Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 64


__ADS_3

Karena sang putri tidak mau meminta maaf, maka sang raja berbesar hati memohon ampunan pada sang Raja. Dia menarik tangan anaknya, walau sang putri memberontak tetap saja dia bersikeras agar meninggalkan istana itu.


Raja memerintahkan pada para prajurit agar mengangkat sang putri masuk ke kereta kuda. Sebelum pergi, dia bertekad akan kembali membalaskan dendam. Semua mata tertuju melihat kekacauan yang terjadi. Meskipun begitu, upacara pernikahan kembali berlangsung.


Salah satu sesepuh yang terhipnotis perkataan sang putri meminta ijin pada sang raja supaya melihat kebenarannya. Mendengar ucapan salah satu sesepuh itu, para tamu undangan ikut bertanya tidak sabar jawaban atas tuduhan itu.


"Mohon maaf yang mulia. Benar atau tidak, yang mulia harus memperlihatkan kenyataannya. Kami tidak mau ratu di sebut-sebut bekas dayang atau jin peri seperti yang di katakan sang putri"


"Dengarlah wahai rakyatku begitu pun semua pembesar yang hadir. Bagaimana pun masa lalu ratu ku. Tidak ada diantara kalian yang berhak mendikte ataupun mengatakan hal yang menurunkan martabat ku. Siapapun yang menentang termasuk musuh bagi ku"


Pada dasarnya pernikahan raja di tentang oleh sang bu suri sampai dia tidak mau menginjakkan kaki di Kartanegara. Baseka sang adik mendengar sosok asli di balik pertapaan panjang. Dia tidak menyetujui keputusan sang kakak namun bukan berarti membenarkannya. Jika itu pilihan sang raja maka Baseka hanya bisa berharap yang terbaik. Prameswangi mengutus dayang pendamping untuk menunjukkan bekas punggungnya terdapat patahan sayap peri.


Tangannya bergetar menarik baju bagian belakang. Sang dayang mendorong sang ratu tepat di tengah mimbar. Seza sidak mengira sosok dayang pendampingnya di ganti sosok lain yang memakai penutup wajah. Semua jin, tamu yang hadir terkejut melihat bekas luka yang masih memerah di punggungnya. Sayap yang di kebumikan itu di bawa beberapa jin utusan sang ibu suri.


Sebuah kotak besar terbuat dari kaca, beberapa jin kebesaran yang memakai simbol tanda kebesaran sang ratu membungkuk di depan sang raja.


“Maafkan kami yang mulia, kami hanyalah utusan ibu suri” ucap mereka tanpa berani menatapnya.


Seza menangis, dia menutupi tubuhnya dengan sisi kain yang menyeret lantai. Pada hari itu dia merasakan rasa malu seperti bongkahan kotoran melemparinya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar, cahaya hijau berbentuk sayap keluar dari punggungnya. Sayap yang terkunci di dalam peti keluar menyatu dengan sayapnya yang baru.

__ADS_1


Prang__


Pecahan kaca mengenai beberapa jin yang berada di dekatnya. Seza berubah menjadi sosok ratu peri yang bersayap sangat indah. Serbuk cahaya terbawa angin menyilaukan mata.


“Pengawal! Tangkap utusan ibu suri dan masukkan ke dalam penjara!” perintah sang raja.


Tidak ada yang berani menjalankan perintahnya. Sosok ibu suri hadir di depan pintu, dia membawa pedang milik raja terdahulu. Raja Namrut sebelum penyerangan Kartanegara kedua kalinya. Sepasang mata merah menyala di tengah mimbar dia meletakkan pedang tajam itu di leher Seza.


“Kau iblis licik menggoda anak ku! Cepat tinggalkan istana ini atau aku akan membunuh mu!” bisik sang ibu suri.


“Ibunda ku mohon jangan sakiti ratu ku!” ucap Batara.


Dari kejauhan suara teriakan kesakitan, bakaran asap hitam mengepul di udara mengalihkan pandangan. Keduanya kembali ke kerajaan, rakyat yang mati mengenaskan, para prajurit dan panglima yang masih berjuang melawan ular raksasa di halaman utama istana. Batara melihat ibunya sekarat, nyawanya hampir terputus. Ada pedang milik raja Namrut tertancap di perutnya.


