Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab79


__ADS_3

Sihir-sihir hitam yang mulai menelusup di tangkis oleh penjaga Nagin yang melingkarkan ekornya mengelilingi kerajaan gurun pasir. Sanca hijau itu bisa di tundukkan ketika Winan mengusap mahkotanya. Semasa krisis pada diri ratu gurun, sosok penjaga ilmu terkuatnya yang melindungi negeri. Di dalam sarang penyihir hitam, mereka membalikkan semua serangan bisa ular beracun nagin.


Hujan semburan racun mematikan di bersihkan tangkla air agar tidak terkena penghuni jin negeri gurun. Sang ratu Winan memberi segel para pengikutnya agar saling mengenal satu sama lain. Bisa jadi dia menjadi santapan ular berusia ribuan tahun lamanya jika Winan membiarkan tanpa meletakkan kekuatan yang sama.


Menyadari bayinya di incar para ilmu kegelapan. Sadewa memasukkan ilmu yang dia miliki ke dalam tubuh Karalyn. Tapi semua ilmu itu kembali lagi ke dirinya. Winan mengangkat bayinya yang masih berada di dalam air penyucian. Pura cahaya pada hari mendapat tetesan darah dari ratu gurun yang menetes ke air penyucian. Memahami anaknya yang tidak seutuhnya dari bangsa jin, Winan takut terpisah di dua alam yang berbeda.


“Jadi ini lah cara ku agar Kara bisa hidup abadi di negeri gurun. Aku memindahkan kekuatan kebadaian ku ke anak ku. Sang pewaris negeri Gurun pasir” gumamnya menekan pergelangan tangan.


Sadewa di halangi sihir hitam Winan, beberapa detik berlalu Winan jatuh pingsan. Mahkotanya terlepas dari kepalanya, Sadewa membawanya keluar dari pintu penembus dimensi ghaib. Melihat Winan telah menyerahkan kekuatan tumpu pasak negeri, Sadewa memutuskan tidak lagi berkelana masuk ke alam-alam lain mencari Langit maupun sukma alas pati. Dia telah mengikhlaskan istri pertamanya agar beristirahat dengan tenang. Seperti pesan Alas pati terakhir kali.


Tidak bisa di pungkiri, kisah perjalanan cinta sang raja yang tampak selalu mematahkan hatinya. Cinta pertamanya kepada Dewi Bahati yang di rampas kakak angkatnya Adika. Berlanjut pada Alas pati yang pergi meninggalkannya setelah melahirkan langit. Kini Sadewa harus bersiap jika sewaktu-waktu Winan ikut pergi selamanya.


Baik di alam manusia maupun alam jin. Dia seolah akan menghadapi takdir kesendirian. Di dalam ruangan permadani, raja mentransfer energi tenaga dalam ke tubuh Winan. Sang ratu gurun membuka mata menghentikan tangannya yang membuka lebar cakra empat elemen.


“Hentikan raja, engkau bisa berubah lagi ke wujud asal menjadi manusia seutuhnya. Apakah engkau mau pergi dari ku dan Kara?”


“Ratu, untuk apa hidup kekal sebagai jin jika setiap hari menunggu waktu mu yang akan habis?”


“Ini sudah menjadi garis hidup ku. Aku mendapat garis hidup kekal dari Firaun. Usia ku sudah berabad lamanya, demi menyelamatkan Kara. Biarlah aku menjalani takdir ini. Tanah yang engkau tapak sama hal nya mengingat, menjaga tempat peristirahatan ku dari para iblis bermata satu”

__ADS_1


“Ya baiklah. Aku akan menuruti permintaan mu. Tapi, kalau aku benar-benar tidak sanggup kehilangan mu. Ijinkan aku menyusul mu, menyatukan jasad di peristirahatan yang sama.”


Mendengar hal itu, Winan tersenyum lega. Cintanya selama ini telah terbalas dan penantian ribuan purnama. Dia telah mendapatkan hati sosok pendekar yang mencuri hatinya. Ratu yang paling tercantik sejagat raja di jaga ketat kekuatan sihir hitam firaun memilih menunggu sang raja Gurun Sadewa di kehidupan yang lebih abadi.


Semakin panjang umurnya, semakin banyak dia memahami arti kehidupan. Harta, tahta, kejayaan semua kan sirna. Bisa jadi karena di telan masa, di rampas musuh juga kehidupan setiap hari tidak tenang di rasakan. Winan hanya menginginkan kedamaian bersama lelaki yang dia cintai. Meski harus melepaskan semua kekuatan, kecantikan atau apapun yang mengangkat kedudukannya.


