Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 48


__ADS_3

Butiran yang menetes dari pelupuk mata menjadi tanda tanya besar apa yang tersirat di dalamnya. Engkau boleh mengatakan itu sebuah tangisan. Tapi, tanda air mata apa? Hanya ada dua kemungkinan yang tidak bisa ingkar dan berdalih. Pertama air mata yang mengalir tulus keluar dari putri duyung yang berasal dari lautan asin. Atau yang kedua berasal dari buaya daratan yang rasanya tawar hanya di keluarkan begitu saja tanpa rasa.


...🔥🔥🔥...


Pada Era Peradaban dua negeri


Badan dan kepala membeku, di atas meja peradilan. Winan merantai retakan es membeku. Di dalam ruangan dia melihat sosok Albet melotot. Dengusan, suara kebencian, sang ratu tidak bisa membendung lagi amarahnya lalu mengeluarkan cemeti cambukan raksasa. Sasaran pertama pada sosok manusia yang sudah gemetar melihatnya. senjata kematian, sekali pukulan saja pria itu sekrat kesakitan. Dia memohon ampun, kaki tidak bisa lagi tegak berdiri. Mencambuk berulang-ulang sampai Albet jatuh pingsan. Nyawanya sudah di ujung tanduk tidak menyurutkan amarah sosok jin itu. pukulan selanjutnya ke pemimpin sekte yang terlihat pasrah menghadapi hari akhirnya.


Sadewa melihat amarah sang ratu gurun. Di detik terakhir nyawa kedua pengkhianat, dia mengambil pedang para pengawal. Tusukan ke keduanya terdengar keras, darah musuh yang di tebus kepergian selamanya tidak cukup meredam pertikaian.


Dekrit raja Gurun


Penyampaian pada hari ini, kematian musuh merupakan hukuman yang setimpal atas tindakan kejahatannya. Dengan ini, raja gurun bertindak lebih keras memberikan sanksi bahkan pemenggalan kepala jika ada yang berani mengganggu Kartanegara.


Sang raja di anggap sadis dan kejam. Hakim Linjao berat duduk di kursi peradilan. Berdiri di balik kediaman memikirkan langkah selanjutnya. Pada pemikiran panjang dia memanggil menteri hakim kedua untuk berunding.


Zezao dan Linzao, kedua menteri yang menangani dua kerajaan masing bingung memikirkan jalan keluar.


“Sungguh, aku tidak ingin sang raja mendapat kecaman dari negeri lain.”


“Engkau bisa melihat sendiri Linjao, sang ratu lah yang membunuh tahanan itu” ucap Zezao mengusap janggutnya yang panjang.

__ADS_1


Sang raja tidak bisa menunggu lama, para pengawal terpaksa menarik paksa tanpa meminta persetujuan. Dalam rumus menteri yang lama pemutus sepihak tanpa melalui jalur kepemerintahan akan menjadi bumerang tuntunan pertikaian pihak musuh.


“Raja tetap lah penguasa. Aku tidak akan menjatuhkan harkat dan martabat negeri ini. Tindakan itu akan menjadi pertimbangan musuh lain agar tidak bernasib sama” gumam Linjao.


Di muka bumi


Kesaksian para pengawal yang baru berkunjung ke rumah sanak saudara terdekat memperbincangkan perubahan raja Kartanegara. Kejadian makhluk lelembut belum di hapus. Sebagian rakyat menggunakan ilmu penjagaan. Mantra yang di dapat dari dukun atau sejenisnya di percaya bisa menolak kedatangan makhluk itu sewaktu-waktu.


Salah satu dayang yang memergoki sang raja memiliki tanduk merah lancip menjulang di atas kepala. Di sebuah lubang kecil, dayang pendamping raja melakukan kesalahan besar membeberkan rahasia istana pada khalayak umum.


“Coba kau ingat-ingat lagi bentuk aslinya. Mungkin saja itu hiasan agar sang raja terlihat menyeramkan. Aku mendengar sendiri dari ibu angkat ku kalau raja Batara lahir pada peristiwa gerhana matahari. Tidak ada alasan lain, pangeran Baseka normal apa adanya”


Semua gerak-gerik para punggawa maupun perangkat istana di baca oleh utusan Dom. Mendengar laporan dari salah satu mata-mata, Dom menyeret dua rakyat dan dayang pendamping. Sang penjaga raja Batara yang di utus Sadewa itu berpikir sudah berapa orang telah mendengar isu yang dia beberkan.