“Ibu bertahan lah! Aku akan segera kembali membawa tabib Sicin.”


“Anak ku, kenapa engkau mempercayai wanita jin itu?”


“Ibu, maafkan aku selama ini tidak cerita dengan mu. Setengah tubuh ku berasal dari jin. Aku pernah mengalami kematian, ratu jin gurun menyelamatkan ku sehingga aku berubah menjadi jin. Mengapa engkau melupakannya bu? Lihatlah tanduk ku ini."

__ADS_1


“Raja, aku tidak menyangka engkau kini bagian dari bangsa jin. Berbahagialah dengan wanita pilihan mu. Semoga dia menjadi peran ratu yang bisa mendampingi mu memimpin negeri.”


“Tidak, ibu! Hiks”


Ekor ular raksasa membanting pilar-pilar, meruntuhkan istana. Sang raja mengangkat jasad Prameswangi ke atas perbukitan. Dia memerintahkan Dom menjaga sampai peperangan selesai. Di sisi lain bagian perut bumi, Winan merasakan kekacauan di negeri manusia. Gumpalan awan hitam yang di terbangkan di atas langit jin membuka jalan menuju alam manusia.


“Ayah! Ibu! Asap hitam itu menyerap semua makhluk yang ada di perut bumi!” teriak langit di angkasa.


Sadewa menggunakan ilmu lenggo geni mengarahkan kekuatan ke lubang hitam. Semakin dia mengeluarkan kekuatannya, kekuatannya terserap ke dalam lubang begitu juga tubuhnya mulai terangkat ke atas. Winan melihat sang raja masuk ke dalam pusara hitam. Kekuatannya tidak cukup kuat menariknya kembali. Dia memerintahkan para tangla menjauh dari pusara lubang hitam itu dan menahan langit agar tidak ikut masuk. Sang ratu mengikuti arah jalan yang membawa raja pergi.


Tepat di atas permukaan bumi berbagai macam hewan dan jin memenuhi menimbulkan kekacauan. Salah satu kekuatan terbesar pada makhluk mitologi raksasa yang menyerang kerajaan Kartanegara. Amarah sang ratu gurun tidak terkendali melihat tubuh sang raja di telan ular raksasa. Winan mengangkat mahkotanya, dia memerintahkan seluruh para ular dari jaman Fir’aun bangkit menyerang ular mitologi tersebut. Dia juga memanggil ular peliharaannya, ular raksasa hijau yang kekuatannya dua kali lipat yang hidup dari jaman ribuan tahun sebelum masehi.


Ular raksasa mitologi memuntahkan Sadewa.


Winan menangkap tubuhnya yang penuh dengan lendir. Winan menyalakan sihir memerintahkan para pengikut jin firaun menyerbu seluruh bangsa jin yang tersedot lubang hitam kembali ke asalnya. Dia mentransfer kekuatan ke tubuh sang raja, Sadewa perlahan membuka mata sedangkan sang ratu terkulai lemas. Detak jantungnya hampir berhenti, Seza menggunakan serbuk peri menuangkan seluruh kantung serbuk sari pemberian Midori ke tubuhnya.


Semua jin kembali ke asalnya. Ular mitologi di lahap ular peliharaan sang ratu. Perlu waktu yang sangat lama untuk meleburkan ular itu sehingga dia meminta ijin pada sang ratu pergi melakukan pertapaan. Setelah semuanya aman, Batara mengucapkan ribuan terimakasih pada kedua pembesar karena untuk yang kesekian kalinya menyelamatkannya.


“Sekali lagi kami ucapkan terimakasih wahai yang mulia raja dan ratu” Batara dan Seza membungkuk begitu juga para pengikutnya.

__ADS_1


Peran utama yang paing mendukung penutupan lubang raksasa hitam itu adalah sosok Banyuwangi menggunakan kekuatan hitamnya. Lantas, siapa dalang pembuat semua keonaran ini?


__ADS_2