Pendekar Sadewa

Pendekar Sadewa
Bab 21


__ADS_3

Manusia tengkorak murka akan kekalahannya. Dia tidak menyangka kekuatan Sadewa dapat melawan tongkatnya yang sakti. Luka dalamnya kali ini sangat parah hingga dia sulit bernafas. Dia adalah salah satu pondasi tiang penjaga Sarang laba. Nyi merah kewalahan mentransfer tenaga dalam untuknya. Dia tidak bisa memberikan semua energinya itu. Kekuatan pada tongkat manusia merah akan ikut menyerap paksa apapun kekuatan yang ada di dalamnya.


“Manusia tengkorak, entah mengapa aku mempunyai firasat buruk tentang para prajurit Ronggo jagad. Salah satu prajurit melihat mereka seperti sedang memata-matai bekas jajahan di bagian barat."


“Wajar saja, bekas benteng terkuat kedua yang di pimpin oleh pangeran Angka memiliki ilmu pembangkit raga sukma. Pasti ada prajurit yang tidak terlihat berkeliaran yang siap hadir memenuhi panggilannya."


“Suatu saat aku akan merebut senjata dan sihir Sadewa” ucap si manusia tengkorak yang penuh amarah kemudian melanjutkan pengobatannya.


Sang raja Diraga membelalak membuka mata. Dia habis bermimpi mengerikan bermandikan keringat, teriakannya itu membangunkan ratu Lani dari tidurnya. Melihat raut wajah suaminya yang gusar berpeluh keringat, sang ratu menyeka wajahnya dengan selimut.


“Ada apa kakanda? Mimpi apa yang engkau alami sehingga wajah mu sangat ketakutan?”


“Aku___ aku adalah raja yang tidak takut oleh apapun. Aku hanya terkejut bermimpi istana kita masuk ke dalam tanah yang terbelah dua” ucap sang raja.


“Hanya pewaris Gupta yang mempunyai ilmu sihir lenggo geni. Empat elemen yang tidak bisa sembarangan digunakan. Dia tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu. Sadewa terkenal sebagai pendekar yang baik. Tapi, jika engkau terus menerus mengusik ketenangan keluarga bahkan tanah Kartanegara. Hal ini tidak mungkin menutup kemungkinan besar dia akan mengambil hak nya kembali”


“Aku akan terus menghabisi Kartanegara sampai ke akar-akarnya.”


“Kanda! Aku tidak kuat lagi harus melihat peperangan! Sejujurnya beberapa hari yang lalu aku juga bermimpi buruk mengenai kerajaan kita. Leluhur Sarang laba telah meninggalkan tanahnya, Kakang! Gempa bumi dan kehancuran negeri ini. Hiks."

__ADS_1


“Simpan air mata yang perlu keluar itu. Aku akan tetap mempertahankan Sarang laba sampai titik darah penghabisan.”


“Tapi, aku tidak kuat menahan semuanya. Rintihan tangis para rakyat tidak berdosa akibat menanggung peperangan ini. Kakanda harus ingat dosa mengkhianati Namrut setelah semua bantuan mereka pada Sarang laba.”


Ratu Lani tidak memikirkan mengapa bantuan datang beruntun. Para selir sang raja yang mendapatkan pembagian harta kerajaandan batas wilayah semakin di perluas. Pada hari ini sang raja berkumpul di aula istana membahas penyerangan Ronggo jagad. Tanpa mereka sangka laporan salah satu sang pengawal memberitakan pasukan kuda negeri naga menuju ke perbatasan. Mata sang raja menyala, dia sangat marah mendengar kabar tersebut.


“Kurang ajar! Kerah kan semua pasukan! Hidup dan mati, kita harus mempertahankan wilayah ini!”


“Baik yang mulia__"


Seluruh parjurit, para utusan ninja misterius, manusia kerdil sekte hitam dan rakyat bersatu mengitari wilayah Sarang laba.


Strategi peperangan yang di susun di dalam barak tenda simbol raja. Adipati Yetno, para pangeran dengan perangkat penting utusan negeri naga berkumpul di barak tenda. Kapal perang melaju dari arah timur, pasukan Ronggo jagad menyerbu dari barat dan lainnya menyerbu dari arah selatan, tenggara dan utara. Jalur yang paling lambat dan penuh rintangan adalah jalur air. Tidak menutup kemungkinan para pasukan harus melewati air ombak yang pasang surut dan angin laut di tengah cuaca ekstrim.


