
Mendengar kabar kehadiran sosok wanita misterius di sisi Adipati panglima perang Sadewa dan raja Batara. Pikiran Kalut Wicak memanggil para penyihir peramu sihir hitam. Rencana menggulirkan raja masih terus berlanjut. Tepat di malam hari, rambut setan menjala membungkus tubuh sang raja yang sedang tertidur. Semula di sore hari sang ibu suri mewanti-wanti agar sang raja lebih mendekatkan diri di dalam pura leluhur.
Antara sadar dan tertidur, sang raja merasakan tubuhnya tertindih besi yang sangat berat. Mulutnya di penuhi bara api yang sangat panas. Rasa sakit tidak terbilang lagi. Di pagi hari sang raja di temukan mati suri, tubuhnya sangat panas. Kulit berwarna biru, siapapun tabib yang menyentuhnya mengangkat tangan tidak sanggup menangani. Begitupula dengan Sicin. Tabib istana yang pintar menangani penyakit keluarga kerajaan itu baru pertama kali kesulitan meracik obat untuk sang raja.
Persoalan lain, masalah menimpa satu dengan lainnya. Sadewa rumit menata ulang pemecahan mana yang harus di urus terlebih dahulu. Sesampainya di negeri jin, kerajaanya sedang bertikai menyerang menggunakan kekuatan sihir jin. Badai pasir, gulungan kematian kekuatan sang ratu tidak mereka hiraukan lagi. Di atas kerajaan, langit peonix melayang melalui serangan kekuatan tangkla air.
Gerakan sihir tangka api menghunus tubuh langit dengan pedang api lebih cepat dari Sadewa yang akan menarik anaknya. Namun tidak di sangka keluar cahaya bentuk burung peonix yang mengepakkan sayap membalikkan api merah ke tangkla api. Ruti yang barus aja tiba menyaksikan kesaktian bayi langit yang belum bisa menapak kaki itu.
Menjatuhkan lawan, sosok penampakan burung arwah membentang sayang masuk kembali ke tubuh langit. Sadewa terbang menangkap langit, dia memberikan ke ratu Winan. Kaki sang raja yang memberikan banyak kelonggaran pada tangkla jin ternyata tidak di terima malah mau membunuh anaknya.
Sang raja mengeluarkan senjata lenggo geni. Dia membekukan sebagian tangkla dan menahan tubuh mereka dengan tanah. Sang ratu menyetujui tindakan sang raja sebagai pengingat bahwa tidak sepatutnya para pengikut penguasa gurun memberontak hingga melakukan percobaan pembunuhan.
Tangkla-tangkla yang sudah meremehkannya itu berpikir manusia yang di angkat sebagai raja tidak memiliki kekuatan apa-apa.
“Jangan kalian berpikir kehadiran ku hanya sebagai seonggok kau atau batu yang memberatkan gurun pasir. Aku bisa mengendalikan empat elemen, jika aku mau. Aku akan membawa langit dan ratu Winan ke atas permukaan bumi, lalu negara ini aku tenggelamkan.”
“Maafkan kami yang mulia. Ampuni lah hamba” tangkla api yang sangat berkuasa memegang kendali pertama pemerintahan bertekuk lutut di hadapannya.
“Mohon maafkan kami raja. Jangan bunuh kami” ucap tangkla air ikut berlutut.
“Aku akan memenjarakan dan memberikan sanksi hukuman penggal kepala bagisiapa saja yang memberontak pada sang ratu. Mulai hari ini siapapun yang berani membentuk sekutu. Algojo, bawa kdua tangkla ini untuk di adili!” perintah sang raja.
__ADS_1
Di dalam ruangan kebesaran, sang ratu tertawa mengingat perkataan Sadewa. Langit terjaga di dalam lelap di buaiannya meski dia bergerak kuat. Dia menimang langii, mengusao tubuhnya yang berbulu. Tampak semakin dia tubuh semaki Nampak pula bulu merah keemasan itu.
“Apa yang sedang engkau tertawakan ratu> apakah engkau menertawakan anak ku?”