“Apakah ini pekerjaan mu sebagai dayang kepercayaan raja? Seharusnya sekarang aku memotong lidah mu.”


“Ampun_ampunkan hamba tuan! Hiks”


Kedatangan Ruti menahan Dom melakukan tindakan selanjutnya. Dom melaporkan masalah yang terjadi di istana. Di hadapan memecahkan masalah sepele yang dampak besar, tanpa rasa ragu Ruti menusuk membakar mereka di dalam kobaran api yang menghanguskan tubuh menjadi debu. Suara jeritan terbenam di sapu hiruk pikuk ramai di siang hari.


Pesta rakyat yang akan di selenggarakan setiap pergantian tahun menarik pandangan dari berbagai negara yang hadir memeriahkannya. Kartanegara di kenal dengan budaya ciri khas budayanya yang kental dengan pakaian adat, seni musik, tari, lukisan, pertunjukan opera dan berbagai keunikan yang di tampilan di setiap daerah.

__ADS_1


Barang-barang dan makanan membuat para pengunjung tidak henti berdatangan bahkan betah berlama-lama disana. Kerajaan yang semakin maju dan Berjaya itu di sokong kuat dalam sistem kepemerintahan negeri gurun pasir. Pati kartanegara yang terkenal sebagai pendekar sakti mandraguna.


......................


Asap yang menyerupai cerobong, pantulan cahaya matahari yang membentuk warna-warni pelangi. Ratusan keranjang bunga segar dan kuda-kuda bercahaya yang membawa tandu di kawal para Algojo raksasa. Ratu Winan sangat mengenal mereka, dari kejauhan dia bersiap menghias diri menyambut kedatangan sang ratu peri. Serbuk bunga indah menyemai, ratu jin peri mekar membentangkan sayap indahnya. Winan mengira raja akan terpikat olehnya, tepat ketika dahulu Fir’aun hampir berpindah hati menggeser kedudukan sang ratu.


“Selamat datang di negeri Kartanegara. Ada keperluan genting apa hingga ratu yang agung menyempatkan diri mengarungi samudera mustika, berlabuh ke negeri ini?”


“Terimakasih atas sambutannya raja yang agung. Hamba hanya ingin menikmati keindahan sebuah negeri yang telah lama aku tinggalkan. Apakah raja dan ratu berkenan jika hamba singgah disini dalam? Saya minta ijin bermalam, anggota jin peri kelelahan melakukan perjalanan panjang.”


“Kebetulan sekali kamar para dayang banyak yang kosong. Hanya ada satu ruangan bangsawan yang akan di tempati para tamu kementrian. Apakah ratu keberatan?” tanya Winan.


Dia menggandeng tangan raja erat. Winan berharap raja peka akan keputusan yang dia tetapkan. Memperhatikan gelagat Mekar di samping gerak-gerik sang raja yang terlihat acuh menghadapi canda gurauannya.


“Kenapa dahulu Fir’aun tidak seperti pria yang kini di hadapan ku? Andai dia tidak gila mengoleksi wanita maka aku akan menjadi wanita sempurna yang tercantik bagi negeri dan rajanya” gumam Winan.


Wajahnya yang tiba-tiba murung di usap lembut oleh Sadewa. Segala keputusan sang ratu adalah yang terbaik untuk mereka. Sadewa meminta ijin meninggalkan latar. Perlakuan Winan berupaya agar sang ratu peri angkat kaki.


“Permainan apa yang akan engkau langsung kan? Bukan kah tempo dulu sudah cukup meruntuhkan jiwa ku?”


Winan tidak menyangka ratu peri tetap mengincar tahta maupun raja. Dia memerintahkan pada para panglima dan dayang inti untuk selalu memantau mengawasi setiap gerak-geriknya maupun bala tentaranya. Dia juga memasang sihir alih-alih jika sang ratu peri melakukan hal di luar batas pengetahuannya. Kehadiran Mekar menjadikan dirinya tidak bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2