
Selesai berkelana mencari Langit di beberapa alam, Sadewa putus asa tidak menemukan jejaknya. Dia keluar melewati lorong waktu, menginjak kaki melangkah di depan wilayah gurun. Pemandangan di depan memperlihatkan kesibukan para penduduk jin sibuk memperbaiki bangunan yang porak poranda. Tidak hanya itu, dia juga memperhatikan tanah yang retak, bekas-bekas ledakan. Tumbuhan yang hangus dan tanah berlumpur bercampur darah.
“Raja, tolong kami membangun kembali rumah yang hancur.”
“Wahai raja yang agung, bantu lah kami.”
Suara rintihan kesakitan rakyatnya ramai di telinga, di menoleh ke sisi lain yang mencengangkan adalah potongan daging-daging manusia di angkut menjadi satu ke sebuah karung raksasa. Dia baru menyadari kemungkinan besar puluhan tahun atau beberapa kali bulan purnama pergi meninggalkan kerjaannya. Hatinya yang di rundung kebingungan, mana yang harus dia utamakan di sisi lain rasa bahagia yang mengharu biru menyambut anak keduanya.
Kara, belum sempat dia melihat atau menimangnya dalam buaian. Mendengar semua penjelasan dari Ruti yang datang tiba-tiba di depannya. Sang raja menunggangi kuda menemui sang ratu. Amarah Winan di tinggal olehnya. Dia tidak mau membuka pintu ruang kebesaran. Ruti dan para tangkla tidak bisa berbuat apapun. Mereka meninggakkan sang raja kembali ke tugas yang di emban masing-masing penjaga keseimbangan dunia jin.
“Ratu, maafkan aku. Ku mohon ijinkan aku berbicara pada mu.”
“Pergi!” bentak Winan dari dalam.
Winan menggunakan sihir membungkus pintu mengubahnya menjadi sulur yang di penuhi ular-ular rambut Sanca. Sadewa melepaskan cincin ular dari Winan, sinar hijau lemparan menghilangkan semua sihirnya. Winan tidak menyangka sang raja masih memakai cincin miliknya. Dia sempat berpikir di tinggal selamanya, sampai semua rasa amarahnya surut melihat sang raja yang semakin kurus kering berdiri di depan runtuhan pintu.
Dia membiarkan sang raja tertimpa bebatuan yang pecah. Winan mengembalikan bentuk pintu seperti semula dengan sihirnya lalu berjalan mendekatinya. “Wahai ratu ku, untuk menebus rasa bersalah ku ini. Aku siap mati di tangan mu.”
__ADS_1
Mendengar ucapan sang raja, Winan melemparkan pisaunya ke lantai. Dia menangis menyesali takdirnya yang buruk. Hampir saja dia menjadi gila di tinggal anak dan suaminya, pada hari ini setitik cahaya harapannya bangkit melihat raja kembali ke sisinya.
“Tidak, bagaimana bisa aku membunuh suami yang sangat aku cintai. Dia membawa pengaruh peradaban besar di negeri yang sebelumnya di lalui dengan pengorbanan setiap jin tiap harinya. Engkau telah kembali, ayo kita bersama-sama menjemput langit dan Kara.”
Di dalam rapat besar, sang ratu tidak menceritakan apa yang di laluinya di kolam keabadian. Dia juga tidak mau Sadewa mengetahui setengah tubuhnya menjadi iblis, bahkan tubuh yang tampak berwujud sebenarnya telah merapuh.
Banyuwangi berdiri meletakkan sekuntum bunga Lotus. Dia membunga kelopak cahaya menggunakan sihir elemen tujuh mata air yang terletak di bumi maupun jin. Gambaran sukma dewi jelmaan putri Lotus yang kembali ke ilmu cahaya putih. Dia memberitakan kabar takdir buruk sang putri gurun. Walau kedua orang tuanya memaksa mau menyelamatkannya agar bisa berpindah kembali ke alam jin melalui cara apapun. Itu sama saja melawan ketentuan garis hidupnya.
“Yang mulia raja dan ratu harus memilih. Tuan putri hidup di negeri jin sebagai aliran hitam atau hidup di dunia sebagai elemen empat penyeimbang dunia yang bisa melalui segala kegelapan di atasnya.”