“Hahaha, engkau jangan salah sangka raja. Anak mu siapa yang engkau sebutkan? Langit adalah anak ku, dia sudah menjadi bagian dari diri ku.”
“Lantas, apa yang membuat mu tertawa?”
“Aku tertawa atas perkataan mu yang akan memenggal jin. Tangkla jin maupun jin di perut bumi mustahil tewas hanya karena kepala terlepas dari tubuhnya. Bahkan hanya dengan kedua kaki tanpa tangan saja mereka bisa memindahkan benda dengan kedipan mata.”
“Untungnya mereka tidak menertawakan ku. Kenapa disitu juga tidka engkau sanggah?”
“Aku tidak mau menurunkan wibawa raja gurun di depan rakyatnya. Tindakan mu hari ini cukup membungkam mulut besar mereka. Besok engkau yang akan memutuskan mereka di meja peradilan. Engkau pula yang berhak memilih ketua tangkla pengganti.”
Kedatangan Ruti yang mendapat kabar darinya itu langsung di kabarkan kepada sang raja. Dia adalah tangan kanan terpercaya hingga di malam yang larut dia mengetuk pintu kebesaran. Raja mencari Winan, bertanya pada salah satu pengawal. Sang ratu berdiri di depan pasir hidup dengan lamunannya yang panjang.
“Ratu, kenapa engkau disini? Bagaimana jika engkau tergelincir masuk ke pusaran itu?”
“Aku pengendali sekaligus penguasa gurun. Tidak perlu khawatir begitu pada ku.”
“Ratu, aku akan melakukan perjalanan jauh mencari tabib. Penyakit raja semakin parah, tabib Sicin memerlukan bahan ramuan”
__ADS_1
“Aku ikut dengan mu, bukan kah raja sudah mengenal ku?”
“Ya, aku akan menitipkan langit pada Ruti.”
“Kali ini aku meninggalkan mahkotaku untuk menjaga anak ku.”
“Maafkan hamba yang mulia, tapi yang mulia tidak boleh melepas mahkota karena ular-ular itu hanya yang mulia yang bisa mengendalikannya.”
“Ruti benar, aku tau niat mu tulus. Tapi engkau juga harus memikirkan keselamatan para penghuni gurun.”
Nasehat dari sang raja di dengar olehnya. Para tangkla, perangkat jin, dayang melihat sikap ratu yang tidak lagi bersikap kejam. Keluar dari perut bumi, sebelum pergi keluar Kartanegara mereka menemui sang raja. Ibu suri Prameswangi terkejut melihat sosok makhluk yang berwujud manusia namun jari jemari sedikit lebih panjang yang menggeliat ular di atas kepalanya.
“Siapa dia Adipati? Tolong singkirkan ular-ular itu” ucap ibu suri ketakutan.
“Dia adalah istri hamba, ratu jin Winan gurun pasir.”
“Hormat saya. Anda jangan takut, ular-ular ini tidak akan menyerang jika tidak saya perintahkan. Kami mendengar raja sakit. Jika ibu suri memperkenankan, maka saya akan melihat penyakitnya” kata sang ratu.
Ibu suri melihat Sadewa menganggung kepala, dia pun menyetujui Winan. Wanita itu tidak mendekati raja, hanya tangannya saja yang mengeluarkan cahaya merah menembus tubuhnya. Mata melotot merasakan aura sihir hitam menutupi seluruh tubuhnya. Bentuk sihir yang berbeda dari para peracik sihir hitam atau putih.
“Ibu suri, penyakit yang di derita raja bukan lah penyakit alami atau penyakit dari sihir manusia. Ini adalah penyakit dari iblis yang berada di langit Kartanegara. Kemungkinan ada musuh yang sengaja mendatangkannya.”
__ADS_1
“Ratu, tolong katakan pada ku bagaimana cara menyembuhkannya? Apapun persyaratannya akan aku turuti. Tolong selamatkan anak ku.”
Semua yang surat tersurat meskipun bukan kehendak yang maha kuasa. Bangsa jin tidak bisa ikut campur di dalamnya. Apa yang harus Winan lakukan?