Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 72


__ADS_3

Mengepul asap hitam di dalam tempat perkumpulan para sekutu penyihir hitam. Iblis bermata satu keluar dari dalam api perapian. Suaranya terdengar keras, dari atas tanah keluar cacing-cacing merah menggeliat. Para jin penjaga peri terkejut, membunuh cacing, menyingkirkannya terlihat bertambah banyak keluar memenuhi tanah yang mereka pijak.


“Ini bukan cacing biasa. Cacing-cacing ini bisa mengisap darah, lengket menempel di kulit!” ucap salah satu penjaga.


“Jangan berhenti! Bunuh semua hewan-hewan ini!” teriak pengawal.


Lautan cacing menutupi rumput hijau, bunga-bunga yang bermekaran dan serbuk cahaya. Merambat hingga ke pepohonan dan permukaan negeri peri. Pura peri bercahaya di kejutkan merasakan besarnya kekuatan iblis.


“Kita tidak bisa memperlihatkan kekuatan ini. Ratu iblis itu akan menggunakannya untuk kejahatan” ucap ketua pura.


Peri bersayap coklat mengingat sosok raja yang kekuatannya tidak kalah hebat dengan ratu peri iblis. Dia di bantu temani langsa peri pura pergi ke negeri Gurun. Perjalanan mereka di hadang perompak perbatasan. Pedang di ayunkan, gerakan menghantam peri coklat. Mengepak sayap menghindari serangan, peri coklat bukanlah peri perang yang bisa menggunakan jurus ilmu bela diri.


Sepuluh perompak jin bersenjata menyerang, Langsa mengeluarkan kekuatan sinar pura. Tubuh mereka terkikis. Tersisa senjata, pakaian dan kuda jin yang tertinggal di atas gurun. Langsa menaiki kuda jin dia memberi isyarat agar peri coklat segera naik di belakangnya.


“Tidak Langsa, sayap ku yang kuat ini mampu terbang melebihi kecepatan kuda itu”


“Jangan engkau menyombongkan diri peri coklat, angin pasir ini kemungkinan besar akan merobek sayap tipis mu. Jangan merengek kepada ku kalau engkau di lumpuhkan keganasan badai gurun pasir” Langsa mulai menunggangi kuda meninggalkannya.


“Tunggu Langsa! Aku ikut!”


Dengan berat hati, peri coklat mengikuti arahan dari Langsa. Di tengah badai pasir, dia menutupi sayapnya dengan jubah milik Langsa. Sosok peri yang tidak terbiasa menaiki kuda jin menggenggam erat pundak Langsa. Dia sempat terbanting beberapa kali, seolah tulang-tulangnya mau patah. Peri coklat menguatkan diri. Badai pasir masih berlanjut, sinar matahari terik mengeringkan sayapnya. Sang peri kehausan.

__ADS_1


“Langsa, dimana kita bisa mendapatkan air? Aku hampir mau mati kehausan” teriaknya.


“Bertahanlah peri coklat. Setelah badai pasir ini, di bagian utara aku pernah mendengar ada sungai yang panjangnya melebihi Sembilan negara.”


Kuda jin yang membawa mereka terjatuh. Kedua terbanting di atas pasir panas. Kaki kuda di tarik pasir hidup, Langsa menggunakan kekuatannya menarik kuda itu ke aras permukaan. Akan tetapi walau dia berhasil menarik, tinggal setengah badan kuda yang tersisa. Darah bercampur pasir, peri coklat menjerit histeris.


“Kecilkan suara mu peri. Kita tidak tau hewan-hewan apa yang ada di balik pasir mematikan ini!”


Menggunakan sisa tenaga dalam, Langsa membungkus tubuh mereka berdua menggunakan cahaya pura agar tidak terkena serangan apapun. Namn, kekuatan Langsa melemah, mereka terpisah di tengah badai pasir hingga tidak sadarkan diri.


Seza merasakan negeri peri terguncang. Darah kehidupannya tercipta dari salah satu kelopak bunga serbuk sari di negeri cahaya itu. Dia mendengar teriakan tangisan para peri dari kejauhan. Tepat di depan Batara yang masih melakukan pertapaan. Dia mengurungkan niatnya mengganggu pertapaan sang raja. Mengepakkan sayap meninggalkan gua perbukitan. Seza masuk ke dalam perut bumi mengepakkan sayap menuju negeri peri.


