Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 50


__ADS_3

Di dalam ruangan kebesaran, tahta yang di perbesar para perangkat penting istana menghadap. Banyak yang keliru kehadiran sang ratu Peri mengingatkan kehadirannya di masa Fir’aun. Winan menegaskan pada penguasa peri itu agar dia melayangkan kehendak kedatangannya. Di samping itu dia juga memberikan ucapakan terimakasih atas bantuan dalam peperangan.


“Saya, raja gurun tidak henti memberikan rasa terimakasih sedalam-dalamnya. Dia di semat sebagai panglima ketiga.”


“Terimakasih atas anugerah yang di berikan sang raja dan ratu” jawab Ratu Peti.


Dia menerima sebuah simbol kerajaan gurun. Sang ratu meminta di beri perpanjangan waktu berada di istana itu. Atas kemenangan yang menggelegar meredupkan kekuatan dan semangat musuh. Raja menyetujui permintaannya.


Pintu terbuka, tabib Sicin berlari tertatih-tatih. Tubuh tersungkur jatuh di depan para pembesar yang melihatnya.


“Ada kepentingan apa tabib Sicin?” tanya sang raja.


Tangannya bergetar, dia memelas menyatukan kedua tangan. Harapan memohon mendapat ijin pergi dari istana.


“Ada kepentingan mendesak apa yang membuat engkau tergesa-gesa? Engkau adalah tabib yang sangat di butuhkan di dalam istana.”


“Ma_ma_maafkan aku ratu Winan. Hamba sangat mengenak sosok anak kecil yang menyerang istana hari ini, hamba ingin mencarinya dan memberikan obet penawar.”


“Apakah maksud mu kalau jin kecil itu terkena sihir hitam dari sekte hitam?”

__ADS_1


“Benar sekali yang mulia. Hamba melihat di sekitar wajahnya seperti ada retakan urat berwarna hitam.”


“Tabib Sicin, jika engkau berkenan maka Poppy akan mengawal mu.”


“Terimakasih atas kebaikan ratu peri.”


Sang tabib tidak bisa menolak di depan ketiga para pembesar. Wajahnyanya yang masih sangat lemah di kuatkan agar lebih cepat berjalan. Di dalam pikirannya yang sangat kacau, sang tabib tidak tahan melihat sosok anak kecil itu di panggil dengan sebutan Lintah Iblis.


“Aku yakin dia terkena sihir iblis. Kak Lintani pernah mengajarkan membuat obat racikan ilmu sihir empat elemen” guma sang tabib yang menaiki kuda di ikuti Poppy tidak kalah hebat melaju kuda sangat kencang.


......................


Sosok jelmaan jin berwujud ular di tugaskan menjaga di salah satu pohon dekat ruangan kebesaran sang ratu. Peri-peri kecil yang beterbangan di atas kolam bunga lotus menghindar pergi ketika melihat penampaklan ular yang besar.


Ratu membuka pintu kaca raksasa. Dia mencium aroma amis, sosok lain yang mendesis dia abaikan. Berpura-pura tidak melihat keberadaan jin terebut. Di bawah rembulan, sang ratu menyaksikan keindahan di bawah sinar rembulan.


Melihat gelagat sang raja gurun yang tidak mata keranjang. Perlakukan di balik kerlingan mata datar tanpa menoleh sedikit pun. Ratu Gurun akan menjadi saingan beratnya.


......................

__ADS_1


Di dalam gua raksasa Langit kesakitan menahan api biru yang di hunus oleh raja penguasa api bersama para sekutunya. Hewan berkaki empat mengeluarkan cahaya merah yang keluar dari matanya. Dia merantai langit dengan mantra sihir yang menampakkan sisik-sisik emas. Semakin Langit berusaha melepaskan rantai yang mengingat tangannya maka semakin kuat pula rantai menjeratnya. Leher langit sudah merasa sangat tercekik. Nafasnya putus-putus. Namun, keanehan pun terjadi, iekat terlepas di lelehkan api yang keluar dari dalam tubuhnya. Api biru semakin menyala, langit mengerang kesakitan.


Ratu ular yang berasal dari gelangnya kepanasan walau dia berusaha keras menetralisir api keabadian itu. Sang hewan berkaki empat menyemburkan api, dia tidak sabar melahap tubuh anak kecil itu. Kumparan bulatan cahaya dari balik dinidng bebatuan. Terialan seorang anak kecil yang masuk ke dalam lorong sebagai penyusup.


Dia di beri tugas membunuh langi. Gambaran anak kecil yang kini berdiri di hadapannya dengan tubuh gosong oenuh luka-luka. Tapi ketika melikat kewan verkaki empat yang menyeramkan menyerang mereka berdua, sosok anak kecil perempuan itu berdiri membelakangi menyemburkan api mengusir makhluk tersebut.


Langit memperjuangakan dirinya agar bisa menstabilkan api abadi yang membakar dirinya. Sang anak perempuan menyemburkan api merah melihat anak kecil laki-laki di depannya mengeluarkan api yang membara. Dia merasa sedang terancam, pertarungan saling melempar bola api sampai masing-masing kekuatan kembali ke diri mereka. Hal yang paling mengancam jiwanya adalah seolah si anak permpuan kecil terlihat bekerja sama dengan hewan berkaki empat menyerang.


Gelang langit berubah wujud menjadi ular raksasa. Dia membawa langit keluar dari dalam gua. Tuba-tiba gua raksasa berubah menjadi bilik jalan yang tidak beraturan. Sang hewan berkaki empat menerangkan tidak ada satu makhluk pun yang bisa keluar dari gua raksasa dengan dua kemungkinan.


Pertama berhasil mengendalikan ilmu yang di miliki atau kedua menjadi pengikut setianya. Lalu bagaimana jika langit sudah berhasil mengendalikan api abadi did alam tubuhnya? Dia masih saja di incar si makhluk berkaki empat.


Seorang pendekat mempercayai dan memegang janji yang dia ucapkan. Namun istilah itu bukan hanya untuk peran pendukung saja. Makhluk yang beradab atau memiliki harga diri pasti tidak mengingkari janjinya. Ratu ular mustika hijau menembus kekuatannya. Langit di bawa ke luar gua, mereka menatap langit kosong tanpa bintang.


“Bertahan lah putra mahkota, aku akan membantu mu keluar dari tempat ini” ucap ratu ular hijau.


Di depan sana Langit melihat pedang milik ayahnya. Sebuah pedang yang tertancap di sebuah batu besar. Teriakan, panggilan api iblis. Hewan berkaki empat menghalangi Langit mendekati pedang yang dia tau dapat membunuhnya.


Langit menggunakan kekuatan yang berhasil dia stabilkan. Hitungan beberapa detik, dia berhasil menarik pedang di bantu Sadewa datang membawa angin yang sangat kencang. Senjata itu di angkat ke atas langit. Petir menyambar, angin yang menumbangkan pepohonan, Langit melompat mengelak serang api mengembalikan pada yang membuatnya.

__ADS_1


__ADS_2