
Sadewa masih duduk termenung di Altar kerajaan. Dia di rundung kesedihan menatap Langit kosong di malam hari. Dia sangat khawatir memikirkan nasib anaknya. Tidak ada lagi kekuatan yang bisa mengeluarkan anaknya di dalam pedang miliknya. Dari arah belakang, sang ratu mengusap lembut punggungnya. Dia memahami apa yang di rasakan sang raja, Ratu Winan menggunakan sisa kekuatannya mencoba mengeluarkan Langit. Setelah semua kekuatan terkumpul, dia jatuh di topang sang raja.
“Apa yang engkau lakukan? Mengapa tidak memikirkan anak kita?” tanya sang raja mengerutkan dahi.
Suhu tubuh sang ratu panas sekitar empat puluh derajat cesius. Raja sangat panik, dia mengeluarkan kekuatan namun tidak bereaksi apapun di tubuhnya.
“Ayah! Ayah!” gema suara Langit yang tidak terlihat wujudnya.
“Langit, kamu dimana nak? Maafkan ayah tidak bisa mengembalikan mu ke wujud semula.”
“Ayah! Ini sudah menjadi keinginan ku menyatu di dalam pedang ini. Ayah, tolong jaga ibu dan Elang raksasa untuk ku.”
Sinar kilauan terik masuk kembali ke dalam pedang pamungkas Peonix. Sadewa memeluk erat pedang miliknya. Dia menyesali dirinya terlalu menginginkan mencari ilmu yang tinggi mengakibatkan pemanggilan ruh peonix yang merasuki tubuhnya mengalir ke Langit. Di dalam benak berpikir bagaimana mempertanggung jawabkan di depan Alas pati. Istri pertamanya yang telah tiada itu sangat menyayangi sang buah hati.
Sadewa membawa Winan masuk ke dalam ruang kebesaran. Dia memanggil tabib Sicin memeriksanya. Dalam pengobatan sang ratu, raja memanggil para cenayang dan beberapa penyihir. Dia memanggil para tangkla, Ruti dan Taga untuk menjaga istana selagi dia keluar dari perut bumi.
Menuju ke kediaman Gupta, tampak sang ayah sedang melakukan persemedian panjang. Tubuhnya kurus kering, Sadewa menggunakan ilmu suwung laduni mencari sukma ayahnya yang sedang tidak menempati tubuhnya.
“Dimana engkau ayah?” panggil Sadewa.
Di sebuah tempat alam dimensi lain, sukma Gupta duduk di bawah air terjun raksasa yang sangat deras. Tampaknya sang ayah mencari llmu sihir yang mengakibatkan terkikis antara tubuh dan sukmanya.
“Ada apa anak ku?”
“Ayah, tolong lah ratu Winan istri ku. Dia terlalu banyak mengeluarkan kekuatan. Winan banyak berjasa membantu manusia dan para jin yang kesusahan.”
__ADS_1
“Ya, aku melihatnya. Aku mengetahuinya. Dia banyak berubah setelah bersanding dengan mu.”
“Aku akan memendam diri, cucu ku langit harus aku keluarkan dari pedang mu. Tapi, setelah aku berhasil mengeluarkannya. Dia tidak akan bisa kembali ke alam jin. Langit menjalani kehidupan sebagai manusia biasa. Dia memulai semuanya dari nol kembali. Seputih kapas bayi yang baru dilahirkan di dunia.”
“maksud ayah, dia akan bereinkarnasi dan tidak mengenali ku?”
“Ya, apakah engkau siap anak ku?”
Memikirkan sukma anaknya akan terjebak dalam kurungan selamanya jika dia tidak mengikhlaskan wujudnya yang lain maka sama saja dia adalah seorang ayah yang sadis menyiksa anaknya sendiri. Seumur hidup, bahkan di dalam keabadian burung ruh peonix, langit akan kekal di dalam benda berdarah itu. Mematangkan pilihan anaknya harus terlepas dari pedangnya. Gupta kembali melakukan persemedian panjang.
Sang ratu peri melihat kedatangan sang panglima perang, pendekar yang bertahta di negeri jin, dia mengabarkan pada sang raja Batara. Langsung jaga kedatangannya di sambut hangat, Sadewa di damping bala tentara utusan Batara menuju ke Alun-Alun kerajaan.
