
Albet terus menerus mencari cara menguasai tanah Kartanegara. Kali ini dia memerintahkan sekte hitam untuk memanggil para lelembut kembali mengganggu ketentraman tanah Kartanegara.
Di malam hari yang larut beberapa bangsa jin merah mengerang. Suara menggema menandakan kedatangannya. Gusti Bona penjaga wilayah Tenggara melawan para makhluk bertaring itu. Senjata hancur bagai di tiup lilin. Gerakan makhluk itu sangat cepat, mereka melahap darah daging manusia.
Mengalahkan Boba, meluluh lantakkan wilayah Tenggara. Rakyat menderita dan ketakutan. Laporan dari penjaga istana membuat raja Batara langsung terbang menghajar makhluk-makhluk itu. Namun sang raja tidak menyangka makhluk-makhluk itu dapat menghilang. Gerakan mereka sulit terbaca,sang raja terkena pukulan api.
Dom hadir menarik anak panah melukai salah satu makhluk tersebut. Suara kesakitan, mereka meninggalkan pesan akan kembali mengganggu ketentraman negaranya.
Di ruangan pertemuan
Para penjaga arah mata angin setiap perbatasan kebingungan memecahkan masalah itu. Gusti Jaka masih menjalani pengobatan begitu pula gusti Bona. Para penjaga perbatasan lain bersiap menunggu perintah dari sang raja.
“Musuh yang kita hadapi kali ini bukan lah dari bangsa manusia. Para senopati habis terkena pukulannya. Perlu kalian ketahui agar menghindari cakaran kuku mereka jangan sampai merobek kulit. Karena itu bisa mengakibatkan perubahan pada tubuh kalian.”
“Mohon maaf yang mulia, makhluk apakah yang kita hadapi ini? apakah makhluk yang sama?” tanya penjaga pendamping raja.
“Ya sekarang yang perlu kita ketahui apakah tujuan mereka mengganggu Kartanegara. Kerajaan kita sama sekali tidak pernah bermasalah dengan bangsa lelembut.”
“Hormat hamba yang mulia, jika saya tidak keliru. Kelihatannya ini ada kaitannya dengan sekte hitam. Salah satu prajurit menangkap bayangan jubah hitam yang menerbangkan sihir di udara.”
“Pendapat mu ada benarnya, namun kita tidak bisa menduga atau menuduh sebelum ada bukti yang jelas. Kita harus tetap siap siaga jika mereka muncul lagi.”
......................
__ADS_1
Di dalam ruangan kebesarannya sang raja melakukan meditasi. Dia melepaskan mahkotanya, tanduk di atas kepalanya Seluruh penjaga di larang mendekat atau berjaga di depan ruangannya. Tubuhnya yang setengah manusia dan setengah jin mulai melepaskan diri menembus alam lain. Dia tidak melalang buana tidak bisa menemukan jejak keberadaan makhluk itu.
Karena sang raja bukan lah dari bangsa jin asli, dia tidak bisa leluasa menembus beberapa lapisan alam jin lain untuk mencari bekas jejak makhluk yang datang kea lam manusia. Dia masuk kembali ke dalam tubuh aslinya.
Di dalam tempat berkumpulnya sekte hitam memanggil makhluk halus agar melakukan penyerangan besar-besaran. Kali ini mereka juga melibatkan iblis tentara sekutu. Salah satu jin yang memimpin mulai berpikir akan manfaat apa yang di dapat kalau menyerang raja itu.
“Dari jaman nenek moyang, bangsa jin merah tidak pernah bertikai dengan Kartanegara. Kalian membuka penutup lubang tempat sarang jin merah. Memanggil kami dengan paksa. Sebenarnya apa keuntungan yang kami dapat jika menuruti perintah mu? kau hanya manusia biasa!” ucap jin merah mengerang.
“Banyak yang kalian dapat, apakah kalian tidak menginginkan tanah kekuasaan dan mendapatkan tegukan darah segar? Aku memang manusia biasa, tapi ketua sekte hitam banyak meletakkan harapan yang sangat besar kepada ku” ucap Albet angkuh menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Bara merasakan kekacauan di negeri Kartanegara. Dia merubah diri menjadi api menemui sang raja yang masih melakukan meditasi.
