
Sang raja sudah bisa menapak berdiri memimpin di depan para punggawa dan abdi dalem kebesaran. Prameswangi dan anak-anaknya tersenyum memijit pelat kaki dan tangannya. Sang raja meminta agar mereka tidak terlalu mengkhawatirkan kesehatannya. Dia merasa dirinya jauh lebih pulih, obat-obatan herbal racikan tabib Sicin memang terkenal akan keampuhannya.
“Pada hari ini, aku menetapkan pangeran Batara sebagai putra mahkota tunggal sebagai calon raja Kartanegara. Adapun pengangkatan panglima perang perang pertama sebagai penjaga istana inti dan komando tempur. Begitu pula panglima perang kedua, pendekar Sadewa sebagai panglima seluruh perbatasan wilayah maupun wilayah jajahan.”
“Terimakasih atas kepercayaan yang mulia” ucap mereka sambil menekuk lutut.
Pangeran Wicak mengerutkan dahi memasang wajah marah. Dia sudah tidak sabar menempati posisi pangeran Angka sebagai punggawa terdekat di istana inti. Mendengar pangeran Batara sudah di nobatkan secara terburu-buru, tidak menutup kemungkinan sang raja sedang merahasiakan sesuatu. Dia akan terus berusaha mempengaruhi pangeran Batara agar dia bisa mendapatkan kepercayaan penuh seperti para panglima dan pangeran Angka.
Di dalam rapat tertutup, pangeran Wicak dan anggotanya berkumpul membicarakan persiapan sekutu baru setelah pangeran Batara naik tahta.
“Lihat saja, dugaan ku pasti tidak meleset. Penyakit raja pasti sudah menggerogoti tubuhnya, dia mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan. Terlebih lagi, dia juga tidak ingin ada perebutan tahta antara pangeran Batara dan Besaka” ucap Wicak mengusap dagunya.
“Tapi pangeran, sesuai garis bintang. Kelahiran pangeran Batara pernah memakan bulan. Kepemimpinannya akan membawa musim dingin, Kartanegara akan mengalami banyak kesusahan” ucap ketua sekutu.
“Ya, tapi raja tidak mempunyai pilihan lain. Jika dia memilih Baseka, maka Batara akan membunuh adiknya sendiri. Akan ada pertumpahan darah, tidak menutup kemungkinan Batara mengumpulkan sekte sekutu terhebat untuk mengambil hal kekuasaannya. Baseka masih terlalu kecil untuk bertarung dengan saudaranya sendiri.”
Kedekatan pangeran Wicak yang ingin memanfaatkan sang putra mahkota membuat kekhawatiran oelh para punggawa istana. Tapi dia juga tetap mengambil simpati dari pangeran Baseka untuk memperkuat kedudukannya. Mendengar pangeran Baseka sangat menginginkan kuda poni miliknya, pangeran Wicak memerintahkan pasukan rahasianya untuk mengambil kuda tersebut.
Di siang terik Surya bermain-main sendiri di belakang rumah kediaman Gupta. Dia di serang para ninja berpakaian hitam. Surya terjatuh dari kudanya, dia menangis merasa kesakitan.
“Hiks, jangan ambil kuda ku! Tolong! Bibi Alas pati!” teriaknya.
Saat salah seorang ninja menodongkan senjata, Alas pati menggunakan jurusnya menarik tubuh Surya. Dia melawan kelima pria bertopeng itu meskipun kesusahan membawa perutnya yang besar. Menepis serangan, sedikit lagi dia terkena shuriken, senjata cakram bintang yang telah di taburi racun.
Alas pati berhasil melumpuhkan lawan, mengusir mereka sehingga para ninja itu berlari meninggalkan kediaman. Dia memberitahu kepada Sadewa kejadian yang hampir merenggut nyawa surya, mata sang pendekar menyala memerintahkan bala tentara mencari pelaku yang sudah berani masuk menyerang kediamannya.
__ADS_1
“Wahai adinda, kenapa engkau tidak menyalakan sinyal sihir. Bukankah aku sudah memberitahu mu bagaimana cara menggunakannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak kita. Keguguran misalnya”
“Kakanda, bagaimana aku menyalakannya lalu hanya menyaksikan keponakan mu akan di bunuh. Surya sudah Dinda anggap sebagai anak angkat.”
“Aku tidak menyangka kuda milik Surya menjadi rebutan para sekutu. Pasti ada sesuatu pada kuda itu.”
