
Kau tidak bisa meneruskan ego, meminta secara paksa keinginan mu sekalipun harus mengorbankan diri mu sendiri. Semua ada sebab dan akibatnya.
...🔥🔥🔥...
Ratu Winan meminta pada Prameswangi menunggu selagi dia berbicara empat mata dengan Sadewa. Dia mengatakan tidak bisa menolong sang raja meski apapun yang di inginkannya terpenuhi. Namun sang raja sepertinya baru kali ini menyampaikan permohonannya.
“Apapun yang engkau ingin pasti aku kabulkan raja ku. Tapi tidak dengan mengeluarkan energi ku ke tubuhnya. Dia akan menjadi incaran para jin. Kecuali dia berubah menjadi jin.”
Penyampaian Winan di dengar Prameswangi, dia sedari tadi mendengar dari balik pintu berharap mengetahui hal sebenarnya. Bragghh___
Pintu yang terbuka paksa. Ibu suri itu menekuk lutut memelas meminta sang ratu segera mengobati anaknya. Ratu yang berhati dingin itu seketika meluluhkan hatinya membantu penguasa Kartanegara.
“Berdiri lah, tetap tegak meski engkau menangis darah sekalipun. Engkau adalah ibu suri yang terhormat. Aku tidak ingin rakyat mu melihatnya.”
Winan membantunya menegakkan tubuh yang rapuh. Batara adalah anak pertama yang paling dia sayangi. Langkah suara lain datang dari kehadiran Baseka menerobos. Pandangan mengarah ke Batara kakaknya sesekali ke wanita cantik yang memakai mahkota ular menatap tajam. Ibu suri menarik menjauh dari kasur sang raja. Wanita yang di dekat panglima perang mengeluarkan gumpalan merah di kedua telapak tangannya.
“Wahai ibu suri, apakah engkau siap jika sang raja berubah menjadi jin?”
“Ya, aku siap. Dia adalah darah daging ku. Walau dia memerintah sebagai raja, aku berhak memutuskan tentang hidupnya.”
“Bu, apa yang ibu lakukan? Ada cara lain demi kesembuhan kakak bu!” Baseka menolak keras kakaknya berubah menjadi jin.
Dia mendorong wanita itu terhempas terjatuh ke atas ubin. Nafas raja yang sudah terputus-putus perlahan normal kembali. Raja memiliki kedua tanduk yang tumbuh di atas kepalanya. Tangan sedikit membesar. Jari jemari panjang memliki kuku runcing. Dia membuka kedua mata, di hadapannya ada seorang wanita asing tersenyum padanya.
__ADS_1
“Si_si_siapa kau?”
“Hormat saya yang mulia. Saya adalah istri panglima perang.”
“Raja, akhirnya engkau sadar. Hiks” Ibu suri memeluk sang raja.
Di melihat jari tangannya, menyentuh wajahnya yang terasa sedikit berbulu. Merasakan tubuhnya yang terasa lebih keras dan panas. Raja meminta agar para dayang Mengipas-ngipasnya.
“Kakak, aku sangat bahagia engkau bisa sembuh. Tapi bukan cara kesembuhan ini yang aku inginkan!Hei wanita jin, cepat kembalikan kakak ku!”
Baseka mengguncangkan tubuh sang ratu.
Prameswangi menampar Baseka, dia spontan mengayunkan tangan karena tingkah anaknya yang tidak sopan pada orang yang telah menyelamatkan raja. Baseka pergi, dia meninggalkan istana. Sejak saat itu tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
Ibu suri memesan mahkota pada pengrajin. Sebuah mahkota yang lebih besar untuk bisa nutupi taring itu. Dia juga memesan pakaian kebesaran sang raja lebih panjang hingga menutupi jari jemarinya. Pada hari ini, raja bisa bisa menggunakan kekuatan jinnya tanpa harus menggunakan senjata tajam.
“Raja, aku saran kan jika engkau menggunakan kekuatan itu, engkau jangan mengeluarkannya di dalam ruangan tertutup. Aku tidak mau istana mu hangus terbakar. Raja gurun akan membantu melatih menggunakan kekuatan jin.
