Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 34


__ADS_3

Menyadari kesalahannya, Surya meminta maaf pada sang paman. Walau di dalam benak berkecamuk keinginan menduduki posisi lebih tinggi. Tidak bisa di pungkiri di dalam aliran darahnya, ada darah Adika si peracik ilmu hitam. Tepat di umurnya yang ke dua puluh satu, Adika meletakkan pedang di Altar kerajaan. Panggilan jiwa tanpa sadar dia berjalan kaki sampai di depan kediaman rumah Gupta. Dom memperhatikan Surya tanpa ijin masuk ke dalam ruangan Sadewa. Dia meramu sihir hitam, tawanya menggelegar seperti orang gila.


“Apakah tuan berada di ruangan ini atas persetujuan Adipati?”


“Apa hak mu bertanya begitu? Aku keponakan paman Sadewa. Aku berhak melakukan apapun di rumah ini.”


“Tuan, saya hanya menjalankan tugas. Tuan harus menghormati Adipati jika tuan menganggapnya sebagai paman.”


Surya melotot, dia tidak terima di tegur Dom. Mengangkat pedang menyerang sekaligus mencoba racikan sihir yang dia ramu. Keributan itu memporak porandakan kediaman. Si mbok keluar membuka botol sihir milik Sadewa, dia mengusir Surya. Membungkus kediaman, bola kaca bening menutup menyelimuti sekuruh rumah. Surya mengetuk kaca, si mbok tidak memperdulikan panggilannya.


“Bocah durhaka, paman mu sudah bersusah payah membesarkan mu. Lihat setelah engkau dewasa, watak buruk mu sama seperti ayah mu Adika” umpat si mbok.


Menduduki tahta sebagai raja jin, tepat di hari ini dia berpakaian mengikuti gaya di negeri itu. Sadewa risih sesekali melihat pakaian aneh yang dia kenakan. Di sampingnya ada ratu Winan, dia menggendong Langit peonix melebarkan senyuman menatapnya.


“Rasa-rasanya aku memiliki keluarga yang lengkap, ada suami dan anak yang aku miliki meski nyatanya dia bukanlah anak kandung ku” gumam sang ratu.


Penobatan bayi Langit sebagai putra mahkota mengejutkan para Tangkla. Salah satu Tangkla menolak keras, jin air menentang sehingga sang ratu mengeluarkan libasan cemeti. Sadewa berdiri menahan tangan sang ratu. Dia meminta ijin padanya untuk menyampaikan suaranya.


“Terimakasih pada para Tangkla yang menyutujui keputusan ratu Gurun. Bagi yang menolak, silahkan beri pendapat, petisan serta misi yang baik setelah penolakan tersebut. Mari kita putuskan secara bersama-sama.”


Raja yang baru menyuarakan pendapatnya itu banyak Tangkla yang setuju bahkan hampir semuanya berdiri memberi hormat. Sang ratu menyimpan semua senjata pemukul para Tangkla yang biasa di gunakan untuk mencambuk, ular-ular yang hampir mengisap darah jin air.

__ADS_1


“Atas kebaikan dari yang mulia, saya selaku juru bicara raja menyampaikan petisan para tangkla. Benar adanya, putra mahkota yang di tunjuk belum cukup memenuhi persyaratan sebagai calon penerus negeri” ucap juru bicara raja jin.


Selayang Tokrat menyuarakan pendapat dari gulungan, petisan serta isi jubir istana.


"Pada waktu yang di tentukan, sesuai peraturan gurun dari zaman ke zaman, putra mahkota negeri gurun bisa di tetapkan setelah menginjak usia tujuh belas tahun. Putra mahkota selanjutnya juga harus di tempeh sesuai para Tangkla pelajar, menguasai sebuah ilmu sakit yang bisa melindung negaranya.”


Belum sempat tangkla Selayang tokrat melayangkan petisan berikutnya, ratu gurun di buru emosi melibas punggungnya. Suara cambuk terdengar keras, tangkla itu sedikit lagi akan di lilit ular, Sadewa menghentikan. Kali ini dia menolak keras perbuatannya.


“Mohon sang ratu meredam amarah. Hamba tau maksud dari para tangkla dan juru bicara Selayang Trokat sangatlah baik.”