“Kita harus tetap waspada mengingat watak dan sifat wilayah asing ini. Mengantisipasi penyerangan mendadak maka para pengawal harus di perintahkan bergiliran berjaga bagian depan, belakang, sisi kanan hingga sisi kiri” ucap pengawal inti.


“Saya setuju dengan pendapat Bega. Kira-kira titik pertemuan kita berselang satu atau dua hari” kata sang Adipati Yetno.


“Adipati, kami akan selalu siap sedia. Kapan pun hari pertemuan itu di tetapkan. Beberapa prajurit akan memberikan sinyal di setiap titik sehingga akan tepat sasaran” Sang panglima perang Lei menjelaskan.

__ADS_1


Bergerak menyerang Sarang laba, perang badar mengambil kembali tanah Kartanegara yang di rampas. Sebelum pergi, Prames wangi mengantar sang Adipati di depan gerbang Ronggo jagad. Kali ini hatinya tidak segusar saat di pertempuran era dahulu. Kali ini dia memimpikan sang Adipati memenangkan pertempuran.


Sementara di sisi lain sang ibu negeri Sarang laba menangis di depan pura. Dia memohon ampunan pada sang dewa. Di tangannya sudah ada pisau yang sangat tajam. Hari ini adalah sari terkahir dimana dia mendengar suara jeritan dan tangisan para rakyat yang selalu terngiang di kepalanya. Sang ratu mengayunkan tangan menancapkan pisau tepat di jantungnya.


Gerbang utama kerajaan di tutup, setengah pasukan Ronggo jagad berada di dalam. Para pasukan naga dan sisa pasukan raja Alas Dayan berada di luar. Dari atas benteng mereka di serbu serangan anak panah berselimut sihir hitam. Sang pasukan naga membentuk simpul tameng besil bersatu mendorong pintu menggunakan batang pohon dan tombak yang besar. Pintu itu tidak terbuka, di dalam pasukan hampir di tebas habis oleh para abdi dalem dan pasukan inti Sarang laba.


Sadewa menggunakan senjata pamungkas peonix menghancurkan pintu raksasa yang sangat kokoh. Kekuatannya yang sangat besar sampai ledakan menggetarkan tanah tempat mereka berpijak. Pintu itu terbuka,para pasukan naga dan Ronggo jagad masuk menyerbu Sarang laba.


“Arghh…!”


Tepat di tengah perang badar besar yang hampir meratakan pasukan Sarang laba, sang ratu pergi selamanya. Sepasang matanya masih menyala, para abdi dalem dan dayang terkejut melihat kematiannya sangat histeris hingga menemui sang raja di tengah peperangan.


“Yang mulia, ratu meninggal..”


Mendengar perkataan dari salah satu abdi dalem, raja Diraga meninggalkan pertempuran. Di amasuk ke dalam istana.


“Ayahanda!” teriak pangeran Gani.


Merasa kerajaan itu akan runtuh bahkan mengalami kekalahan. Dia berjalan mundur meninggalkan medan perang. Melihat sang senopati melarikan diri, pangeran Wicak memerintahkan pangeran Wicak untuk mengejarnya sementara pangeran Angka dan Sadewa masuk ke dalam istana.

__ADS_1


“Menyerahlah raja Diraga, engkau telah kalah dalam peperangan ini. Jika engkau menyerahkan diri secara terhormat maka rakyat akan mengenang mu sebagai raja yang bijaksana. Tapi jika engkau memberontak maka aku terpaksa menangkap mu dengan cara yang kasar” kata pangeran Angka.


Dia menyatukan tangan bersiap menggunakan ilmu pembangkit raga sukma. Sang raja Diraga menahan amarahnya, dia menoleh lagi melihat jasad ratu Lani yang terbujur kaku. Dia harus mengubur jasad istrinya dengan layak. Sang raja mengangkat tangan ke atas, pangeran Angka mengikat tangannya dengan kain putih. Lambang kekalahan dan penyerahan tanah kekuasaannya.


__ADS_2