Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 8


__ADS_3

Menguasai empat elemen tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tubuh yang kuat saja tidak cukup untuk menaklukkan titik-titik penguasa penyeimbang bumi. Di dalam gua, Sadewa di tempah sedemikian bantingan Sahwana melatihnya. Di bawah air terjun, Sadewa duduk bertapa menyilangkan kaki dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.


Tubuh di hujani derasnya air tidur tidak menyurutkan semangatnya tetap bertapa. Memusatkan pikiran agar mendapatkan elemen air. Berjam-jam di dalam air, sekujur tubuhnya menggigil. Pertahannya runtuh, Sadewa terjatuh terbawa arus air yang sangat deras. Sahwana terjun ke dalam air mengangkatnya ke permukaan. Dia menekan titik tumpu menetralkan aliran darah.


Bakaran api di dalam gua menghangatkan tubuh. Sadewa di beri minum ramuan penguat otot dan pelancar aliran darah. Rasa anyir di teguk, dia beranjak melanjutkan pertapaannya.


“Terimakasih banyak paman.”


“Pusatkan pikiran mu dan jangan goyah!”


......................


Mayat Bona di campakkan di dekat kaki pangeran Gani. Wajahnya yang angkuh berpura-pura tidak bersalah melirik tajam Adipati Yetno. Sambungan rencana licik Gani memainkan peran sandiwara kerusuhan yang dia ciptakan sendiri di wilayah bentengnya.


“Lapor pangeran, penyusup ini kami temukan di dekat pintu masuk gerbang istana”


“Kurang ajar!”


Tangan Gani di tahan pangeran Wicak, Hal itu menunjukkan bahwa dia mengira itu adalah penyusup sungguhan. Wicak ingin dia sendiri yang menghakiminya. Akan tetapi di dalam benak Adipati Yetno, dia mencurigai Gani andil di dalam semua masalah ini.


“Cepat kau mengaku saja siapa yang mengirim mu? jangan sampai majikan mu enak-enakan ongkang kaki, nyawa mu di ujung tanduk!” ucap pangeran Wicak.


“Siapa yang mengirim mu!” tambahnya sambil mendorong tubuhnya.


Prajurit itu memasang wajah ketakutan. Jari telunjuk gemetaran menunjuk ke Adipati Yetno. Dia mengakui sang Adipati yang menyusun rencana kotor. Amarah Adipati merasa dirinya di fitnah sehingga menarik pedangnya berniat akan membunuh prajurit itu. Namun saat dia mengangkat pedang, sang Adipati tidak tega membunuh prajurit yang tampak sangat ketakutan hingga berlutut di depannya.


“Aku tidak mengira kakang ternyata dalang dari semua kerusakan di Kartanegara. Selama ini kakang yang menuduhku yang bukan-bukan, memata-matai ku di depan punggawa istana dan sekarang menggunakan rencana licik mengatasnamakan penyusup!” ucap pangeran Gani.

__ADS_1


“Kau manusia berhati iblis. Mulut mu penuh dengan bisa ular! Untuk apa aku melakukan semua itu?”


“Untuk segera mendapatkan tahta raja Kartanegara dan mencari perhatian seutuhnya dari raja”


“Kau menjebak dan memfitnah ku. Aku akan membunuh mu!”


Adipati mengeluarkan pedang mengeluarkan jurusnya. Pangeran Wicak dan pangeran Angka melerai keduanya. Walaupun mereka tidak tau siapa sebenarnya yang salah di dalam masalah ini. Pangeran Wicak meminta Adipati Yetno menarik pedangnya kembali.


“Saya mohon Adipati tenang, saya yakin pasti ada yang sengaja mengadu domba kita sehingga timbul rasa saling mencurigai satu sama lain”


Perkumpulan di panglang alun-alun bambu hijau membicarakan rapat mengenai kekacauan Kartanegara. Banyaknya mata-mata berkedok pakaian prajurit, taktik perang yang terbongkar sampai permainan licik para musuh.


“Orang-orang dari luar atau musuh tidak akan bisa masuk jika sang pemilik rumah tidak membukakan pintu. Mohon Adipati memberi saya ijin mencari tahu seluk beluk duduk perkara ini, saya mencurigai ada yang berkhianat” ucap panglima perang.


“Tidak mungkin diantara kita ada yang berani berkhianat pada raja, pasukan kita bertugas di setiap titik rawan. Diantara kita juga tidak pernah ada perselisihan. Aku yakin sekali pasti ini datangnya dari musuh luar” pangeran Wicak menyelanya.


