
“Kalau Yuri pergi kemana mbok?”
“Si bungsu itu bekerja keras siang dan malam meracik ramuan. Waktu si mbok tanya jawabannya mau membuat ramuan untuk ndoro Dewi Bahati. Dia suka berpergian sendiri ke hutan. Si mbok setiap khawatir kalau adik mu sudah mulai bersiap masuk kesana.”
Segala keluhan mbok Rongya dengan sabar Sadewa dengarnya. Meskipun ketiga anak-anak itu telah dewasa tapi rasa kasih sayangnya tidak pernah berubah. Hanya Adika yang sering melawan dan kasar. Terakhir kali luapannya saat membela Bahati dari sikap kasar Adika.
Sadewa mengikuti jejak Adika dan Bahati yang sudah berstatus menjadi kakak ipar baginya. Di dalam perjalanan mengendari kereta kuda. Digja menghalangi perjalanan bersama dua pendampingnya yang membawa pedang.
“Hei manusia cabul keluar kau! Kau sudah merusak Dewi Bahati! Cara mu licik, kotor seperti hewan!”
“Hentikan Digja! Jangan kau sakiti suami ku!” bentak Dewi Bahati.
“Aku lebih setuju bertarung secara jantan dengan Sadewa demi menikahi mu dulu dari pada si pria bajingan ini. Pasukan bunuh dia!” pekik Adika.
Pertarungan, saling menghantam hingga senjata salah satunya mengenai lengannya. Sadewa datang menendang kedua pasukan itu lalu menghajarnya hingga babak belur.
__ADS_1
“Urusan ku dengan Adika belum selesai! Suatu hari aku akan kembali!”
“Terimakasih kakang Sadewa,maaf kami merepotkan mu” ucap Bahati.
“Bahati, ayo kita pergi!” teriak Adika.
Di dalam kegelapan malam saat menuju ke rumahnya, Sadewa di hadang sosok pria bertubuh kurus yang memakai penutup wajah. Gerakannya sangat cepat sampai Sadewa terperangah. Dia menggiring Sadewa ke sebuah gua yang sangat besar. Di dalam sana terdapat akar-akaran dan bahan tumbuhan sihir. Ada juga berbagai macam senjata dan buku-buku usang di atas bebatuan.
“Ini adalah surga dunia” gumam Sadewa tidak henti mengamati sekitar.
“Paman Sahwana? Ahahah!”
Sosok pria yang di hadapan itu kasih sayangnya melebihi ayahnya sendiri. Sahwana telaten mengajari satu persatu jurus seni bela diri, cara menggunakan senjata dan meracik ilmu sihir Sebelumnya dia menyuruh Sadewa memilih senjata yang dia suka. Berbagai jenis senjata membuat Sadewa bingung selama satu jam hanya berdiri mematung.
“Senjata milik mu adalah jiwa mu yang sudah kau percayakan padanya. Kau harus memilih satu senjata yang berisi dan bisa melindungi diri serta orang yang lemah.”
__ADS_1
Sadewa mengambil sebuah pedang panjang yang berukuran besar. Ketika dia mencabut pedang yang tertancap pada batu besar, pedang itu menimbulkan percikan api, angin, kilatan hingga membuat gempa bumi. Energi di dalamnya sangat lah kuat, tubuh Sadewa yang belum bisa mengendalikan snjata itu membuat dia muntah darah terbawa pedang yang terbang tidak tentu arah. Sadewa menekan titik-titik aliran nadi supaya normal kembali. Dia menancapkan pedang pada batu mengangkat Sadewa ke tempat pertapaannya.
......................
Di sisi benteng kerajaan bagian Tenggara.
Paman Bona sosok peran paling setia di utus kembali bertugas memata-matai gerak-gerik hingga taktik berperang Kartanegara. Prajurit penjaga gerbang inti dia bius menggunakan bakaran asap. Pangeran Angka terkejut melihat semua pasukan penjaga perbatasan istana tidak sadarkan diri. Dia menggunakan ilmu membangkit raga sukma membangunkan mereka semua. Kehadiran Bona tertangkapnya saat akan melarikan diri. Melihat dirinya sudah terpojok, Bona menusuk tubuhnya sendiri dengan pedang milik salah satu pengawal yang berdiri di samping kirinya.
“Ya, aku yakin sekali ini adalah orang yang sama yang memata-matai ku dan para senopati lainnya” ucap Adipati Yetno.
“Dia juga kaki tangan Gani. Aku harus lebih waspada dari pria ular itu. Walau bagaimana pun dia saudara tiri ku” gumam Yetno.
Suara kentongan ramai wilayah perbatasan istana bagian Tenggara. Langkah serempak para pangeran dan Adipati ke wilayah Tenggara di samping kejadian mayat lelaki yang di katakan sebagai penghianat.
Seorang mayat penyusup di bagian Tenggara dan satunya lagi mayat penyusup di bagian Barat yang di antar di depan pintu masuk.
__ADS_1