
“Sekarang kembali ke asal mu. Aku tidak mau kau berbuat onar.”
“Kenapa engkau kasar sekali pengawal? Aku tidak membawa senjata, apakah engkau masih menuduh ku?”
“Lantas, apa tujuan mu?”
“Aku hanya di perintahkan sang ratu mencari kabar kehamilan ratu Winan.”
“Apakah engkau yakin dia ratu peri yang asli?”
“Apa maksud mu pengawal? Aku tau engkau bermaksud meracuni ku agar menentangnya!”
“Hahah, apa untungnya bagi ku? Setelah menyelamatkan mu keluar dari negeri ini. Bukan berarti kau tidak akan menceritakan padanya siapa sosok jin di belakang mu yang membantu mu.”
Kabar miring yang di yakini ratu peri ternyata sebuah kebenaran yang mengguncang hatinya. Winan mengandung anak sang raja gurun. Selesai menjalankan tugas, sang dayang utama meminta ijin untuk pergi. Pikirannya berputar mengingat kembali perjalanannya. Serbuk terakhir dia berikan pada Taga karena dia membantu keluar dari gerbang istana. Terlepas dari pelacakan data dan segala hal terperinci, Taga mengawal dia keluar gerbang. Tidak ada satu prajurit yang berani menentang.
Mengingat nasehat kalau sang ratu peri bukanlah peri pemimpin yang sebenarnya. Sesuai arahan sang pengawal, melihat siapa sebenarnya sang ratu melalui bayangan air saat dia berdiri di bawah sinar rembulan.
Dayang utama menyaksikan sendiri bayangan sosok lain di atas air itu. Sang dayang menjatuhkan gelas, sang ratu menoleh melihat dia ketakutan mempercepat langkah meninggalkan altar. Kebenaran perkataan Taga membuat dia berpikir siapa sosok di balik tubuh sang ratu.
“Bagaimana aku membuktikannya?”
Selama ini Altar kolam keabadian menjadi saksi bisu siapa sosok yang bersembunyi itu. Dia kembali membawakan secangkir minuman. Tangan sang dayang gemetar, dia mendorong sang ratu masuk ke dalam kolam. Berpikir ratu itu berubah wujud malah mencekik lehernya sangat keras.
“Apa yang kau pikirkan? Kolam keabadian ini hanya berguna bagi para peri” bisiknya.
Tubuh sang dayang terangkat, pertolongan muncul menyelamatkannya. Sosok jin yang memakai jubah menggunakan pedang di selimuti sihir. Serbuk terakhir dari sang dayang di gunakan untuk mengeluarkan mereka dari negeri peri.
“Pengawal! Dimana kalian!” bentak sang ratu.
__ADS_1
“Menghadap ratu, hamba baru saja selesai berpatroli istana.”
“Cepat cari penyusup yang membawa dayang utama pergi!”
Taga membawanya ke kediaman tabib Sicin. Mereka berunding di suatu ruangan kosong. Dia tidak mau mendapat masalah lagi, baru saja dia terbebas dari masa hukuman perasingan ratusan tahun. MAsalah baru hadir tepat di depannya sosok peri bersayap.
“Apakah engkau mau membunuh ku pengawal Taga? Aku rasa isi kepala mu itu sekarang mementingkan wanita dari pada keselamatan sahabat mu sendiri.”
“Tuan, tolong lah aku. Aku di kejar sang ratu peri” sang dayang utama bersujud.
“Bantu lah dia Sicin, aku yang akan menggantikan posisi hukuman mu di depan sang raja.”
“Bagaimana kau bisa hidup dua kali setelah di penggal lalu menggantikan posisi ku untuk di penggal? Cepat bawa peri ini pergi sebelum penjaga datang melihatnya”
“Ku mohon bantu lah aku. Hiks”
Sang tabib iba dengan peri malang itu. Dia meramu bahan-bahan yang dia campur di dalam rebusan. Bara api di perapian membakar wadah yang terbuat dari tanah liat isi. Air mengepul, bahan ramuan itu di campur mantra sihir. Aroma tidak sedang menusuk hidung. Sang tabib menaburi kelopak bunga hinga memenuhi permukaan air. Dia menyuruh sang peri meminumnya.
