Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 100


__ADS_3

Daniel pun mengalah dan membiarkan Selly untuk ikut bersamanya. Mobil berjalan dan pasangan itu pun mulai menikmati perjalanan mereka. Dania yang tadinya tampak manis dan menggemaskan sama seperti biasanya, tiba-tiba kembali judes dan marah-marah tidak jelas.


"Selly, tidak bisakah kamu berhenti manggut-manggut seperti itu. Ah, aku tidak suka melihatnya!" kesal Dania sambil melotot kepada Selly yang sejak tadi mendengarkan musik dari ponselnya melalui headset.


Selly membulatkan matanya. Ini pertama kalinya ia melihat sosok Dania marah-marah seperti itu. "Kamu kenapa, Dania? Apa ada kabel yang putus di kepalamu?"


Daniel terkekeh pelan. Akhirnya Selly pun kena imbasnya.


"Hush! Mas jangan ketawa! Aku tidak suka! Kalian benar-benar menyebalkan." Dania menekuk wajahnya sambil menyilangkan tangan ke dada.


Selly tergelak karena si Tuan Pemarah pun kena marah juga dari wanita itu. "Rasakan kamu, Kak!"


"Sepertinya Selly benar. Ada sesuatu yang tidak beres di kepala istriku ini. Sini, coba aku lihat! Siapa tahu ada paku yang nancep!" Daniel meraih kepala Dania kemudian memeriksanya.


Hal itu membuat Dania semakin kesal. "Ish, Mas Daniel apaan, sih! Memangnya aku nyai kunti."


"Beneran loh, Sell. Hari ini Dania bawaannya marah melulu. Tidak jelas apa salahku, tapi yang pasti aku selalu salah di matanya!" tutur Daniel dengan alis berkerut.


"Habisnya wajah-wajah kalian terlihat sangat menyebalkan hari ini!" kesal Dania.


Daniel dan Selly saling tatap sejenak kemudian kembali ke posisi mereka tanpa berani berkata-kata lagi. Takut wanita itu semakin kesal kepada mereka.

__ADS_1


Untuk beberapa saat suasana di mobil tersebut terdengar aman dan tenang. Tidak ada suara omelan dari Dania. Daniel dan Selly pun tampak senang. Namun, beberapa menit berikutnya, omelan itu keluar lagi dari mulut Dania dan yang menjadi sasaran omelannya adalah Pak Sopir.


"Pak, kenapa jalannya lambat sekali! Masa sampai sekarang masih belum nyampe juga! Kayak keong!"


Daniel menepuk pundak Pak Sopir dengan lembut. "Yang sabar ya, Pak. Mungkin Istriku sedang masa PMS."


Pak Sopir tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya kepada Daniel tanpa berpaling sedikit pun karena kondisi jalanan yang mereka lalui saat itu padat merayap.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di Mall terbesar yang ada di kota mereka. Dania yang tadinya mengeluh sakit kaki, setelah menginjakkan kakinya di sana, mendadak baik-baik saja. Ia bahkan tampak begitu bersemangat menjelajahi tempat itu.


Namun, sayangnya mulut wanita itu masih saja suka mengomel tidak jelas. Pokoknya apa yang menurut Dania tidak sesuai dengan yang ada di dalam pikirannya, maka ia pun akan mengeluarkan unek-uneknya.


"Lihatlah pakaian ini. Kenapa modelnya aneh begini? Apa yang lihat tidak akan sakit mata? Aku aja kesal lihatnya."


"Iya, aku juga bingung. Biasanya 'kan ya, Dania itu tenang, damai, dan selalu ceria. Tapi kenapa kali ini terlihat sangar dan menakutkan seperti itu? Bahkan jauh lebih menakutkan darimu, Kak Daniel!" sahut Selly, dengan setengah berbisik pula.


"Kan?!" timpal Daniel.


Dania yang berjalan tepat di depan mereka, berbalik dan melirik Daniel dan Selly yang tengah asik membicarakan tentang keanehannya hari ini. "Kalian membicarakan aku, ya?"


"Eh, siapa? Kami?! Mana berani, benar 'kan, Sell?!" sahut Daniel sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


"Benarkah itu, Selly?" Dania mencoba meyakinkan.


Selly mengangguk cepat. "Ya! Mana berani kami membicarakan dirimu," jawabnya.


"Lalu apa yang sedang kalian bicarakan?" Dania mengerutkan alisnya.


"Ehm, ini ... soal apa tadi, Kak?" Selly tampak bingung.


"Soal pengamanan di Mall ini, Sayang. Aku rasa di sini keamanannya cukup bagus," jawab Daniel.


Dania pun mengangguk pelan kemudian melanjutkan langkahnya.


"Ah, selamat!" seru Selly sambil mengelus dada.


"Menurutmu apa yang membuat Dania menjadi seperti itu? Ini pertama kalinya ia terlihat begitu menyebalkan, Sell. Jujur, aku pun kesal melihatnya. Sayang, aku sudah terlanjur cinta dan aku tidak berdaya melawannya," tutur Daniel.


Selly terkekeh pelan sambil menutup mulutnya.


"Mungkin dia hamil," celetuk Selly tanpa sengaja.


"Hamil!?" pekik Daniel dan Selly secara bersamaan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2