
“Pantas saja senjata itu kembali ke tuannya. Ternyata dia mendapat bantuan dari bangsa jin! Pria itu lebih licik dari perkiraan ku!” gumam manusia tengkorak.
Di dalam pertapaan mengobati dirinya sendiri. Manusia tengkorak berkali-kali mengeluarkan muntahan darah. Pukulan andalannya bisa di lumpuhkan hingga berbalik ke dirinya sendiri. Manusia tengkorak terkenal si pendekar ganas mematikan tidak ada yang bisa menandingi kehebatannya. Hingga pada hari ini dirinya kalang kabut tidak berkutik di buat pukulan Sadewa.
“Nyi merah, tolong jaga tenda dan para pengikut kita. Aku akan melanjutkan pertapaan.”
“Manusia tengkorak, ijinkan aku memberikan tenaga dalam pada mu.”
“Tidak nyi, engkau harus menjaga wilayah sekutu kita. Jika kita berdua sama-sama bersemedi maka tempat ini sangat rentan dalam bahaya.”
......................
Sadewa mencari Alas pati, di dalam perjalanan dia merasakan darahnya terasa sangat panas. Dia berhenti tidak tahan merasakan perubahan yang terjadi pada dirinya. Sadewa mengeluarkan api yang sangat panas hingga kudanya berlari meninggalkannya. Alas pasti melihatnya dari persembunyian, di salah satu di balik pohon besar dia melihat suaminya itu kesakitan.
Pikirannya menolak untuk menghampirinya sementara hatinya tidak tega. Alas pati menghampiriya, dia membawanya ke kediaman Gupta. Kali ini dia berusaha menyembuhkan Sadewa menggunakan racikan sihir yang sering di ajarkan Sadewa ketika dia membuat ramuan. Setelah meminum ramuan, dia merasa tubuhnya sudah baikan. Alas pati sepanjang hari tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Bibi dan paman sedang marahan?” tanya Surya.
“Sstthh, kita tidak boleh ikut campur di dalam urusan orang dewasa” bisik Mbok Rongya.
Sadewa mendekat ke Alas pati, terlihat matanya sembab habis menangis sepanjang malam. Dia perlahan menjelaskan duduk masalah yang menimpanya. Dia berharap dengan kejujurannya itu maka Alas pati tidak akan marah lagi dengannya. Sepajang Sadewa mengatakan apa adanya, selama itu pula air matanya mulai menetes tidak henti.
Amarah Alas pati masih meluao-luap, dia menyerang Sadewa menggunakan kekuatan tenaga dalamnya. Pertengkaran itu di saksikan Surya, dia berlari sejauh-jauhnya karena tidak sanggup melihat Alas pati yang seperti tampak sangat membenci pamannya.
Surya berlari hingga memasuki hutan, Dia terperosok hampir masuk ke dalam jurang. Ketika akan mencari jalan keluar, kehadirannya di lihat salah satu pengikut si manusia tengkorak. Surya di seret masuk ke dalam tempat sekutu. Dia di banting di depan mimbar perkumpulan. Nyi merah duduk melihat sosok anak kecil itu tampak tidak asing baginya.
__ADS_1
“Bocah, mengapa kau bisa masuk sampai ke wilayah ini? apakah engkau seorang mata-mata?”
“Aku bukan mata-mata. Aku tersesat setelah berlari sangat jauh dari desa Gelanggang” jawab Surya ketakutan.
“Desa gelanggang, desa terbesar musuh Sarang laba!” gumam nyi merah.
“Siapa nama mu?”
“Sa_sa_saya Surya. Keponakan paman Sadewa.”
Mendengar nama Sadewa, dia pun menahan amarah menghabisi anak kecil di depannya itu. “Aku harus memilih membunuh anak ini atau menghabisi Sadewa dengan memperalat anak yang Nampak sedang melawan pamannya sendiri ini” gumamnya.
“Hei bocah, apakah engkau sedang bermasalah dengan paman mu sehingga engkau berani melawannya dan pergi dari rumah?”
“Jangan khawatir, aku akan mengatasi masalah mu. Maafkan kelakuan para prajurit bodoh itu yang kasar pada anak baik seperti mu. Ayo kita bicara di sana__”
“Sekarang katakan, mengapa engkau melawannya?” tambah nyi merah.
