Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 81


__ADS_3

Auuuwww___


Aungan suara siluman serigala semarak menakuti penghuni Kartanegara. Patahan tulang ******* daging manusia. Sifat hewan yang tidak pernah keluar di dalam bangsa siluman karnivora predator pemangsa berubah rakus. Menghabisi darah, daging, tulang belulang manusia. Prajurit jin yang menghindari serangan ada yang terkena gigitan dari sekte hitam.


Kali ini musuh memastikan kerajaan besar itu akan runtuh. Sementara di balik negeri peri cahaya, Seza melihat dari cermin keabadian bahwa Kartanegara sedang terancam. Dia yang semula mau melepaskan urusan dunia manusia maupun jin berubah mengkhawatirkan sang raja. Batara telah melahap matahari, dia menyemburkan api ke sekte hitam, penyihir kegelapan maupun negara pai yang menyerang.


Aroma hangus tubuh jin yang bersekutu dengan iblis bermata satu.


“Memang benar adanya setelah memangsa matahari, Batar memiliki kekuatan terbesar di dunia. Namun, tidak menutup kemungkinan bangsa jin, suku api lebih berkuasa memiliki kekuatan sebanding hampir keseluruhan merajai penghuni dunia.


Suku air menenggelamkan es yang mencair. Lautan api berubah, para jin tidak berani melawan bangsa jin api mengganas menyebarkan sihir hitam di udara.


“Kerajaan Kartanegara terguncang hebat. Tampaknya sang raja di kepung habis-habisan. Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja” ucap sang ratu.


Ratu peri cahaya mengutus Rakunta menebar serbuk peri menghidupkan kembali pasukan jin dan manusia Kartanegara. Sang peri pendamping membawa pasukan khusus peri membantu menyebar serbuk. Mereka mewanti-wanti waspada posisi berjaga agar sayap tidak terkena percikan api. Seza memberi bekal kekuatan pelindung, sayap yang kebal terhadap api. Semua itu memiliki batas ukuran pasir waktu di negara jin.


“Ingatlah, kalian harus segera kembali begitu tugas selesai. Aku tidak bisa menahan sayap peri inti lebih lama. Negeri peri cahaya harus tetap terlindungi dari gangguan apapun. Tidak ada yang mengetahui tempat ini sekalipun sihir hitam maupun sihir putih."


“Perintah kami laksanakan yang mulia ratu peri.”


Peri-peri pilihan mengemban tugas berat, terbang keluar dari negeri cahaya yang tidak terlihat. Kilauan cahaya peri menarik pandangan di dalam gelapnya malam. Waktu yang di telan sang raksasa pemakan matahari, gelap gulita menghujani api dan hujan meteor di ganti rintik serbuk sari ke jin dan manusia penjaga Kartanegara.

__ADS_1


“Cepat! Panah makhluk-makhluk pengganggu itu!” perintah ketua sekte hitam.


Argo mengeluarkan busur raksasa Dia menggunakan panah api memanah salah satu peri dengan kekuatan sihir. Memanggil mantra iblis mata satu. Busur hancur menjadi abu. Pasir waktu di negeri peri cahaya benar-benar di jaga sang ratu Seza. Merasakan salah satu peri yang di utus mendapatkan masalah besar. Dia menggunakan kekuatan kepakan sayap terbang memisahkan diri membentuk cahaya. Tubuhnya tetap berada di ruangan kebesaran sedangkan pemisah tubuh berbentuk arwah terbang membentang sayap cahaya ke atas permukaan bumi.


“Lihat! Ada makhluk cahaya!” tunjuk dedemit merah.


“Tunggu apa lagi panglima pati tangkla api. Serang dia dengan kekuatan mu!” ucap Argo memanas karena kekuatannya tidak berhasil melumpuhkan lawan.


“Maafkan hamba yang mulia. Hamba rasa kita harus mundur. Kekuatan itu teramat besar, jika sang raja Batara menggunakan tata surya dan cahaya kilauan peri itu. Kita akan terluka parah” ucap sang panglima dedemit.