“Aku akan menunggu mu raja ku. Kita akan bersama di keabadian kekal tanpa ada pengganggu. Aku akan menjemput mu jika masanya tiba” ucap sang ratu sebelum dirinya berubah menjadi wanita tua.


Kulit-kulitnya mengelupas, tubuhnya mengerut, wajahnya berubah keriput dan sangat dua. Dia tidak mau bercermin. Melihat jari-jemari tangannya semakin menua, dia menangis takut sang raja berpaling darinya. Berpikir setelah mengandung adalah awal kebahagiaan untuknya dan sadewa ternyata tidak. Dia menyadari terlalu ambisi di dalam keserakahan keinginannya.


“Mohon maaf yang mulia. Ratu tidak memperbolehkan siapapun masuk ke dalam kamarnya” ucap Ruti menghalangi.


“Ratu di dalam ruangan kebesaran sedangkan tuan putri di jaga oleh para dayang inti.”


Raja mendobrak pintu, dia melihat Winan berlari menghindarinya. Bersembunyi di salah satu tirai hitam yang membentang. Sadewa memeluk tubuh Winan yang kurus kering. Mahkota ular tidak lagi bisa di pakai di kepalanya. Winan mendorong Sadewa tapi pelukannya semakin erat.


“Ada apa ratu ku? Apakah engkau sudah tidak mencintai ku lagi?”


“Pergi lah raja, aku ini hanya wanita tua jompo yang ujur. Jangan habiskan waktu mu untuk hal yang tidak berguna.”

__ADS_1


“Apa maksud mu Adinda ku? Sungguh aku akan merubah diri ku lebih tua sekarang juga agar engkau tidak merasa aku abaikan.”


“Anak kita baru lahir, aku tidak bisa menjadi ibu susu untuknya. Bagaimana dia hidup sebatang kara tanpa salah satu dari kita? Aku sudah mengorbankan diri ku demi buah hati kita, sang pewaris gurun yang paling kita sayangi.”


“Wahai ratu ku bagaimana bisa aku hidup tanpa mu..”


Raja menangkan hati sang ratu seharian penuh di dalam ruangan kebesaran. Dia menggendong Kara yang tidur terlelap. Bayi yang penurut memahami keadaan ibunya. Dia tidak rewel, hanya sesekali menggeliat di gendongan.


Tubuh sang ratu yang gemetaran tidak bisa mengangkat bayinya. Dia mengamati wajahnya yang mirip dengan Sadewa. Tersenyum, jarinya mengusap pelan rambut lurus sepertinya. Kebahagiaan sang ratu berkumpul bersama keluarga kecilnya di sela nafasnya yang mulai tersengal-sengal.


“Ratu! Ku mohon jangan tinggalkan aku!”


Sadewa tidak bisa berbuat apapun. Para tangkla yang berdatangan menyalurkan kekuatan, sihir yang mereka punya. Tabib Sicin memberikan obat yang dia racik dari hasil pertapaannya. Raja Batara yang merubah diri menjadi raksasa menelan cahaya matahari untuk mendapatkan obat sang ratu.


Semua jin yang mengharapkan kesembuhannya tidak henti berdatangan memasukkan kekuatan di dalam cakra jantung sang ratu untuk di salurkan ke sekujur tubuh.


Dia terlalu lemah berbicara. Mimik wajah menunjukkan kebahagiaan tersenyum melihat jin-jin yang mendukungnya. “Ratu tolong bertahan sedikit lagi, aku akan ke negeri api untuk mengambil kekuatan inti kerak bumi. Luka mu akan sembuh, percayalah” ucap Banyuwangi.


“Tidak usah ratu air, tugas yang engkau emban sebagai salah satu tangkla gurun sekaligus panglima perang ketiga di Kartanegara sudah terlalu berat. Cepat atau lambat, aku pasti akan pergi dari negeri jin. Tolong jaga Kara dan negeri Gurun pasir. Apakah engkau bersedia menggantikan posisi ku sebagai ratu gurun?”

__ADS_1


“Tidak yang mulia, untuk keinginan mu yang terakhir. Aku menentang mematuhinya. Selamanya engkau adalah ratu sang raja gurun” jawab Banyuwangi di tengah air matanya yang menetes.


__ADS_2