Di bawah pohon dekat tenda inti, nyi merah mulai meracuni pikiran Surya. Di tangannya ada sebuah botol kecil pemberian Nyi merah untuk di berikan kepada pamannya.
“Engkau harus tau kalau paman mu tidak pernah menginginkan mu. Terlebih lagi kematian ibu mu akibat kesalahannya. Kau harus menumpas kejahatan, masukkan semua cairan ini di dalam minumannya agar tidak ada korban selanjutnya”
“Baik Nyi, kalau begitu aku akan segera pulang ke kediaman kakek Gupta.”
Di dalam benak Nyi merah melihat ternyata titisan Adika adalah sosok kelaki yang rapur. Dia dengan mudah di kendalikan, pikiran kotor persis seperti ayahnya yang hanya mementingkan diri sendiri.
__ADS_1
“Sesuai dugaan ku, dia sama seperti ayahnya. Anak itu bahkan tidak mengucapkan terimakasih setelah aku tolong naik dari atas. Anak itu juga tidak gentar membunuh pamannya sendiri. Hahaha!” gumam Nyi merah tidak sabar menunggu kematian sang pendekar.
Makan malam kali ini di iringi dengan keadaan langit yang menurunkan hujan deras. Tangan Surya bergetar, dia melihat ke kanan dan kiri lalu menuang seluruh isi racun ke dalam minuman Sadewa. Di meja makan tampak paman dan bibinya menikmati makanan. Racun itu belum bekerja sampai pamannya meneguk isi di dalam air lalu pergi melanjutkan meracik ramuan sihir di ruangan lainnya.
Pagi-pagi sekali Surya berpikir sang paman sudah meninggal. Dia berlari meninggalkan kediaman, sekujur tubuhnya bergetar ketakutan bersembunyi balik batu besar dekat perbukitan. Sadewa kembali kerumah karena dari tadi malam dia sudah merasakan jantungnya terpompa sangat berat.
Bertahan menegakkan kaki, dia menopang tubuh menatap pandangan tidak fokus menekan bagian dadanya. Rasa sakit tidak tertahankan, dia meringis kesakitan. Alas melihat Sadewa pingsa, dia memanggil para abdi dalem mengangkat dan memanggil tabib istana.
Wajah sang tabib mirip sekali dengan pangeran Gani. Tapi terlihat sangat jauh perbedaan adalah gerak gerik serta sikapnya yang sangat menjunjung tinggi tata krama. Dia bernama tabib Sicin, sosok pria yang tampak sibuk meracik ramuan dan mengobati suaminya. Ramuannya sangat manjur hingga berselang beberapa menit kemudian Sadewa telah membuka mata.
“Untung saja racun itu langsung di beri penawar. Kalau tidak dia akan memecahkan jantung tuan Sadewa” ucapnya.
Dia memberikan bahan-bahan herbar kering yang harus di rebus sampai rasa nyeri di jantungnya menghilang. Alas pati berkeyakinan kuat sakit Sadewa bukan dari hembusan sihir melainkan penyakit dari minuman yang di berikan Surya.
“Kakanda, aku sudah menduka ada sesuatu di minuman yang di berikan Surya tadi malam. Aku tidak ingin menuduhnya sebelum membuktikannnya sendiri. Ini botol racun yang dia tinggalkan di dapur saat buru-buru pergi melihat ku” ucap Alas pati.
“Aku tidak percaya Surya yang sudah aku anggap anak berani membunuh ku” ucap Sadewa.
“Saya pamit tuan dan nyonya. Semoga nyonya cepat sembuh” ucap sang tabib.
“Tunggu! wajah tabib sangat mirip dengan salah satu pangeran sarang laba, atau jangan-jangan anda adalah pangeran Gani?” tanya Sadewa memperhatikannya.
“Ada banyak manusia di muka bumi ini yang wajahnya mirip. Nama saya adalah tabib sicin tuan, saya tinggal di perbukitan dekat desa Gelanggang. Saya datang ke istana atas panggilan dari raja.”
Dia pergi membawa perlengkapan pengobatannya menuju ke istana bagian barat tempat Lintana berada di dapur istana. Mereka sedang meracik ramuan herbal untuk mengobati penyakit sang raja.
__ADS_1