“Aku tidak perduli! Hiya!” Argo menggunakan seluruh tenaga dalam membentuk bola api raksasa.


Karena kesedihan sang raja Batara, dia berubah wujud mengeluarkan Matahari yang dia telan. Langit kembali terbentang memperlihatkan awan putih di bawah langit biru. Ingin rasanya sang raja memanggil ratu Seza agar melihatnya sekali lagi.


“Ratu Seza engkau kah itu? katakan lah! Aku telah lama menanti mu!” ucap sang raja.


Ratu Seza tidak menjawab seruannya. Dia membantu mengusir tentara iblis dan menjauhkan suku vampir dari muka bumi. Serbuk sihir peri cahaya ampun menyembuhkan semua prajurit seperti semula.


Di kejauhan, putri Lotus menggunakan panah kekuatan serbuk kematiannya untuk menghabisi sang ratu. Syatt__ “Arghh!”


suara sosok arwah sang ratu peri cahaya terjatuh dari atas langit.

__ADS_1


Sang raja tidak bisa menangkap cahaya yang tidak bisa di sentuh itu. Suara dentuman kuat, memekik telinga. Ratu Seza masuk kembali ke dalam tubuhnya mengeluarkan muntahan darah mengenai kolam keabadian.


Para peri pura yang melakukan meditasi terhentak melihat darah memercik ke dalam air suci nan abadi. Melihat sang ratu akan mengalami nasib maupun takdir buruk yang harus dia terima. Para peri penjaga kolam menggunakan kekuatan berusaha merubah air kembali bening. Darah yang masuk meneguk di dalam waktu yang berputar tanpa jeda.


“Apa yang engkau lakukan putri Lotus. Kau sama saja membunuh diri mu sendiri!” ucap dayang Mera.


“Ya, inilah yang aku inginkan. Aku telah lama mendambakan menempati sosok permaisuri di kerajaan itu. Jika aku tidak bisa memilikinya maka Seza si jin peri bersayap itu tidak boleh hidup bertahta disana! Ahaha!”


Putri pendendam itu tidak memperdulikan kematiannya yang dekat. Dia mengorbankan diri menggunakan kekuatan terbesar yang bisa membunuh semua jiwa.


Menurut legenda asal mula kerajaan itu berdiri di dukung dengan tumbuhan dewi teratai yang membawa seorang sosok putri di Kerajaan Makuta. Kodrat bunga lotus adalah mati untuk hidup lagi dan sebaliknya. Dia memiliki kekuatan istimewa, berantai ulang saat dia hidup kembali sekalipun harus menghadapi kematian.


“Bukan kah seharusnya sang putri lotus mengikuti takdirnya? Menjadi dewi penjaga bumi yang berdiri tegak melawan kejahatan?” gumam Banyuwangi.


“Aku tau apa yang ada di benak mu wahai putri ku. Berkacalah pada diri mu sendir. Engkau adalah air wangi dari sumber mata air di bumi. Kekuatan terbesar pengendali elemen air. Kini engkau mencampur adukkan kekuatan sihir hitam demi membalaskan dendam mu. Bukan ini yang aku harapkan!” gema suara raja Udum di udara.


“Ayah! Dimana engkau? Aku terpaksa melakukannya. Tidka kah engkau melihat perjuangan ku menyelamatkan bangsa jin dan manusia yang di serang iblis bermata satu dan pengikutnya? Aku sangat membenci semua suku api yang telah membunuh mu!” jawab Banyuwangi di tengah air matanya yang menetes.


“Kenapa engkau tidak menjawab pertanyaan ku! Ayah! Jangan tinggalkan aku sendiri! Hiks!” ucap Banyuwangi kembali.


Dia menyadari di dalam kekuatan kegelapan sihir hitam yang dia miliki terkadang susah di kendalikan. Ketika hawa ganas itu tiba, dia mengurung diri menggulung ombak membawanya ke tengah lautan lepas. Menuju ke salah satu pulau terpencil masuk ke gua bebatuan raksasa yang sangat sempit. Dia menebar kekuatan jahat yang tidak terkendali agar tidak terkena siapapun.

__ADS_1


__ADS_2