“Sejujurnya aku mencurigai pangeran Gani, mata-mata yang sudah mengirim bius sihir hitam pada para prajurit ku tepat melarikan diri di benteng bagian Tenggara” kata pangeran Angka.


Penyerbuan secara mendadak di wilayah jajahan, para penjaga Kartanegara yang tidak mengira kedatangan musuh secara besar-besaran membunuh setengah pasukan. Kabar penyerangan sarang laba membuat kekhawatiran sang Adipati.


“Pasti akan ada peperangan besar” gumamnya.


Setelah mendapat kabar Pancer di porak poranda kan musuh, panglima perang melaju kencang kudanya memberantas prajurit Sarang laba menggunakan tombaknya yang tajam. Berhasil membunuh panglima manusia serigala, sisa prajurit mundur di pimpin si manusia tengkorak.


“Tunggu pembalasan ku!”


Laporan kedua kalinya di depan singgahsana, sang raja berdiri sambil bertolak pinggang. Dia tidak menyangka masalah yang di anggapnya sepele dan kecil itu tidak bisa di atasi oleh sang Adipati. Sorot mata melengos, rasa kepercayaannya berkurang karena selalu mendengar kata pemberontak, penyusup dan penyerbuan.

__ADS_1


“Aku sudah bosan mendengar kata yang sama dari mulut mu! seolah itu adalah bukti di masa yang akan datang kau rapuh memimpin sebuah negeri!” bentak sang raja.


“Maafkan hamba Yang Mulia, tapi memang itu kenyataannya. Orang-orang kepercayaan hamba pasukan singa merah melihat dengan mata kepala mereka sendiri, pasukan Sarang laba memasuki Kartanegara”


“Kirim seribu pasukan! Habisi mereka semua!”


Strategi perang di susun musuh , rencana awal mereka tidak goyah merampas Kartanegara. Meskipun kekuatan sihir mereka tidak sekuat Kartanegara, ilmu bela diri para abdi dalem cukup tinggi terutama si manusia tengkorak dan nyi merah.


“Penyerangan kita berfokus pada titik awal wilayah jajahan, perbatasan istana bagian Tenggara, Barat dan titik utama di hari penyerbuan besar-besaran di Utara” ucap Raja Diraga.


Seorang prajurit berlari memberikan laporan. Mereka melihat pasukan Kartanegara di bawah pimpinan Adipati Yetno menuju perkemahan pasukan Sarang laba.


“Berapa pasukan yang mereka bawa?”


“Sekitar seribu pasukan yang mulia_”


“Manusia tengkorak, apakah kita perlu menambah lebih banyak pasukan lagi?”


“Tidak perlu yang mulia, para prajurit kita sudah terbagi-bagi untuk setiap wilayah perbatasan. Kita tidak bisa memberatkan sebelah, Walau bagaimana pun kita harus menghadapinya”


“Taktik kita tidak berubah, cepat jalan kan sesuai rencana!”


“Baik Yang Mulia”


Di tengah terik siang bolong sengatan matahari, tabu gendang sinyal peperangan menggema. Jiwa-jiwa yang melayang, ringisan kesakitan, kumparan sihir di dalam senjata-senjata para penjaga Kartanegara. Tanah itu Berjaya tanpa terkalahkan, manusia tengkorak meratakan setengah pasukan menggunakan kekuatan bola api. Tenaganya luar biasa, sang panglima perang membalas serangannya di kepung nyi merah dan para senopati sarang laba lainnya yang tidak kalah hebat mengeluarkan jurus andalan.


“Serbu!” komando Adipati Yetno di balik sisi perbukitan.

__ADS_1


Pasukan rahasia yang bersembunyi itu di persiapkan agar mengantisipasi kekalahan serta strategi perang yang di ketahui lawan. Dia sudah mempunyai firasat, raja yang memerintahkan membawa seribu pasukan telah di baca musuh saat itu juga. Peperangan berlangsung hingga petang, kemenangan di tangan Kartanegara. Mendengar dari para abdi dalem bahwa Kartanegara berhasil mengusir hingga meratakan pasukan sarang laba maka raja Namrut bergelak tawa di atas singgasananya.


“Sudah aku katakan, negara miskin sarang laba tidak mungkin bisa menandingi kehebatan dari kekuatan Kartanegara yang bisa mengalahkan musuh sekalipun di lautan api!”


__ADS_2