Jantungnya berdenyut seperti di tusuk ratusan jarum. Dia baru saja pulih dari lukanya. Dom mengikuti sang ratu. Sayapnya mengepak melemah, kakinya menapak di atas tanah. Dom berlari menghampirinya, dia membantu Seza berdiri. Dom membawa masuk ke dalam perut bumi. Di sisi lain, sang raja menghentikan pertapaan merasakan serbuk sari Seza yang tertinggal terbang tertiup angin mengenai telapak tangannya.


“Apa yang terjadi dengan ratu?” tanya Batara melihat sosok peri itu terkulai lemas di atas permadani.


“### Maafkan hamba yang mulia. Hamba terpaksa membawa sang ratu kembali ke istana. Ratu pergi menuju ke negeri peri.”


Di istana gurun


Panglima pertama menemukan dua jin di atas gurun. Dia membawa keduanya ke Altar istana. Laporan penemuan sosok peri dan jin yang menggunakan pakaian bercahaya putih, Sadewa melihat salah satunya sosok peri yang pernah membantunya di dalam gua bebatuan.

__ADS_1


“Yang mulia, apakah dua sosok ini kami tempatkan di ruangan tahanan? Sesuai peraturan gurun, penyusup harus di hukum”


“Tidak Ruti, salah satunya pernah membantu ku dan raja Batara ketika kami di kejar ratu iblis peri.”


Tabib Sicin memberikan pengobatan menggunakan ramuan andalannya. Selesai mengobati, dia buru-buru di jemput utusan raja Batara.


“Hamba mohon pamit yang Mulia. Hamba akan secepatnya kembali” ucap sang tabib memberi hormat.


Setiap kerajaan di landa masalah, semua peran anatagonis tidak lain adalah bangsa jin yang mempersekutukan iblis. Tembok raksasa di selubungi kekuatan iblis. Peri-peri terperangkap disana. Kekuatan besar yang membentuk lingkaran menggulung kekuatan pada peri.


Suara kesakitan, sihir hitam menggerogoti jiwa. Dua jin yang sadar di bawa Ruti menghadap pemimpin gurun. Di depan sana telah duduk raja dan ratu menunggu penyampaiannya. Mendengar kekacauan di negeri peri, sang ratu tidak bisa berbuat apapun. Dia juga melarang sang raja membantunya.


“Masa-masa sulit ini, masuk mengorbankan diri sama saja mencari mati yang sia-sia. Kita harus membangun kekuatan dna rencana penyerangan. Kita tidak bisa langsung ke negeri itu yang mulia.”


“Menghadap raja. Apa yang di katakana sang ratu ada benarnya. Hal yang di takutkan adalah kalau seluruh kekuatan besar Gurun di kerahkan ke negeri peri. Para musuh bebas menjajah negeri ini. Mohon yang mukia mempertimbangkannya” ucap Selayang trokat.


“Ya, pendapat keduanya ada benarnya. Tolong peri coklat dan Langsa untuk sementara waktu tinggal disini. Jika semua sudah beres maka kita akan melakukan penyerbuan.”


Peri coklat hanya bisa menangis, Selayang khawatir nasib para peri cahaya pura dan negeri sayap peri. Mereka di bawa ke ruangan yang telah di sediakan. Sang panglima sangat paham kegemaran para peri, dia meletakkan tumbuh-tumbuhan dan bunga bermekaran di ruangannya. Meski negeri gurun bertanah tandus, namun di sepanjang tepi sungai raksasa tumbuh berbagai jenis tumbuhan hijau. Para jin juga memanfaatkan untuk bercocok tanam mengikuti cara kerja manusia.


Sadewa memperluas hasil kekayaan bumi dengan melakukan pengairan membuka persawahan dan perkebunan. Kekuatan jin yang bisa melakukan apa saja dalam satu malam mengambil tanah subuh dari alam manusia.

__ADS_1


Langsa memberikan sinyal ke ketua pura bahwa mereka telah sampai dengan selamat. Namun tidak ada jawaban apapun.


__ADS_2