“Raja, hamba adalah tangkla negeri jin. Hamba ingin menyampaikan pusara pembuka pintu gerbang jin yang hanya bisa tertutup kembali oleh yang mulia. Pewaris Kartanegara.”
“Bagaimana bisa saya menutup pintu itu? saya tidak tau dimana pintu itu berada, sebagai pusara para jin sembarangan keluara masuk mengganggu manusia.”
“Terimakasih banyak tangkla api, saya sangat hafal bulan darah membuat para bangsa lelembut memulihkan kekuatan dan menguatkan kekuatan mereka.”
Di dalam perkumpulan melakukan rencana titik penyerangan. Bangsa jin masih sibuk membantu salah satu jin yang terluka akibat panah sihir yang mengenainya. Sosok jin itu kesakitan walaupun anak panah sudah di cabut dari kakinya.
“Aku tau dewa penjaga tanah itu sedang marah pada kita. Bukan kah nenek moyang bangsa jin merah sudah melakukan kesepatakan untuk tidak mengganggu cucu buyut Kartanegara.”
“Hei, apa kata mu pemimpin bodoh! Kalian lebih menghamba dan percaya pada patung itu? patung yang tidak bisa bergerak, yang tidak memiliki emosi atau jiwa pemberontak menuntuk haknya? Kekuatan ku memang tidak bisa menandingi kalian. Aku bisa mati namun kalian sekalipun terbunuh bisa berpindah ke tubuh lain atau moksa menjadi hewan.”
__ADS_1
“Hiya! Syat!” ketua jin merah menyerang Albet di tangkis oleh pemimpin sekte hitam.
“Sekali lagi kau menghina leluhur kami. Maka aku akan mengambil jantung mu lalu aku telan!” ucap ketua jin merah.
Misi rencana mereka tetap berlangsung, tanda-tanda kedatangan mereka sudah di hafal para penduduk memperbincangkan dari mulut ke mulut. Setelah matahari terbanam tidak ada satu pun rakyat yang berani keluar. Raja Batara menghembuskan mantra sihir mengelilingi seluruh wilayah Kartanegara, semua itu di percpat atas bantuan para tangkla yang di utus raja Sadewa. Bantuan dari negeri gurun satu persatu berlanjut menyambung membentuk benteng pertahanan.
Bara menjelma menjadi sosok jin merah, dia mengeluarkan kekuatan membentuk api biru menggetarkan kaki bangsa jin merah. Kedatangannya api yang membara, para jin bertekuk lutut bersujud.
“Kalian tidak menuruti perintah ku. Aku pernah mengingatkan para leluhur jin merah agar tidak mengganggu cucu buyut Kartenagara. Tapi kenapa kalian menumoahkan darah sehingga salah satu dari kalian terluka?” suara menyerupai leluhur jin merah mempercayai para jin ketakutan melihatnya.
“Maafkan kami tuan, maafkan kami dewa” serentak para jin membenturkan dahi.
“Cepat kalian kembali ke dunia kalian. Pusara pintu ghaib raksasa terlihat tepat di bawah sinar bulan purnama merah.”
“Kami akan kesana tuan, semoga dewa membantu mengiringi kepulangan kami.”
“Ya, aku sendiri yang akan mengomando kalian.”
Batara melihat para jin berdiri tepat di depan gerbang ghaib raksasa. Di depan barisan ada sosok Bara menjelma menjadi sebangsa jin merah terdahulu. Di bawah sinar bulan berdarah itu seluruh bangsa jin merah menunggu aba-aba darinya.
“Cepat masuk lah kalian ke dalam alam kalian yang sesungguhnya!”
“Ya kami akan mematuhi mu dewa.”
__ADS_1
Setelah semua jin merah masuk ke dalam gerbang raksasa itu, Batara menggunakan kekuatannya menutup kembali gerbang raksasa. Sosok Bara kembali ke wujud semula. Dia meminta ijin agar kembali ke perut bumi beserta para tangkla lainnya.
“Terimakasih tangkla penjaga negeri gurun” kata Batara sambil menyatukan kedua tangan