Kuda yang begitu di inginkan pangeran Batara namun keinginannya tidak terpenuhi mengakibatkan sang pangeran mengalami demam berkepanjangan. Dia tidak mau makan, minum ataupun minum obat dari para tabib. Sang ratu Prameswangi juga tidak bisa memaksakan sifat keras anak keduanya itu. Sang raja masuk ke dalam kamar kebesaran, dia menyentuh dahi Baseka merasakan tubuhnya yang sangat panas.
“Sebenarnya apa yang engkau inginkan anak ku? Katakan pada ayahanda.”
“Walau Ananda mengatakannya pastilah ayahanda tidak mengabulkannya” jawab pangeran Baseka lalu memunggunginya.
Sang raja menghela nafas melihat gelagar anaknya yang keras kepala itu. Dia membalikkan tubuhnya lalu menatap dengan penuh kasih sayang. Dia tau bagaimana sifat sang pangeran kedua meski tampak keras namun berhati lembut dan penuh kejujuran.
“Apa yang tidak bisa Ayahanda kabulkan untuk mu? ayahanda adalah seorang raja Kartanegara.”
“Raja, kuda yang di maksud Baseka adalah kuda milik keponakan panglima Sadewa” ucap ratu prameswangi.
“Aku akan mengambilnya ayah” kata pangeran Batara.
“Begitukah tindakan seorang penerus raja? Apakah suatu hari nanti engkau akan merampas hak milik orang lain atau rakyat mu sendiri?”
“Tapi ayahanda, bukankah seorang rakyat harus rela berkorban demi negaranya?”
“Apa yang engkau masuk merelakan benda milik para rakyat demi kesenangan mu? negara ini akan hancur jika kau memimpin dengan penuh rasa sombong dan egois!”
__ADS_1
Raja Kartanegara tidak menyetujui keinginan pangeran Baseka. Dia mengingat pengorbanan diri sang pendekar Sadewa demi membantunya mengembalikan Kartanegara. Dia meninggalkan kamar pangeran kedua, memerintahkan tabib istana agar memaksanya meminum obat sekalipun sang pangeran menolak.
“Apa yang harus kita lakukan kanda? Kesehatan pangeran kedua semakin menurun. Apa tidak sebaiknya kita membujuk Surya agar mau memberikan kudanya?” ucap Alas pati.
“Menurut si mbok, apa tidak sebaiknya kuda poni milik pangeran kedua di sihir menyerupai kuda milik Surya?”
“Tidak bisa begitu mbok, itu namanya membohongi diri sendiri. Seorang kesatria harus berani menghadapi keadaan situasi tersulit apapun” kata Sadewa.
Surya mendengar pangeran kedua mendengar pembicaraan mereka, dengan berat hati dia akan memberikan kudanya agar sang pangeran sembuh dari penyakitnya. Tapi tidak setelah Surya menemuinya sambil membawa kuda poni hitam sahabatnya itu.
“Enyah lah kau dari hadapan ku. Aku sudah tidak menginginkan kuda mu lagi!” bentak sang pangeran.
“Tapi hamba merasa bersalah karena pangeran sakit akibat meminta sahabat ku ini”
“Apakah engkau benar-benar mau memberikan sahabat mu pada ku?” tanya pangeran kedua.
Surya mengangguk, dia menggiring kudanya agar mendekat ke pangeran kedua. Melihat kesungguhannya, sang pangeran merasa iba lalu memberikan kuda poni itu kembali.
“Jagalah sahabat mu ini.”
“Terimakasih banyak pangeran” ucap Surya merasa bahagia.
Sejak saat itu keduanya sangat dekat, sang pangeran sering mengajak Surya bermain-main di di istana. Kali ini mereka pergi untuk berburu di hutan. Menggunakan panah untuk berburu, Surya yang terlebih dahulu mendapat buruan. Untuk menyenangkan hati sang pangeran, Surya mengatakan kepada para pengawal bahwa rusa itu adalah hasil buruan dari sang pangeran kedua.
“Pangeran Baseka memang hebat” ucap salah satu pengawal.
__ADS_1
Hasil buruan itu di berikan pada sang raja. Raut gembira tergurai berpikir pangeran Baseka memiliki jiwa pendekar yang bisa di tempeh sebagai panglima perang. Namun ternyata dugaannya salah, penjaga pendamping raja membisikkan bahwa hasil buruan itu adalah tangkapan Surya.
Melihat waut wajah pangeran kedua, seolah dia kan mengutarakan kejujuran padanya.