“Te_terimakasih yang mulia. Uhuk!”


Ratu Gurun melotot, dia menandai siapa-siapa saja yang mulai berani membangkang. Bayi langit tampak tenang di dalam buaiannya. Sang ratu teramaat menyayangi Langit, dia menyediakan dia dayang, dua penjaga dan satu pengawal yang selalu berjaga di dalamnya. Persiapan di sambung pembatas kekuatan pelindung pada langit.


“Ratu, engkau terlalu berlebihan memperlakukan langit.”


“Langit adalah anak ku, anak pertama yang sudah aku tetapkan sebagai putra mahkota.”


Di dalam benak ratu gurun, mempunyai anak dari raja gurun adalah sebuah hal yang tidak mungkin terjadi. Ratu menyadari kehadiran sang raja yang semula di tentang mulai di dengar mereka. Hanya saja dia menyesali tangkla yang melawannya. Kehadiran sang raja membuat peraturan kendor.


Di sebuah rapat tertutup, tangkla air dan lainnya bersembunyi membicarakan kehendak ratu yang terlalu berlebihan. Seluas mata jin itu memandang, tangkla air sangatlah tidak menyukai kehadiran sang raja di tambah anak bumi manusia yang di bawanya.

__ADS_1


“Aku berharap kaliam di dalam ruang ,lingkup ku. Kita harus segera menggeser kedudukan raja Sadewa. Tidak sepantasnya seorang manusia memimpin di satu negeri jin yang terkuat memiliki harta berlimpah ruah. Bukan kah manusia itu bersifat serakah dan tamak?”


“Engkau ada benarnya tangkla air. Tepat di pertengahan malam, utus salah satu jin bayaran agar menyerang menggunakan kekuatan gurun pasir. Raja yang kuat pasti bisa menepis serangan itu dengan satu sapuan tangan. Aku berharap ratu gurun kembali bertahta”


“Ya kakak tangkla api benar. Saran ku, raja manusia itu juga harus di serang dari dua arah berlawanan. Jin api dan jin pasir kita beri kekuasaan membunuhnya. Manusia itu pasti akan kalah” ucap tangkla air.


Ternyata di balik perkumpulan tangkla ada juga perkumpulan abdi dalem lainnya yang menginginkan sang ratu menjabat sebagai ratu gurun pasir. Seperti di pergantian masehi yang sudah terlewati negeri gurun lebih Berjaya, para tangkla yang patuh dan kebebasan para jin dan iblis menangkap, membelunggu manusia masuk ke dimensi ghaib tanpa harus mengembalikannya.


“Sekarang kita sangat jarang mencicipi darah manusia” Tangka api mendengus kesal.


“Kita serang bayi itu. Aku merasa di rendahkan harus bertekuk lutut di bawah pimpinan manusia!”


Perkumpulan tangkla api, seolah nanti malam akan menjadi penyerangan besar-besaran. Tangkla angin mendengar kabar pemberontakan berselubung tentara jin bayaran. Dia berterimakasih pada salah satu anggota tangkla api yang memberitahu rencana ketua tangkla api padanya.


“Hal ini tidak bisa di biarkan, raja dan bayi itu tidak lah bersalah. Ratu sudah menjadikannya seorang pendamping maka kita harus mematuhi keputusannya. Para tangkla penentang itu harus di beri pelajaran!”


“Jangan kakak, kalau kita memperlihatkan langsung rasa tidak suka atas sikap mereka maka kita tidak bisa ikut masuk di dalam rapat tertutup setiap tangkla pembangkang”


“Ya engkau benar Ruti, aku selaku tangkla angin berada di garis depan membela sang ratu”


Mahmeru mengutus Gendan menyembunyikan identitas menyamar menjadi jin biasa mengawal di area ruangan langit peonix. Sinyal angin berbisik, menandakan kedatangan tangkla api mendekat. Tak gencar Gendan memadamkan api yang merambat menembus dinding pembatas ruangan itu. Para tangkla pengawal dua penjaga handal menyerang ratusan pasukan api tanpa wujud itu sehingga tidak bisa melindungi sang bayi. Gendan menggulung angin, api-api yang menyembur di atasnya langsung padam.

__ADS_1


__ADS_2