak perduli dengan cara apapun. Jika kuda itu sudah sampai di tangannya lagi pasti kita akan mendapatkan hadiah yang sangat besar. Aahahah” ucap pangeran Wicak.
“Benar pangeran, kami mendengar sang pangeran sangat marah. Sikapnya terlihat jelas menentang sang ratu” ucap penjaga Tenggara. Sifat pangeran Wicak berubah, dia bersifat ingin lebih berkuasa hingga ingin menggeser posisi pangeran Angka.
__ADS_1