“Minuman panas ini akan membakar lidah ku. Serbuk bunga di atasnya akan melemahkan sayap ku” sang peri menolak dengan memalingkan wajah.
“Yasudah, kalau begitu kau angkat kaki dari kediaman ku.”
“Kau jangan keras kepala dayang utama. Kau harus memutuskan memilih tinggal di negeri gurun atau peri” ucap Taga.
Negara peri tanah kelahiran, disana dia tumbuh bersama bunga-bunga indah dan mengepakkan sayap membentang di atas padang bunga yang menawan. Dayang utama itu menangis, pilihan yang sangat lah berat baginya. Tapi, kembali ke istana peri sama saja mengantarkan nyawanya. Mau atau tidak, dia harus menelan ramuan itu. Sang peri meneguk, melawan rasa panas membakar lidahnya. Di tetesan terakhir dia terjatuh merasakan perubahan di dalam tubuhnya. Dia tidak bisa menggerakkan tangannya. Taga membantunya duduk, tapi kakinya sangat sulit di tegakkan.
“Kini aku menawarkan pilihan kedua. Keputusan pertama mu memilih tinggal di negeri gurun maka engkau harus merubah wujud mirip jin gurun. Kau harus rela kehilangan sayap mu.”
“Sayap ini sudah menyatu di tubuh ku, bagaimana bisa aku menghilangkannya?”
__ADS_1
“Taga akan memotongnya__”
Pedang yang tajam dia keluarkan dari penutupnya. Sebelumnya sang peri meminta supaya Sicin membuat dia pingsan. “Kau harus menahan rasa sakit itu secara waras. Jika engkau tidak merasakan sakit maka saat engkau terbangun nanti ramuan pembuat kehilangan kesadaran akan membuat sakit dua kali. Apakah engkau siap?”
Sang peri dayang menggelengkan kepala, dia menggigit ujung kain jubahnya. Taga mengangkat pedang, dia mengeluarkan seluruh kekuatannya membelah kedua sayap peri dayang utama. Suara teriakan kesakitan, para penjaga menggedor pintu bertanya keadaan sang tabib.
“Kalian pergi lah, aku sedang mengobati pasien yang terluka parah” ucap sang tabib.
“Tapi tuan, mengapa engkau mengunci ruangan mu?”
“Apakah kau mau membantuku mengobati atau melihat bentuk tubuh jin wanita yang terluka ini?”
Tangis sang dayang utama di tahan. Ingin rasanya dia berteriak tidak kuat menahan rasa sakit bagai tusukan pedang yang menghunus berulang-ulang. Darah segar bercucuran dari pundaknya. Seluruh ubin di kediaman sang tabib di genangi darah. Para penjaga dan dayang terkejut melihat tumpahan darah yang berasal dari ruangan sang tabib.
Tok, tok,tok (Suara ketukan pintu)
“Maaf tuan, apakah tuan baik-baik saja?” tanya sang penjaga kedua kalinya.
“Ya, jangan ganggu aku. Cepat panggil para dayang untuk membersihkan seluruh lantai.”
Darah yang di peras ke dalam ember berbau amis namun memancarkan kilauan cahaya yang terang. Para dayang membersihkan lantai tapi darah semakin banyak mengalir deras.
“Darah jin apa yang membanjiri kediaman ini?” bisik salah satu dayang jin.
“Ini bukan darah biasa, ada cahaya di dalamnya.”
Sang tabib menyiram tubuh dayang peri utama. Ramuan penghenti luka, rasa sakit menyerang. Tubuh bagai di kuliti dengan pedang yang sangat tajam. Wajah sang peri pucat, keringat bercucuran di dahi. Dia berbaring kaku. Sang tabib dan Taga membaringkannya di atas tempat tidur yang terbuat dari bambu.
“Dia akan mengalami demam selama satu bulan. Semoga dia bisa melawan rasa sakit itu” ucap sang tabib.
__ADS_1
Sayap sang peri juga di siram ramuan. Taga menguburkannya di kaki perbukitan. Ruti melihat dia membawa sepasang sayap yang bercahaya. Dia membongkar galian menemukan sayap peri yang berlumuran darah.