
Di saat kedua gadis itu tengah asik berbincang, tiba-tiba pintu kamar Selly di ketuk dari luar dan terdengar suara Daniel memanggil namanya.
"Selly, ini aku! Boleh aku masuk?" tanya Daniel.
"Ah, itu Kak Daniel!" Selly panik. "Jangan bicarakan masalah itu lagi kalau tidak ingin emosinya kembali meledak-ledak. Ia paling tidak suka jika ada yang membicarakan masalah ini," lanjut Selly sambil meletakkan jari telunjuknya di depan wajahnya.
Dania mengangguk pelan. "Baiklah."
Selly pun segera berlari kecil menuju pintu kamarnya. Setelah ia membuka pintu tersebut, tampaklah Daniel yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah datar. Sama seperti biasanya.
"Kak Daniel," sapa Selly.
"Mana Dania? Ini sudah waktunya tidur," sahut Daniel sembari memperlihatkan jam tangan mewah yang masih melingkar di pergelangan tangannya.
"Ada, Kak. Di dalam!" Selly menoleh ke arah Dania kemudian meminta gadis itu untuk kembali ke kamar utama. "Dania, Kak Daniel mengajakmu kembali ke kamar," lanjut Selly.
Dania pun menurut saja. Ia bergegas bangkit kemudian berjalan menghampiri kedua orang tersebut. Dengan menggunakan isyarat tangan, Daniel meminta istrinya itu untuk kembali ke kamar mereka terlebih dahulu.
"Kenapa aku harus kembali ke kamar sendirian?" protes Dania.
"Ada yang ingin aku bicarakan kepada Selly, dan ini sangat penting," jawab Daniel. Masih dengan ekspresi datar menatap Dania.
Dania tampak kesal. Ia menekuk wajahnya kemudian melangkah gontai meninggalkan ruangan itu menuju kamar utama.
Sepeninggal Dania.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa sih, Kak?" tanya Selly.
"Begini, besok aku ada jadwal meeting dan harus berangkat pagi-pagi sekali. Aku tidak bisa menemani Dania berangkat ke tempatnya mengajar. Jadi, aku butuh bantuanmu, Selly," tutur Daniel.
"Bantuan apa? Jangan minta aku melakukan tugas yang aneh-aneh, ya! Aku tidak mau!" tegas Selly.
"Yang memintamu melakukan tugas-tugas aneh siapa, ha? Dasar! Aku itu ingin kamu menemani Dania besok pagi ke yayasan tempatnya mengajar. Aku tidak ingin dia di sana sendirian. Kamu tahu kenapa?"
"Kenapa?" tanya Selly sambil menautkan kedua alisnya.
"Erick, lelaki pendiri yayasan itu begitu mencintai Dania dan aku tidak ingin dia memiliki kesempatan untukmu mendekati Dania sedikitpun," ucap Daniel.
"Erick?" Selly kembali teringat akan laki-laki yang menolongnya tadi siang. "Oh, jadi Kak Daniel ingin aku menjadi mata-mata untuk Dania, begitu?"
"Bukan mata-mata, tapi lebih tepatnya menjadi pengawal pribadi Dania. Aku ingin kamu pastikan bahwa Erick tidak akan menggangu dan mencoba mendekati istriku," tegas Daniel kemudian.
Daniel mencebikkan bibirnya. "Baiklah kalau itu maumu. Itu artinya aku akan segera menghubungi Om dan Tante biar secepatnya mereka menjemputmu," sahut Daniel sembari melangkah pergi.
"Apa?! Ah, baiklah-baiklah! Tunggu, Kak Daniel! Baiklah, aku setuju! Aku bersedia menjadi pengawal pribadi Dania besok hari dan aku pastikan laki-laki yang bernama Erick tersebut tidak akan bisa mendekati istrimu!" Selly berlari kecil dan mengikuti Daniel dari belakang.
Daniel tersenyum puas. Lelaki itu segera menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Selly. "Begitu donk! Jadilah Adik yang baik," ucap Daniel sembari mengacak pelan puncak kepala gadis itu.
Selly cemberut. Sebenarnya ia terpaksa melakukan tugas itu karena takut akan ancaman Daniel. Ia tidak ingin kembali ke kediamannya dengan cepat karena ia masih ingin tinggal di sini dan menemani Dania.
"Sebenarnya Kak Daniel bisa mengutus salah satu Bodyguard Kakak untuk mengawasi Dania. Kenapa Kakak tidak melakukannya?" tanya Selly kemudian.
__ADS_1
"Ya, kamu memang benar, tapi apa itu tidak terlalu lebay?"
"Ya, tidaklah, Kak! Kak Daniel 'kan suaminya," sahut Selly menegaskan.
"Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi."
Setelah mengucapkan hal itu, Daniel pun kembali melanjutkan langkahnya ke kamar utama. Sementara Selly memilih kembali ke kamarnya kemudian beristirahat. Setibanya di kamarnya, Daniel pun segera masuk.
Ia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Dania di manapun. "Di mana Dania?" gumam Daniel sembari melepaskan pakaiannya. Setelah kemeja serta celananya terlepas, Daniel segera menggantinya dengan piyama tidur.
Baru saja ia selesai mengenakan piyama tidurnya, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan tampaklah Dania yang kini tersenyum menatap Daniel. Daniel membulatkan matanya ketika melihat penampilan Dania yang begitu menggoda. Dengan lingerie transparan yang ia kenakan saat ini, membuat hasrat Daniel sebagai laki-laki kembali bangkit.
"Ya, Tuhan! Kamu mencoba menggodaku, ya?!" pekik Daniel dengan mata membulat. Jakun lelaki itu kembali turun naik melihat tubuh seksi Dania yang terekspos sempurna.
"Lah, bukankah Mas Daniel sendiri yang minta aku untuk mengenakan pakaian seksi ini? Kemarin-kemarin aku dimarahi karena mengenakan daster kesayanganku," lirih Dania.
"Ya, aku memang tidak ingin melihatmu mengenakan daster itu lagi. Tapi ... ah, sudahlah!" Daniel meraih selimutnya kemudian membawanya kepada Dania.
Dania tampak bingung untuk apa sebenarnya selimut itu. "Loh, untuk apa selimut ini, Mas?"
"Untuk menutupi tubuhmu agar tidak terus menggodaku!" jawab Daniel sembari melilitkan selimut tersebut ke tubuh Dania.
Dania berteriak histeris. Ia tidak terima tubuhnya di lilit dengan selimut oleh suami jahilnya itu. Dan sekarang tubuh Dania bak kupu-kupu dalam kepompong, tinggal kepala yang menyembul keluar dari selimut tersebut.
"Ya, Tuhan! Mas Daniel, lepaskan aku! Aku tidak bisa bergerak," protes Dania.
__ADS_1
"Lebih baik aku melihatmu seperti itu dari pada juniorku meronta-ronta melihat tubuhmu yang terus menggodaku," kesal Daniel sembari membopong tubuh Dania ke atas tempat tidur mereka.
...***...