“Baiklah aku akan mengingatnya. Terimakasih ratu Gurun.”
Di dalam kereta kencana menuju perut bumi, Sadewa berpikir mengenai perubahan sang pemimpin Kartanegara. Dia mengkhawatirkan sang raja akan mengamuk jika tidak bisa mengendalikan kekuatan hawa panas yang ada di dalam tubuhnya. Untung saja Sadewa menguasai ilmu suwung laduni empat elemen. Jika tidak, kemungkinan percikan amarahnya bagai lalang kering yang berkobar menghanguskan sekitar.
“Ratu, sebelum raja di serang penyakit. Bukan kah dia sudah mengenali mu? mengapa dia tampak amnesia?”
__ADS_1
“Wahai raja ku, engkau pasti lupa jika manusia yang pernah mati suri di bangunkan oleh kekuatan jin maka separuh ingatannya akan menghilang.”
Perjalan mencapai perut bumi, ke datangan raja dan ratu di sambut tangkla yang menunggu mereka di ruangan peradilan. Kini tidak ada satu pun yang bisa menentang keputusan penguasa itu. Terlebih lagi, setelah mengetahui raja mereka memiliki ilmu yang tidak kalah hebat mengendalikan tanah di gurun pasir.
Sistem pemilihan kepemerintahan tangkla yang baru di gelar secara transparan. Setiap tangkla di adu menggunakan masing-masing kekuatan mereka. Hanya ada tiga tangkal yang tersisa dari setiap elemen. Kali ini raja tidak membandingkan atau menguji kekuatan.
Berdiri di depan mimbar, keenam kandidat itu tidak di perintahkan melakukan apapun. Seolah ujian terhenti hanya berdiri menunggu titah dari sang raja. Hingga larut malam bahkan pergantian musim di negeri gurun. Sang raja belum juga mengeluarkan dekrit, petisan yang biasanya di unjuk menyuarakan rakyat tampak vakum. Tidak ada jin yang berani protes atau angkat kaki. Ratu Winan menimang Langit, dia sesekali mengecup bayi yang mulai tumbuh besar itu. Winan tidak bertanya langkah selanjutnya yang akan di ambil sang raja. Dia mengetahui mana yang terbaik untuk negerinya.
“Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran manusia itu? Para tangkla kakinya bergetar akibat kelelahan” bisik salah satu jin.
Salah satu calon tangkla api meninggalkan mimbar. Tanpa meminta ijin berpamitan, dia memalingkan tubuh menghilang begitu saja. Tangkla air, jin yang terkuat itu ternyata tidak tahan dengan terik matahari di tambah hawa panas dari tiupan sihir sang raja. Hal yang tidak di duga dan sangat di sayang kan. Satu-satunya tangkla air yang akan menjadi pemenang itu juga ikut gugur pergi dari peradilan. Kini yang tersisa tinggal dua tangkal tanah, satu tangkla api. Raja mendongakkan kepala, dia membuat pengumuman tepat di saat matahari tergelincir maka dia akan membuat pengumuman.
“Ahahah! Hanya aku yang bisa menduduki posisi sebagai tangkal air. Tidak ada satupun jin yang bisa menandingi kekuatan ku!” ucap tangkal tahanan yang mendengar berita dari perbincangan para penjaga yang tidak henti membicarakan kehendak sang raja.
“Hei tutup mulut mu!” bentak salah satu penjaga.
“Raja, kenapa engkau tidak menghukum Mahmeru? Dia andil dalam penyerangan langit"
“Ratu, musuh terbesar kita harus di jadikan sebagai prajurit terdekat supaya kita bisa dengan mudah membaca gerak geriknya. Gendan akan aku tugaskan menjadi penjaga perbatasan di negeri ujung kulon."
“Terserah engkau saja, aku sudah sangat lelah. Aku bersama langit mohon undur diri pergi ke ruangan kebesaran.”
“Silahkan ratu ku."
__ADS_1
Juru bicara membacakan hasil keputusan dari sang raja. Pergantian para tangkla yang baru di pilih langsung dari hasil ujian yang telah di lewati.