“Tangkla air, jangan halangi kami untuk bertemu sang putri. Siapa lagi yang akan menjadi pewaris negeri ini?” ucap Winan yang mulai kehilangan kesabaran.
“Raja, dia adalah bayi kecil yang malang. Hiks.”
“Maafkan hamba wahai yang mulia..”
Sebagai penyambung keduanya sangatlah sulit, Banyuwangi pernah mencoba namun batas kegelapan memecahkannya. Pertemuan berakhir mendengar titah sang raja pada para tangkla yang tetap andil sebagai penjaga wilayah gurun maupun sang putri di negeri manusia. Winan berjalan terhuyung-huyung, sang raja membopongnya hingga ke ruangan permadani.
__ADS_1
“Wahai ratu ku, apa yang akan engkau lakukan kalau malam ini adalah malam terakhir ku di negeri jin? Aku tau rasa cinta dan sayang mu pada anak kita sangat besar. Aku akan mencarinya dan akan mengorbankan nyawa untuk Kara.”
“Bagaimana dengan Langit? Aku juga mempunyai tanggung jawab besar pada Alas pati. Sering kali aku melihat arwahnya sesekali terlihat di bumi.”
“Langit sudah pasti terjaga dengan Garuda dan burung ruh peonix yang menyatu di dalam tubuhnya. Maafkan aku istri ku, aku telah menjadi sosok ayah yang gagal.”
“Hiks, hiks..” Winan menangis pilu.
Melabuhkan kesedihan pundak sang raja, malam itu sang ratu tidak tau merasakan rasa suka atau duka yang sesungguhnya. Winan cepat sekali terlelap, terlihat wajahnya yang sangat letih dan lengkungan mata cekung hitam pada kelopak mata. Sadewa beranjak menuruni permadani meneruskan rapat yang tertunda. Dia mengatur bagian-bagian tugas para pembesar dan ikut andil terjun merapikan kembali negeri gurun. Sokongan negeri seribu satu malam sampai saat ini masih membuatnya tercengang. Selayang trokat memanggil jin penimbun harta karun yang membantu melalui istana dan seluruh rumah negeri gurun dengan emas.
Cerita lampu jin yang bisa mengabulkan apapun, termasuk emas, permata, intan, berlian dan benda berharga lainnya berasal dari negeri gurun. Banyak manusia terkecoh, berpikir bisa mendapatkan kekayaan setelah melewati badai pasir ganas. Hanya manusia pilihan yang bisa melihat istana itu, manusia yang tersesat masuk ke pintu alam lain. Tempat sarang kegelapan yang menunggu di depan.
“Ini sudah hampir satu abad, aku tidak kuat lagi berjalan atau terlalu banyak bergerak. Di samping itu aku hanya berbaring di atas kasur menunggu ajal yang sampai saat ini belum menjemput ku. Andai ada Dewi bahati sahabatku, maka aku akan menceritakan semua padanya. Dimana dia sekarang?” batin Yana menitihkan air mata.
Dia tidak percaya pada mimpinya yang menggambarkan Dewi Bahati melambaikan tangan menggunakan pakaian putih melambaikan tangan padanya. Dayang pendamping menyodorkan sebuah tinta tulis, dia menunggu Yana menulis sesuatu meski menulis satu kata memakan waktu selama berjam-jam. Keinginannya hanya satu, mengetahui berita sahabatnya.
“Maafkan saya nyonya, saya mendapatkan informasi kalau orang tersebut telah meninggal dunia. Anaknya Surya menjadi salah satu pengawal raja Kartanegara.”
__ADS_1
“Cepat bantu aku untuk bisa berdiri dengan sempurna lagi, aku harus menjaga Surya. Keponakan itu sangat gampang di pengaruhi iblis.”
Tulisan yang tidak terlalu jelas berusaha dia pahami satu persatu kata. Dayang yang paling dipercaya itu benar-benar patuh apa yang di katakan Yana. Apapun yang di tugaskan, dia tidak akan berpikir menolak atau takut menghadapinya.