“Selamat datang pahlawan negeri ku. Hamba mohon ijinkan bawahan mu ini memberikan bantuan ringan untuk mengobati sang ratu.”
“Apa yang engkau katakan raja ku? Aku adalah pendekar Kartanegara. Selamanya engkau adalah raja yang bertahta.”
“Tidak. Terimakasih atas kebaikan raja dan ratu. Saya akan mengikuti rombongan dari belakang.”
......................
Masuk ke dalam perut bumi, berpindah alam tidak semudah membuka pintu ajaib yang ada di negeri seribu satu malam. Batara hanya membawa beberapa para prajurit jin dan kuda jin. Raja Sadewa mengikuti iring-iringan raja Batara dan ratu Seza. Kilauan serbuk peri Seza terasa oleh ratu peri Mekar. Dia mencium aroma peri yang mengepakkan serpihan serbuknya di udara.
Di balik tembok Bunga raksasa Dandelion.
Peri-peri pilihan di sekat dalam kurungan. Mereka bagai ikan yang di panggang di bawah sinar matahari. Sayap mengering, serbuk sari yang berjatuhan di tampung di sebuah wadah yang di jadikan sebagai kekuatan untuk sang ratu peri Mekar.
__ADS_1
Jin yang terkait di dalamnya tidak lain adalah sekete hitam. Di sebuah tempat rahasia yang tidak di ketahui oleh peri lain. Sosok peri Mekar tidak lain penganut iblis bermata satu.
Peri-peri yang terkulai lemas tidak berdaya, kekuatan telah hilang di renggut kegelapan. Mereka hidup namun tidak bisa berbuat apapun. Tubuh ringan yang masih menempel sayap kering itu di mutilasi oleh para Algojo di sebuah tempat kedam suara. Teriakan, getar nada kecil tidak terdengar sedikitpun.
“Hahah, aku tidak sabar menikmati kekuatan besar yang di miliki Seza” ucap ratu peri Mekar bangkit dari singgasana.
......................
Sesampainya di istana Gurun. Ratu Seza masuk di bawa oleh Ruti. Raja memperhatikan Seza mengeluarkan serbuk yang keluar dari sayapnya yang besar. Berangsur-angsur wajah Winan berubah sedikit memerah. Ular-ular yang berada di dalam mahkota kebesarannya keluar menyelimuti tubuhnya yang masih menggigil. Sadewa berpikir ular-ular itu akan melukai sang ratu, dia mengeluarkan pedang akan membunuh semua ular yang mulai melilitnya.
“Jangan raja. Mereka menetralisir mengeluarkan racun ular mengobati luka di tubuh sang ratu” kata peri Mekar.
“Bagaimana dengan kandungannya?”
“Ratu dan bayinya baik-baik saja. Untuk beberapa periode, ratu di larang menggunakan kekuatannya.”
Seza tidak henti membanjiri tubuh sang ratu Gurun dengan serbuknya sedangkan tabib Sicin meracik ramuan sihir obat-obatan. Dia sangat berhati-hati mencampurkan setiap bahan ke dalam obat agar tidak tidak berpengaruh pada kandungan sang ratu.
Bunyi sofar bersahutan di udara. Sinyal simbol tiap-tiap benteng pembatas kerajaan menyalakan seruan kehadiran sosok penyusup. Jin yang mengepakkan sayap di tengah gelapnya malam tidak memperlihatkan dia adalah sang ratu penguasa di negeri peri. Penyamaran yang biasanya sangat rapi itu menampakkan wujud aslinya yang memiliki taring panjang begitupun kuku cakarnya.
“Hei siapa kau?”
Rakum melempari dengan gumpalan tanah. Sosok ratu peri itu menggunakan jari-jemari panjang seperti menghempas pelan serangan yang di anggapnya mainan belaka. Tapi, seketika tubuhnya terhempas air mendidih, tubuhnya hancur kembali seperti semula. Banyuwangi melempari serangan beruntun menggunakan kekuatan hitam yang dia miliki.
“Kurang ajar, berani sekali kau manusia! Meski tubuh mu bercampur jin, tapi tetap saja asal mu di atas permukaan bumi. Terimalah serangan mematikan ku ini. Hiya!”
__ADS_1
Syaattt___